
"Lah gue kan bercanda, maafkanlah hambamu ini yang sangat sempurna," sahut Edgar memohon dengan dibuat secara menyedihkan.
"Kok akting lo gak berbakat ya?" ledek Ridwan berhasil mendapat pukulan kecil di kepalanya.
"Berisik lo curut!" sahut Edgar.
"Sudah ih sudah, sekarang kita mau makan apa?" tanya Salsa melerai adu mulut Ridwan dan Edgar.
Mereka semua saling menatap satu sama lain. Hazrina hanya menunduk karena ia merasa dirinya yang paling bersalah membuat semua temannya kelaparan.
"Sa, bukannya kita tadi beli sosis mentah?" tanya Susi dengan sumeringah.
"Iya benar, kita kan tadi beli sosis mentah kalau begitu kita bakar sosis saja," usul Salsa.
"Alhamdulillah, syukurlah gue jadi makan juga. Sabar ya cacing lo itu memang lagi beruntung," sahut Ridwan sebari mengelus perutnya yang rata terdengar suara keroncongan.
Vini, Lia dan Sri mulai menyalakan arang, Hazrina dan Susi sedang membuat nasi liwet, mereka membagi tugas masing-masing. Sementara Ridwan dan Edgar memotong-motong sayuran, entahlah dua pria itu tidak ada kerjaan sama sekali.
Salsa ke dalam rumah untuk mengambil sosis yang tadi di belinya. Setelah di ambil, Salsa keluar dengan raut wajah masam.
"Hei kalian," panggil Salsa membuat semua orang yang ada disana berhenti melakukan tugasnya beralih menatap ke arah Salsa.
"Kenapa Honey?" tanya Edgar seraya mendekat ke arah Salsa.
"Kalian semua jawab jujur ya!" pekik Salsa dengan wajah dibuat seseram mungkin.
Namun mereka semua yang melihat mimik wajah Salsa dengan sekuat tenaga menahan tawanya. Lagi-lagi Hazrina tertawa.
"Hahaha, kamu kok lucu."
Hanya Hazrina yang tertawa loh, semua orang yang ada disana berusaha menahan tawanya. Hazrina melirik ke semua orang, ternyata hanya dirinya yang tertawa membuat pipinya bersemu merah merona.
"Kenapa tertawa Hazrin, aku serius!" pekik Salsa benar-benar menatap serius.
"Honey, kau begitu menggemaskan, wajahmu jangan begitu!" sahut Edgar tersenyum mengelus pipi Salsa.
"Aku serius Ed," kata Salsa menatap tajam ke arah Edgar.
"Kau mau aku cium?"
"TIDAK MAU!"
"Jadi, kenapa Sa?" tanya Vini meminta penjelasan.
Salsa menunjukkan sesuatu yang ada di tangannya, mereka semua menatap dengan serius hanya Ridwan yang bersikap biasa saja.
"Loh kok bisa?" tanya Lia.
"Bukannya tadi kita beli banyak?" tanya Hazrina menatap Lia.
Lia membalas dengan anggukan, mereka semua saling menatap satu sama lain.
"Lihatlah siapa yang sudah memakan sosis ini?" tanya Salsa dengan serius.
Mereka semua mengatakan tidak memakan apapun lalu pandangannya beralih pada Ridwan yang hanya santai saja.
"Jangan-jangan lo yang makan!" celetuk Sri membuat Ridwan beralih menatap ke arahnya.
"Gue sudah lemas begini, masih saja lo fitnah," pekik Ridwan memegangi perutnya yang sudah keroncongan sedari tadi.
"Lalu siapa yang makan sosis itu?" tanya Susi semakin menepel dengan Hazrina.
Semua orang yang ada disana saling menatap satu sama lain, saling menerawang apa yang sedang dipikirkan.
Apakah pikiran semuanya sama atau berbeda?
"Kok gue jadi merinding ya?" sahut Ridwan berhasil memebuat mereka semakin berdempetan, saling mendekat.
"Ah curut, lo banyak dosa makanya lo merinding mulu," ungkap Edgar.
"Beraninya lo makan sosis gue!" celetuk Ridwan berhasil mendapat tatapan dari semua temannya.
"Sosis apa Rid?" tanya Susi sebari terus menempel pada Hazrina.
"Tadi si Sri ngomong dia makan sosis gue!" Ungkapnya berhasil mendapat tatapan bingung dari Sri.
