
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya Salsa pun sampai dan beranjak memasuki rumah. Ternyata di sana hanya ada Zia bersama seorang wanita mungkin usianya lebih tua dari Salsa sepertinya ia seorang baby sister dilihat dari pakaiannya. Salsa pun menghampiri wanita itu yang sedang menemani Zia bermain.
"Maaf mbak siapa ya?"
"Eh non, perkenalkan saya Lisa, baby sister non Zia," sahutnya mengulurkan tangan lalu di raih oleh Salsa.
"Oh ya, kalau om sama tante kemana ya?"
"Oh itu, mereka sudah kembali ke luar negeri non, katanya ada urusan mendadak disana."
"Oh ya sudah," ucapnya cuek, sudah biasa om Haris dan tante Maria sering pergi tanpa memberitahu dulu.
Salsa pun menghampiri Zia yang tengah asyik memainkan boneka barbie.
"Zia sayang, sudah makan?"
"Sudah ateu, Zia sudah makan tadi disuapin sama bi Lisa," jawabnya sebari terus memainkan boneka barbie.
"Oh ya sudah, kalau begitu ateu ke atas dulu ya mandi. Zia gak boleh nakal ya,"
"Oke ateu,"
Salsa pun melihat ke arah bi Lisa, menganggukkan kepala sebari tersenyum dan berlalu menuju kamarnya.
Sungguh lelah hari ini, padahal ia belum bekerja tapi rasanya sudah sangat lelah mungkin karena kelamaan di dalam taksi.
Salsa pun merebahkan dirinya di atas ranjang yang cukup luas. Tak berapa lama terdengar dering ponsel Salsa. Sontak Salsa terkejut karena suaranya begitu nyaring. Ia segera mengambil ponselnya dilihatnya sebuah nama tertera di layar ponsel "Edgar kurus."
Seketika raut wajah lelah itu berubah dihiasi dengan senyum yang mengembang. Salsa menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang. Panggilan video call dari kekasihnya itu.
"Hallo honey,"
"Iya Ed, kamu kemana aja si? dari tadi aku telponin kok gak di angkat?" Sahutnya mendengus kesal.
"Maaf honey, aku seharian ini sibuk sekali. Belum lagi tadi pagi aku menghadapi ribuan karwayan."
"Memang kenapa sayang? Kamu meski terus bekerja harus tetap jaga kesehatan ya."
Edgar tersenyum," Iya bawel, tidak apa-apa hanya sedikit ada masalah aja sayang. Honey mengapa kamu memakai pakaian seperti itu? Apa kamu ingin bekerja?"
"Syukurlah sayang, aku tadi khawatir banget sama kamu. Seharian ini kamu kan gak ngabarin aku," sahutnya dengan wajah cemberut.
"Aku tidak apa-apa kok honey, aku baik-baik saja. Hey jawab dulu padaku, kenapa kamu berpakaian seperti itu?"
"Ah ini ya, Aku habis ngelamar pekerjaan sayang,"
"Tapi kamu cantik honey, lain kali jangan berdandan seperti itu. Aku gak mau kamu dipandangin cowok lain!"
"Hey tuan muda Edgar Atmaja, apa kamu sedang cemburu?"
"Menurut kamu? Apa aku terlihat cemburu honey?"
"Iya karena kelihatan banget," sahutnya sebari menjulurkan lidah.
"Wah, honey kamu jangan menggodaku,"
"Eh siapa juga yang menggodamu, dasar me*um!"
"Awas kau honey, akan ku balas!"
"Gak takut wleee..." ledeknya.
"Honey sudah dulu ya nanti aku sambung lagi. Aku ada rapat sore ini, mungkin aku pulang malam jadi jangan khawatir memikirkanku ya,"
"Baiklah sayang semangat bekerjanya."
Senyuman mengembang diraut wajah Edgar menunjukkan bahwa ia sangat bahagia. Sambungan video call pun terputus. Salsa meletakkan kembali ponselnya dan beranjak menuju kamar mandi.
***
Flasback beberapa jam yang lalu.
Pagi itu Edgar sudah sampai di perusahaan yang akan ia jalankan. Saat Edgar memasuki perusahaan banyak stap wanita yang berkerumun menyambut kedatangan Edgar Atmaja pewaris tunggal perusahaan ternama di Indonesia.
Mereka saling bergunjing karena direktur utama perusahaan ini jauh lebih muda dari perkiraannya. Seorang pria muda berwajah tampan, memiliki tubuh tinggi dan sispex. Idaman semua wanita.
Keamanan di perusahaan ini cukup ketat, banyak di jaga oleh ratusan anak buah Edgar. Edgar berjalan memasuki lift menuju lantai lima, saat pintu lift terbuka tampak seorang pria paruh baya sudah menunggunya di sana.
"Ternyata kamu sudah datang?"
