Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
Firasat


Semenjak kejadian siang tadi Edgar gelisah, bahkan ia merasakan sesuatu yang begitu membuatnya khawatir. Ia terus mencoba menghubungi Salsa, tapi nihil tidak ada jawaban sama sekali. Rasa khawatirnya semakin besar, ia berpikir sejenak.


Begitu pengec*t dan ba*ingannya gue dimata Salsa, sampai dia tidak mau berbicara sama gue lagi.


Tapi usaha Edgar tidak berhenti sampai di situ ia terus mencari tahu keadaan Salsa karena firasatnya menandakan bahwa terjadi sesuatu sama Salsa. Betapa percaya diri nya Edgar karena sekali pun Salsa marah dia pasti selalu mengangkat telpon dari Edgar.Tapi berbeda dengan kali ini.


***


Sampainya di rumah sakit pak Romi menggendong Salsa lalu ada seorang perawat yang menangani nya membawa Salsa menuju ruang UGD. Pak Romi menghela nafasnya berusaha menenangkan istrinya yang terus menangis histeris. Pak Romi tidak tinggal diam ia segera menanyakan kepada ketiga sahabat Salsa apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya. Pak Romi menelpon Hazrina.


Tut...tut...tut...


"*Hallo pak,"


"Iya hallo, maaf apa ini benar dengan nak Hazrina?"


"Iya pak, saya Hazrina. Ada apa ya pak?"


"Saya ayahnya Salsa, maaf nak bapak mau tanya apa nak Hazrina tahu apa yang terjadi dengan Salsa? Karena sewaktu pulang dari acara perpisahan, Salsa menangis."


"Tadi si Salsa baik-baik saja pak, kita sempat nangis itu juga karena ucapan perpisahan. Setelah itu Salsa pergi menemani Edgar ke acara perpisahannya. Emang kenapa pak?"


"Anak bapak sekarang ada di rumah sakit. Ya sudah kalau gitu terimakasih nak*."


Telpon seketika dimatikan. Pak Romi menggeram kesal "Jadi gara-gara pria itu, anakku jadi seperti ini," geram pak Romi dengan emosi bergemuruh membara.


Namun pak Romi tidak menjawab pertanyaan istrinya.Ia sudah dipenuhi dengan amarah yang membara, otot rahangnya mengeras.


***


Sementara Hazrina tampak khawatir setelah mendengar Salsa berada di rumah sakit. Ia segera menelpon Vini dan Lia untuk memberitahu keadaan Salsa. Setelah mereka tahu dan memutuskan untuk menuju rumah sakit melihat kondisi Salsa. Seketika ponsel Lia berdering ternyata panggilan masuk dari Edgar.


"Hallo Lia,"


"Kebetulan Edgar kamu nelpon, aku cuman mau kasih tahu kalau Salsa sekarang ada di rumah sakit."


Deg...Dan benar saja firasatnya tak pernah salah jika mengenai Salsa. Bagai ditusuk oleh ribuan pisau mendapat sebuah kabar buruk, ia menjatuhkan ponselnya, ia berlari mengambil kunci motor dan menuju garasi. Setelah itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.


***


Sampailah di sebuah rumah sakit, Edgar melihat ketiga sahabat Salsa yang baru sampai juga. Edgar langsung menyusul menghampiri mereka dan bergegas masuk. Dilihatnya di sana ada kedua orang tua Salsa dan Davin. Ketiga sahabatnya itu menghampiri ibu Salsa berusaha memberikan ketenangan pada bu Meila.


Sementara Pak Romi dengan raut wajah murka menghampiri Edgar dan Brugh...Satu pukulan keras mengenai wajah Edgar. Sontak membuat bu Meila dan ketiga remaja itu terkejut. Pak Romi terus memukul Edgar hingga Edgar terkapar tak berdaya. Ia menerima pukulan itu karena ia merasa pantas untuk mendapat balasan seperti itu. Akhirnya datang dua satpam berusaha menahan pak Romi dan mengingat untuk tidak berbuat keributan di rumah sakit. Sementara Edgar berusaha bangun dan berlutut di bawah kaki pak Romi.


"Tolong maafkan saya pak, saya tidak bermaksud membuat Salsa seperti ini." Sahut Edgar menangis dengan darah segar bercucuran dari hidungnya.


Pak Romi tidak menghiraukannya, ia menendang Edgar.Amarahnya tak terkendali hingga satpam membawa pak Romi keluar dari rumah sakit untuk menenangkan pikirannya.


Edgar yang tengah terduduk di lantai di bantu oleh ketiga perempuan itu dan dibawa oleh beberapa perawat untuk mengobati luka di wajahnya.