
Setelah puas bermain dengan Zia, malam pun semakin larut Salsa bergegas untuk tidur sementara Zia sudah tertidur di gendong oleh baby sisternya.
Sampai di kamar, Salsa merebahkan tubuhnya yang terasa pegal sampai akhirnya ia terlelap tidur.
****
Setiap matahari terbit memberikan kita awal yang baru dan akhir yang baru. Biarkanlah pagi ini menjadi awal yang baru untuk hubungan yang lebih baik dan akhir baru dari kenangan buruk. Ini adalah kesempatan menikmati hidup, bernapas lega, berpikir lebih baik, dan mencintai dengan baik. Bersyukurlah untuk hari yang indah ini.
Pagi yang indah, Salsa sudah bersiap-siap berpakaian rapi, ia sangat bersemangat di hari pertama masuk kerja. Ia bergegas menuruni tangga, menuju ruang makan mengambil sepotong roti dan segelas susu lalu memakan semua itu. Sedangkan Zia masih belum terlihat mungkin masih tidur, ia bertemu dengan bi hendak membuatkan susu untuk Zia. Ia pun berpamitan dengan tergesa-gesa karena tidak ingin telat di hari pertamanya bekerja.
Sampai di pinggir jalan raya, ia berdiri melihat lalu lalang kendaraan tapi tidak ada taksi sama sekali. Lalu tak berapa lama terdengar suara,
Tiitt... tiiitt...
Seketika pandangannya ke arah mobil hitam yang sangat mengkilat. Keluarlah seorang wanita bertubuh ideal, tinggi, putih dengan rambut terurai memakai rok hitam span yang menampakkan bentuk tubuhnya yang ideal. Sungguh cantik wanita ini.
"Hey Sa, kamu mau berangkat kerja?"
"Eh iya," iya gugup sebari mengangguk.
"Kalau begitu mari bareng aku aja, kita kan bekerja daam perusahaan yang sama."
"Baiklah, apa aku tidak merepotkan?"
"Ah tidak kok, mana mungkin aku merasa di repotkan, mari masuk!"
"Ah terimakasih,"
Salsa pun masuk ke dalam mobil itu. Perjalanan yang cukup memakan waktu lama, sampai akhirnya mereka berdua tiba di perusahaan Astra International.
"Terimakasih ya sudah mengajakku berangkat bareng,"
"Iya Sa tenang saja sama-sama kok, kalau kamu gk ada kendaraan telpon sama ke nomor aku, nanti setiap jam segitu kamu bisa tunggu aku disitu ya, kita kan sahabat." Ujarnya tersenyum.
"Terimakasih ya, aku senang banget bisa kenal sama wanita cantik dan baik hati sepertimu."
" sama-sama, terimakasih kembali atas pujiannya kamu juga cantik."
"Hehe... bolehkah aku meminta nomor ponselmu?"
"Ah boleh ko, 081234567891,"
"Terimakasih, yu kita masuk!"
Mereka berdua pun memasuki perusahaan itu, berjalan bersamaan. Menjadi pusat perhatian semua karyawan pria di sana, dua wanita cantik dengan pakaian yang berbeda. Salah satu stap wanita menegur wanita yang berada di sebelah Salsa.
"Maaf mbak, anda sudah di tunggu pak direktur di atas!"
"Ah, baiklah saya akan segera ke sana."
Mereka berdua pun terpisah, Salsa segera bergegas ke ruang ganti untuk memakai seragam khusus office girl.
***
Sedangkan wanita itu tak lain adalah Sri, ia bergegas memasuki lift dan tiba di sebuah ruangan mewah dan megah. Sri sangat takjub melihat keindahan ruangan itu. Di sana terlihat seorang pria tengah duduk bersandar di kursi menghadap sebuah jendela besar yang terlihat pemandangan kota X.
"Permisi pak,"
Seketika pria itu berbalik. Ia tampak terkejut melihat penampilan sekretaris di hadapannya. Tampak elegan dan mempesona mampu membangkitkan gairah me*um dalam pikiran kotornya.
"Apa kamu tidak melihat jam di tanganmu?"
Sontak Sri pun terkejut, apa dia telambat lalu dia melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya.
Ini kan baru saja jam 07:59 , aku kan belum telat. Jam masuk masih ada 1 menit lagi. Gumamnya dalam hati.
"Bagaimana jadi kamu tahu kesalahan kamu apa?"
Hah memangnya aku salah apa? Aku bahkan tidak telat sama sekali.
"Maksud bapak?"
"Kamu tanya sama saya? Perbaiki panggilanmu terhadap saya! Saya bukan ayah anda!" Tegasnya.
"Maaf, kalau begitu saya harus panggil apa?"