"Iya yah," ucapannya terjeda, ia melirik sebuah jam yang melingkar di tangannya. " Maaf, aku sedikit telat,"
"Apa sedikit telat? Hey anakku, ingatlah seorang pemimpin tidak seharusnya telat ataupun korupsi waktu. Meski kamu anakku, tapi bersikaplah tunjukkan pada karyawan di perusahaan ini, bahwa kamu layak jadi seorang pemimpin di perusahaan ini."
"Bagus, ingat jangan ulangi apa yang dinilai salah. Sebelum kamu bekerja, ayah harus tau sejauh mana kemampuanmu. Maka dari itu kerjakan semua berkas ini,"
Seketika pandangan Edgar beralih pada tumpukan kertas yang menggunung.
"Sebanyak ini yah? Apa tidak salah?" Tanyanya mengernyitkan dahinya.
"Iya, memang itu yang harus kamu kerjakan. Ayah beri waktu satu hari, kamu harus bisa mengerjakannya dengan tepat."
Edgar menghela nafas, menggerutu dalam hati.
Siaall... gue kira kerja di perusahaan bokap sendiri gak sesusah ini. Ngapain juga bokap nyuruh gue ngisi semua berkas itu. Gumamnya dalam hati.
Edgar terus menggerutu dalam hati, memaki ayahnya sendiri. Ia berjalan ke arah tumpukan kertas itu lalu mengambilnya. Ia segera duduk dan mulai mengisi setiap kertas itu. Bahkan ia di awasi oleh seorang sekretaris kepercayaan pak Erwan.
Mungkin baru lima puluh lembar kertas yang sudah ia isi, tapi sepertinya masih ratusan lembar yang menumpuk di meja. Tak berapa lama perut Edgar mulai keroncongan. Ia sangat lapar lalu beranjak berdiri berniat ingin makan siang di restoran dekat perusahaan ini. Namun langkahnya terhenti saat tangannya di tahan oleh seseorang.
"Maaf tuan, anda tidak boleh pergi,"
Seketika Edgar membalikkan tubuhnya menatap tidak suka pada sekretaris itu.
"Memangnya kenapa? Lo mau gue kelaparan disini?"
"Maaf tuan jaga bicara anda, saat ini anda sedang berada di dalam perusahaan."
"Iya gue juga tahu itu tapi gue lapar, nanti kalau gue gak makan . Gue bisa pingsan gara-gara tumpukan kertas itu."
"Biar pelayan yang mengambilkan tuan, anda cukup selesaikan tugas dari pak Erwan."
Edgar pun mendengus kesal akhirnya dengan berat hati memaksakan langkahnya kembali duduk ke kursi itu dan mulai mengerjakan tumpukan kertas itu sebari terus menggerutu.
Sekretaris yang berada di sampingnya menahan tawa melihat raut wajah kesal yang terlihat jelas di wajah Edgar.
Hingga sore hari tiba, masih setengah kertas lagi yang belum di selesaikan. Edgar teringat seharian ini belum memberi kabar pada kekasihnya. Ia pun mengambil ponselnya dan lagi-lagi di tahan oleh sekretaris sialan itu.
Sampai akhirnya sekretaris itu membiarkan Edgar menelpon Salsa.
Flasback off
***
Setelah selesai mandi, Salsa menelpon kedua orang tuanya setelah sekian lama tidak memberi kabar kedua orang tuanya. Telpon pun tersambung.
"Hallo," suara bu Meila di sebrang sana.
"Iya hallo bu,"
"Salsa anakku, bagaimana kabarmu?ibu sangat merindukanmu, kenapa kamu tidak mengabari ibu?"
Pertanyaan bertubi-tubi terlontar dari ibu Meila. Seketika Salsa pun menitikkan air matanya, ia sangat merindukan ibunya.
"Maafkan Salsa bu, Salsa tidak bermaksud tidak memberi kabar sama ibu. Namun," seketika suaranya menggantung terdengar isak tangis.
"Ia ibu mengerti nak, tidak apa-apa. Yang terpenting kamu baik-baik di sana, jaga kesehatan, jangan lupa banyak makan."
"Iya bu terimakasih, Salsa sayang ibu."
"Nak, apa kamu sedang menangis?"
Seketika hening.
"Nak, kamu kenapa?"
"A-a-aku baik-baik saja bu. Ibu tidak usah khawatir."
"Syukurlah kalau begitu, ibu senang mendengarnya."
"Iya bu, bagaimana keadaan ayah?"
"Ayah kamu baik-baik saja nak, kamu tidak usah khawatir."
"Syukurlah bu, oh iya bu, aku di terima bekerja di perusahaan ternama di Indonesia. Ibu tahu kan perusahaan Astra Internasional?"
"Alhamdulillah syukurlah nak,ibu senang mendengarnya. Kamu harus semangat berkerja ya nak, ibu akan selalu mendukungmu."
"Iya bu, terimakasih. Kalau begitu sudah dulu ya aku mau ke Zia dulu."
"Iya nak, hati-hati di sana ya,"
"Iya bu."
Seketika telpon dimatikan dan Salsa berlalu menuju ruang tengah dimana Zia masih sedang asyik bermain bersama baby sisternya.