Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
Edgar Vs Ridwan


Edgar tersenyum memandangnya dan bergegas menuju mobilnya. Ia melihat Salsa dari kaca mobil yang mulai dilajukan, berlalu meninggalkan wanita yang dicintainya. Seketika ia menitikkan air mata yang sudah membendung, sedari tadi ia menahannya karena tidak ingin terlihat lemah di hadapan Salsa.


Tapi hati tidak bisa berbohong, rasanya pedih harus berjauhan dengan orang yang dicintainya. Tapi Edgar berusaha kuat dan akan terus memperjuangkan cintanya. Ia akan memulai sebuah karir di perusahaan ayahnya. Setelah ia mampu menjalankan karirnya dengan baik hingga menuju kesuksesan maka dari situ ia merencanakan untuk melamar pujaan hatinya.


Selama tiga jam, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Ia membelokkan stir mobilnya ke arah kiri berlawanan dengan arah menuju rumahnya. Jarak tempuhnya cukup dekat, ia sudah sampai di depan rumah megah kawasan elite.


Tut...tut...tut..


Suara sambungan telpon, tapi seseorang tidak menjawab telpon itu. Edgar mendengus kesal. Ia menunggu di dalam mobilnya.


***


Kediaman rumah Ridwan.


Di sebuah kamar yang begitu megah dan luas terdengar suara nafas yang kian memburu. Mereka berdua sudah akan sampai pada puncaknya. Suara itu kini kian membara memenuhi isi ruangan itu. Disela itu ponselnya terus berdering, mereka menghiraukannya dan terus menikmati sampai puncak nirwana.


Karena ponselnya kembali berdering tak henti-henti, Ridwan menghentikan aksinya dan menggapai ponselnya di lihat tertera nama panggilan "si go*log." Ridwan mendengus kesal sambil terus memaki dan menerima telpon itu.


๐Ÿ“ž Hallo Rid.


๐Ÿ“ž Woy to*ol, lo ngapain nelpon gue. Ganggu mulu.


๐Ÿ“ž Lo kemana saja? Dari tadi gue telpon, gak ada nyaut.


๐Ÿ“žAhh kesal gue, lo ngapain si nelpon terus?


๐Ÿ“žYeee ngeyel banget, buka pintunya! Atau gue dobrak ya biar ancur rumah lo!


๐Ÿ“žSelow bro, lo macam orang egois gak bisa sekali saja mengerti kesenangan temannya.


๐Ÿ“žCepatan atau gue dobrak sekarang!


๐Ÿ“žok fine, tunggu lo disitu, jangan sentuh apapun yang ada disekitar rumah gue!


Seketika sambungannya terputus, Ridwan mendecak kesal dan terus memaki Edgar beranjak mengambil pakaian di lemarinya.


Wanita itu hanya melihat ke arah Ridwan dengan tatapan tak mengerti.


"Sayang, mau kemana?"


"Cepat lo bereskan semua ini, gue mau ke depan dulu!"


"Baik ay,"


Wanita itu langsung beranjak berdiri sebari melilitkan selimut menutupi tubuhnya. Ridwan tersenyum melihatnya, ia menghampirinya seketika menarik pinggang wanita itu dan mulai men*iumi lehernya hingga meninggalkan tanda kepemilikan disana, pandangannya beralih pada gunung kembar yang menjulang hingga menimbulkan suara kenikmatan keluar dari mulut wanita itu. Ridwan tersenyum ia melahap gunung kembar wanita itu sampai ia melupakan sesuatu.


***


"Bodoh, dasar penjahat kelamin, si Ridwan ngapain si di dalam lama benar suruh buka pintu juga." Edgar mendengus kesal karena Ridwan tak kunjung membukakan pintu.


Ia menendang pintu itu sangat keras, suaranya terdengar sangat nyaring. Hingga menyadarkan Ridwan untuk menghentikan aksinya teringat akan sesuatu.


Ridwan yang melihat itu bergidik takut dan berusaha menenangkan Edgar.


"Hey, bro apa kabar? maaf lo nunggu lama ya," sahutnya dengan nada gemetar hendak memeluk Edgar.


"Lepas, gue jijik!" Sahut Edgar menepis tangan Ridwan.


"Lah lo sensi banget si, jangan-jangan lo PMS ya?" ledeknya.


"Gak lucu Ridwan!"


"Tuh kan benar lo marah-marah melulu. Sudah jangan marah pak Edgar yang baik hati bos perusahaaan terkenal, mari silahkan masuk bos!"


Edgar mulai menampakkan seringai senyum diwajahnya berlalu memasuki rumah Ridwan. Duduk di sebuah sofa yang cukup besar dan nyaman diikuti oleh Ridwan di belakangnya.


Jadi di sini siapa yang tuan rumah?


Tak berapa lama tanpa di suruh pun, asisten rumah tangga itu membawakan dua gelas minuman.


"Silahkan tuan," ART itu melihat ke arah Edgar lalu kembali menundukkan pandangannya.


Edgar tak bergeming lalu sekilas ia meliriknya, tatapannya terhenti di sebuah tanda merah yang terdapat di leher ART itu. Lalu keheningan itu dipecahkan oleh tawa Edgar yang memenuhi isi ruangan. ART itu pun terperanjat kaget sedangkan Ridwan melirik ke ART nya memberi kode. Wanita itu mengerti dan berlalu meninggalkan kedua pria tampan itu.


"Woy, ini rumah gue, lo gak bisa seenaknya tertawa!"


"Gue gak nyangka ternyata yang begituan selera lo," tatapan meledek itu tertuju pada Ridwan.


Ridwan mendengarnya kaget dan salah tingkah.


"Hah, maksud lo apa?"


"Ah jangan pura-pura gak tahu, Gue tahu kok kalau lo abis senang-senang sama ART itu!"


"Eh, tuan Edgar yang terhormat apa yang anda katakan barusan itu tidak benar!" sahut Ridwan gelagapan berusaha mempertahankan harga dirinya.


"Selow saja bro, gak masalah lo mau begituan sama ART, pemulung sekali pun pe*acur, itu bukan urusan gue."


"Woy gue gak gitu tuan Edgar Atmaja!" Ridwan merasa harga dirinya dijatuhkan, emosinya kian membara.


Sialan dari mana dia tahu, sialll ! Gumamnya dalam hati.


"Tenang Ridwan Zaelani, gue hanya bercanda. Lo serius banget si!" Sahut Edgar menepuk bahu Ridwan diiringi gelak tawa yang memenuhi isi ruangan karena melihat raut wajah sahabatnya yang mulai merah padam menahan emosi.


"Isss... lo masih bisa-bisanya ngetawain gue, sudah ah gue malas berdebat sama lo, mari kita bersulam."


Suara dentingan gelas yang di adukan dipenuhi dengan gerai tawa mengisi ruangan itu sedangkan dibalik tembok itu seorang wanita melihatnya dengan seringai senyum terukir di bibirnya.


Lain kali, aku harus bisa meluluhkan pria tampan itu.