"Panggil saya dengan sebutan mas!"
Hah apa-apaan ini, mana ada direktur di panggil mas! Apa dia sedang mengerjaiku ya?
"Apa tidak terlalu lancang pak, jika saya memanggil bapak dengan sebutan mas?" Tanyanya ragu.
"Sudah saya katakan, panggil saya mas!"
Seringai senyum terlihat jelas di wajah pria itu.
"Mari ke sini,"
Sri pun melangkahkan kakinya menuju bos nya itu. Terhenti di dekat sebuah meja.
"Sebelah sini!"
Pria itu menunjuk ke samping dirinya. Sri pun menuruti perintah atasannya, sekarang jarak diantara mereka hanya beberapa centimeter. Pria itu beranjak berdiri menghadap Sri, menatap lekat ke arah wanita itu. Jarak wajah keduanya sangat dekat. Seketika jantung Sri berdetak dari biasanya.
Eh mau ngapain dia? Kenapa dekat sekali seperti ini!
Pria itu pun semakin mendekatkan wajahnya, Sri memejamkan matanya. Seringai senyum di bibir pria itu. Lalu,
"Lo jangan kepedean, cepat ambilkan berkas-berkas di meja karena sebentar lagi gue mau rapat!" Bisiknya ditelinga Sri.
Sri membelalakkan matanya, ia menunduk. Wajahnya berubah menjadi merah merona.
Apa yang aku pikirkan barusan? Ya ampun memalukan sekali, ayolah Sri jangan berpikiran macam-macam.
Sri jadi salah tingkah. "Ba-baiklah pak, eh mas."
Sri berlalu mengambil tumpukan berkas di meja itu, sementara pria itu tersenyum.
Unik juga, boleh gue coba. Gumam pria itu dalam hatinya.
***
Sementara di dalam lorong, Salsa sedang membersihkan lantai dan kaca jendela. Tak berapa lama hp nya berbunyi.
" Hallo honey,"
"Ah, Ed ada apa? Aku sedang bekerja."
"Sebentar honey, aku merindukanmu."
"Tapi, aku sedang bekerja Ed,"
"Honey nanti sore.."
"Woy, anak baru kerja yang benar, lo jangan main hp mulu!" Ucap salah seorang stap wanita di sana.
"Ba,baiklah."
"Sayang sudah dulu ya, aku harus bekerja,"
"Ta,tapi honey..."
Seketika sambungan telpon terputus, Salsa pun segera menyelesaikan pekerjaannya.
***
Tak terasa senja pun mulai menyelimuti langit biru. Sudah waktunya pulang, semua karyawan di sana sudah ramai keluar dari perusahaan itu. Begitu pun dengan Salsa, ia meregangkan otot tangannya. Begitu lelah karena hari ini pekerjaannya sangat banyak sehingga menguras tenaganya.
Lelah sekali hari ini. Gumamnya.
Salsa pun segera mencari taksi. Tak berapa lama ada taksi dan ia masuk ke dalam taksi itu. Hingga dua jam sampailah di depan rumahnya. Ia bergegas membuka pagar dan memasuki rumahnya. Pandangannya tertuju pada seorang pria yang tengah berdiri di depan rumahnya. Ia mengenali siapa pria itu,
"Edgar?"
Pria itu menoleh dan benar saja itu kekasihnya. Salsa berlari kecil menghampiri Edgar lalu memeluk erat tubuh pria itu. Aroma parfum khas, dada bidang yang selalu jadi sandaran ternyaman dan pelukan hangat yang selalu menenangkan hatinya.
"Hey honey, apa kau sangat merindukanku?"
"Jelaslah aku merindukanmu sayang, apa kamu tidak merindukanku?"
Seketika Edgar mengendurkan pelukannya, memberi jarak untuk mereka berdua saling menatap.
"Bagaimana aku tidak merindukanmu honey, aku jauh-jauh dari sana kemari hanya untuk menemuimu."
Cairan bening mulai menetes di pipi Salsa.
"Honey, kenapa kamu menangis?"
"Aku senang, kamu selalu ada untukku Ed," lirihnya kembali memeluk tubuh kekasihnya yang sangat ia rindukan.
Rindu bilang, ia adalah kesabaran. Untuk memenangkannya, kita hanya butuh berteman dengan waktu, tunggu, dan mampu. ~Salsa~
Aku ingin kamu merasa sama perihnya denganku. Menahan rindu itu sungguh mengerikan, bukan? Tapi jangan khawatir, aku tidak akan menyerah hanya karena tikaman rindu dan tusukan cinta. Aku ini seorang pejuang tangguh. Dan aku akan menghadang apa pun demi dirimu yang begitu indah. ~Edgar~