"Lo fitnah mulu sih boss, gue kan gak ngomong apa-apa," ungkap Sri membenarkan.
Ridwan menyerngitkan dahi, ia berusaha mengingat ucapan tadi yang menerpa telinganya.
"Gue serius tadi ada yang ngomong sama gue," ungkap Ridwan, wajahnya mulai terlihat cemas dan pucat.
Sementara mereka sudah saling berpegangan dan merapat pada tubuh temannya. Edgar mulai mendekap Salsa dalam pelukannya. Sementara Ridwan sendiri mematung di tempat mencoba mengenali suara tadi. Namun, memang suara tadi tidak seperti suara Sri.
Ridwan semakin merasakan semilir angin dingin yang menusuk pori-pori kulitnya. Ia ingin berjalan mendekati teman-temannya namun tidak bisa, kakinya terasa kaku.
Mereka semua saling menatap satu sama lain, hingga akhirnya suasana semakin mencengkam.
Haiii ... gue yang makan sosis milik kalian. Ungkap seseorang dengan nada suara serak dan berat.
Mereka semua yang ada disana membalikkan badan menatap ke arah orang yang berbicara membelakangi tubuh mereka dan saat itu juga ...
"Aaaaaaaaa ..." teriakan nyaring dari semua orang di alam terbuka itu.
Mereka semua saling menyelamatkan diri, berhamburan lari memasuki rumah Salsa. Namun Ridwan masih berdiri mematung di sana dengan terus menatap ke arah seseorang yang tengah berdiri di bawah pohon rindang.
Ridwan masih setia melongo namun saat ia mengucek mata dan membuka kembali matanya. Wajah rusak dan hancur dipenuhi darah dengan tangan sebelahnya yang tidak ada, berdiri tepat dihadapan dirinya.
"Setan lo, cunguk, kadut ... gak tahu diri banget berdiri di depan gue!" pekik Ridwan menampar makhluk tak kasat mata itu.
Guuee bukan kadut ataupun cunguk, gue setan b*go! Lo gak tahu setan? Pekik makhluk itu.
"Lo lagi main sinetron, dasar aneh mana ada setan ngaku setan? Lo gak lucu, kok mau jadi setan jelek begitu. Kalau mau jadi setan itu yang tampan tingkat dewa sama kek gue," celetuk Ridwan.
Guee memang setan dasar b*go. Lo gak takut sama gue? Pekiknya menampakkan mimik wajah seseram mungkin.
"Hahaha ... mana ada setan jelek begitu. Bukannya setan itu selalu melayang di atas terus dengan nada seram hihihihihi ..." sahut Ridwan memeragakan.
Memang lo gak lihat kaki gue?
Saat Ridwan melihat ke arah bawah berhasil membuat dirinya mematung, menelan ludah sedalam mungkin, mencoba mengambil nafas. Saat ini dirinya terasa kaku, tak berdaya. Pandangannya kembali beralih menatap wajah rusak itu dengan mata melotot. Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat pasi. Tolong Ridwan saat ini, dirinya ingin lari dari tempat ini. Namun keadaan memaksanya tetap mematung dan lebih memilih pingsan.
Dasar b*go, lo takut kan? Gitu saja pingsan.
***
Saat mereka sudah berada di dalam, dengan nafas tersengal saling memeluk dan menatap satu sama lain, mencoba untuk saling menenangkan diri.
Saat sudah merasa tenang, mereka menghela nafas sedalam mungkin. Edgar yang tengah memeluk Salsa, mulai melonggarkan pelukannya lalu melihat ke arah semua wanita yang ada di sana namun satu orang lagi kemana?
"Woy, si curut kemana?" tanya Edgar mencoba mencari Ridwan namun pria itu tidak terlihat batang hidungnya.
Mereka semua pun saling menatap satu sama lain mencoba mencari Ridwan.
"Jangan-jangan Ridwan masih diluar?" ungkap Salsa.
"Ya ampun, my baby honey Ridwan di luar. Dia ketakutan mungkin," ungkap Susi.
"Alay banget lo!" pekik Sri.
"Sudah kalian ini jangan berteman!" sahut Hazrina.
"Jangan berantem, Hazrinot!" sahut Vini menepuk bahu Hazrina.
"Sudah ih, Edgar kasihan Ridwan, kamu keluar bantu dia!" sahut Salsa.
Edgar pun segera keluar rumah mencari si curut Ridwan.