Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
Pemuda misterius


Melakukan berbagai hal untuk mengungkap siapa orang dibalik kecelakaan Edgar. Mereka terus menelusuri sampai menemukan titik terang. Ridwan melacak nomor asing yang sewaktu itu menelepon Edgar, sebelum kecelakaan itu terjadi.


Setelah dilacak, Ridwan menemukan petunjuk dari nomor yang dilacaknya. Ia segera memberi tahu Edgar.


Tak berapa lama, Edgar memerintahkan anak buahnya untuk menelusuri petunjuk yang ia dapatkan.


Ya, mereka adalah orang suruhan pak Erwan karena selama mereka berdua sedang sibuk bekerja di luar negeri, pak Erwan memerintahkan sejumlah orang untuk menjaga dan mengawasi Edgar. Begitu pun Edgar sudah mengetahui akan hal ini.


Memerintah sejumlah anak buah untuk mencari tahu apa tujuan dibalik kecelakaan itu. Ridwan yang sudah menemukan petunjuk diperkuat dengan terlacaknya rumah orang misterius tersebut.


Edgar dan Ridwan memustuskan untuk bergegas menuju alamat rumah itu.


Dua jam kemudian, ia berhenti di sebuah rumah mewah kawasan elite. Beberapa penjaga terlihat sudah berjaga-jaga di setiap penjuru rumah itu.


Edgar dan Ridwan berjalan menuju pagar rumah tersebut, namun tiba-tiba dihadang oleh beberapa penjaga yang bertugas di sana.


"Ada keperluan apa anda kemari?" tanya penjaga itu.


"Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini," sahut Edgar menyeringai.


"Apakah anda sudah memiliki janji dengan bos kami?"


"Tidak, tapi kami sangat ingin sekali bertemu dengan bos kalian," ujar Ridwan.


"Sebaiknya kalian pergi dari sini!" Usir penjaga itu dengan nada tinggi sebari mendorong tubuh Edgar dan Ridwan.


Namun, Edgar terus bersikeras untuk menemui orang tersebut sehingga terjadilah pertumpahan darah.


Lima belas menit berlalu, keluarlah seorang pemuda bertubuh kekar, tinggi dan memakai jas serba hitam dengan kacamata hitam.


"HENTIKAN!" bentak pemuda itu membuat penjaganya menunduk lalu menghentikan perkelahian itu.


"Ada keperluan apa anda menemui saya?" sahut pemuda itu dengan wajah seram seperti akan menerkam mangsa.


"Gue hanya ingin tahu tujuan lo mengancam gue dan membuat gue kecelakaan?" Jawab Edgar menatap pemuda itu dengan mata tajam yang siap untuk membunuh.


"Haha ... jadi ini yang namanya Edgar Atmaja seorang siswa SMK yang masih bau kencur. Anak kesayangan mamah dan papah," ledek pemuda itu dengan menjentikkan jari di kening Edgar.


"Beraninya lo, bicara seolah-olah lo yang paling berkuasa," tegas Edgar memegang kerah baju pemuda itu.


"Hati-hati dengan tangan anda, saya bisa membuat tangan anda patah dalam sekejap" ancamnya.


"Gue tidak peduli, seberapa hebatnya lo hingga seperti orang yang berkuasa di dunia ini?"


"Anda memang anak kencur yang tak tahu malu."


Seketika Edgar mengepalkan tangannya lalu memukul pemuda itu hingga ia tersungkur.


Brughh ....


Lagi-lagi dentuman pukulan yang terdengar nyaring.


Brugghh ....


Darah segar mengalir dari hidung Edgar hingga membuatnya sempoyongan. Ridwan berusaha membantu Edgar untuk berdiri.


"Haha ... hanya segitu kemampuan anda. Bagaimana bisa anda menjaga Salsa, jika baru satu kali tonjok sudah hampir mati."


Seketika Edgar ingin kembali memukul pemuda itu, Ridwan menahannya dan membawanya pergi dari tempat itu. Edgar mengeram penuh amarah.


Cara Ridwan membawanya pergi itu jalan terbaik karena ia tahu jika Edgar sedang marah ia akan mempergunakan segala cara untuk membunuh orang itu.


***


Salsa dan ketiga sahabatnya sedang asyik membuat yel-yel untuk persiapan lomba lintas alam yang beberapa hari lagi akan terlaksana.


Akan tetapi, sedari tadi perasaan Salsa tidak tenang.


Ia terus memikirkan Edgar tiba-tiba saja perasaannya menjadi sangat khawatir. Ia mencoba menghubungi Edgar namun teleponnya tidak aktif. Itu membuat Salsa semakin gelisah dan memikirkan sesuatu yang terjadi pada Edgar.


"Sa, Sa?" panggil Lia.


Tetapi Salsa tidak menjawab, ia sedang melamun lalu Vini menghampiri dan menegur Salsa.


"Hey jangan melamun," sahut Vini menepuk pundak Salsa.


"Ih, apa si Avin?" kata Salsa terkejut.


Avin itu panggilan akrab Salsa pada Vini. Seketika Vini tersenyum dan duduk disebelah Salsa.


"Itu tadi Lia memanggil kamu. Eh, kamu diam terus tidak menyahut."


"Oh iya, maaf mungkin tadi aku tidak mendengarnya," sahut Salsa menunduk sedih.


"Kamu kenapa si, kok aku lihat dari tadi kamu diam terus. Kamu lagi ada masalah?"


"Aku tidak apa-apa kok, aku hanya kepikiran saja sama Edgar. Dari tadi aku telepon tapi nomornya tidak aktif terus. Aku takut sesuatu terjadi padanya," sahut Salsa mulai menitikkan air mata.


"Sudah jangan menangis, Edgar pasti baik-baik saja. Mungkin dia lagi sibuk dan tidak sempat memegang ponsel," sahut Vini memeluk Salsa dan berusaha menenangkannya.


Hazrina dan Lia menghampiri Salsa dan Vini. Mereka saling berpelukan. Iky yang melihat itu juga menghampiri mereka ingin ikut berpelukan tapi di tepis oleh Lia dan Hazrina.


"Kamu ini apa-apaan si, kita kan cewek sedangkan kamu cowok," ledek Hazrina.


"Gue kan mau ikutan saja, kok tidak di ajak?" rengek Iky yang menjadi manja.


Melihat tingkah laku Iky, Salsa tertawa sedangkan Hazrina, Lia dan Vini bergidik geli.