Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
Will you marry me?


Setelah cukup lama mereka berdua saling berpelukan akhirnya Edgar mengendurkan pelukannya.


"Honey, aku ada sesuatu untukmu,"


"Apa itu Ed?"


"Aku akan memberitahumu nanti tapi ikut aku dulu ya!"


Seketika Edgar menarik tangan Salsa membawanya memasuki mobil. Di dalam mobil itu, mereka saling bertatapan, terpancar dari binar di mata itu ada kerinduan yang sangat dalam dikeduanya. Edgar mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, namun Salsa masih menatap pria di sampingnya dengan perasaan bingung.


"Ed, kita mau kemana?"


Edgar hanya memberikan senyum dan mencium bibir Salsa sekilas.


"Sayang?"


"Apa honey?"


"Jawab dulu pertanyaanku! Kita mau kemana?"


"Nanti juga kau akan tahu, jadi duduklah manis di sampingku," sahutnya sebari pandangannya lurus ke depan mengamati jalanan.


Seketika Salsa cemberut, memajukan bibirnya ke depan. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela. Edgar tertawa melihat raut wajah itu.


"Hey honey, apa kau sedang menggodaku?"


"Apa si, siapa juga yang godain kamu," ketusnya.


"Jangan marah honey, bibir mu semakin lucu dan gemas, aku jadi ingin melahapnya."


"Sayang ih, aku serius!"


"Aku juga serius kok setelah ini aku akan melahapmu!


"NO!"


Salsa mendengus kesal, ia melipat kedua tangannya di dadanya. Sementara Edgar hanya tertawa.


"Ed, apa masih jauh? Ini sudah mau malam."


"Sebentar lagi honey, jadi bersabarlah!"


Hah, apanya yang harus sabar? Memang mau ngapain? Gumam Salsa dalam hati.


Beberapa jam kemudian sampailah di sebuah gedung yang bertuliskan studio foto. Edgar keluar dari mobil lalu berlari ke arah pintu mobil dan membukakannya. Salsa tersenyum dan kebingungan, sebenarnya tujuan Edgar apa membawa Salsa ke studio foto.


Edgar pun berjalan, diikuti dengan Salsa yang berada di sampingnya.


"Ed, kita mau ngapain ke sini?" Bisik Salsa.


"Kita akan melakukan pemotretan honey,"


"Hah?"


Salsa terkejut, nada suara yang terdengar nyaring menarik perhatian semua orang yang berada di sana. Seketika itu juga ia langsung membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Edgar melihat kelakuan kekasihnya hanya menggelengkan kepala dan tersenyum. Memasuki gedung besar tempat pemotretan para model papan atas. Mereka berdua telah sampai di ruangan khusus. Salsa di antar oleh pelayan untuk mengganti pakaiannya begitupun Edgar.


Setelah keduanya sampai, mereka sangat serasi apalagi dengan menggunakan baju couple berwarna pink, nampak lucu dan imut di tubuh Salsa. Sementara saat Salsa melihat Edgar memakai sebuah kemeja lengan panjang berwarna pink, ia malah tertawa terpingkal-pingkal.


Edgar menghampiri Salsa lalu merangkul bahu kekasihnya itu. Ia tersenyum dan mencium kedua pipi Salsa. Salsa tersipu malu karena di sana banyak orang yang menyaksikan mereka berdua. Edgar mengelus pipi Salsa, melebarkan senyumannya menandakan bahwa ia sangat bahagia bersama kekasihnya.


"Hey anak muda, mau jadi di foto tidak?" tanyanya sebari tertawa.


Mereka berdua hanya mengangguk, memberikan seulas senyuman.


"Lah giliran tadi ciuman, romantis, sekarang mau saya foto malah terlihat canggung. Ayo anggap saja kalian sedang berdua!"


Setelah di beri arahan, mereka langsung berpose dan hasil jepretan kamera yang sangat bagus.



Setelah mengambil banyak foto, mereka langsung bergegas keluar dari gedung itu. Memasuki mobil lalu melajukannya keluar dari sana.


Saat di perjalanan, Edgar membanting stir mobilnya berlawanan dengan arah jalan pulang ke rumah Salsa. Salsa menatap kembali kekasihnya.


"Ed, kita mau kemana lagi? apa kau tidak lelah? aku bahkan sangat lelah hari ini karena seharian bekerja dan saat pulang kau mengajakku berfoto."


"Apa kau tidak senang bertemu denganku?"


"Bukan begitu maksudku sayang, aku juga hanya kasihan padamu pasti kamu juga lelah hari ini." sahutnya menatap lekat ke arah Edgar.


" Aku tidak lelah kok, jika bersamamu tidak akan pernah ada kata lelah dalam kamus hidupku honey,"


Seketika mendengar ucapan itu, mata Salsa berbinar. Hatinya terasa terbang melayang di angkasa tapi Edgar selalu menggenggamnya hingga hatinya pun tidak jadi terbang.wkwk.


Salsa memegang tangan Edgar lalu mencium pipi Edgar.


" Terimakasih untuk segala kebahagiaannya sayang. Aku sangat bersyukur memiliki kekasih sepertimu,"


Edgar melirik dan tersenyum ke arah Salsa. Tak berapa lama sampai di sebuah danau, cuaca yang cukup dingin menusuk kulit tubuh. Edgar membuka jasnya lalu memberikan pada Salsa.


Mereka berjalan bersama sebari berpegangan tangan, di depan danau yang cukup luas dan indah dipenuhi dengan kunang-kunang. Semilir angin, membuat suasana sangat tentram dan tenang.


Edgar mengambil sebuah benda berbentuk love berwarna merah lalu membukannya di depan Salsa. Seketika Salsa terkejut dan cairan bening itu metenes di pipinya. Ia menatap lekat kekasih di hadapannya itu.


Dengan cepat Salsa melingkarkan tangannya di leher Edgar lalu memeluknya sangat erat, membenamkan wajahnya di dada bidang milik Edgar.


Edgar pun tersenyum, mengeratkan pelukannya. Setelah lama saling berpelukan, Edgar melepaskannya lalu memberi jarak di antara kedua untuk saling bertatapan, menatap lekat satu sama lain.


"Honey, will you marry me?"


Lagi-lagi air mata itu menetes kian deras membasahi pipi Salsa. Ia tersenyum menatap lekat pria dihadapannya. Hatinya sangat bahagia, terharu, sedih, bercampur aduk.


"Yes I do baby,"


Edgar pun tersenyum mendengar ucapan itu, saking girangnya ia berteriak.


"Yesss, I LOVE YOU SALSA,"


Salsa ikut tersenyum, ia meraih tangan Edgar.


"Love you too Edgar,"


Edgar mengambil cincin itu dan menyematkannya di jari manis Salsa. Mereka berdua saling berpelukan. Angin malam yang semakin dingin dan menusuk kulit pun tidak terasa. Karena pelukan sebuah kehangatan dan kenyamanan bagi sepasang kekasih.


"Terimakasih Ed untuk segalanya, terimakasih karena kamu selalu memperjuangkan cinta kita."


"Sama-sama Honey, ingatlah aku akan selalu berusaha untuk terus mengukir senyum indah di wajahmu."