
Edgar yang menyadari kesalahannya segera ia berlari mengejar Salsa.
"Sa, tunggu penjelasanku dulu!!!" panggil Edgar sebari berlari.
Sebenarnya Edgar pun merasakan betapa kecewanya ia pada dirinya telah membuat wanita yang dicintainya menangis. Hatinya bergemuruh antara pedih dan emosi yang membara. Ia terus berlari mengejar Salsa yang terlihat duduk di atas rerumputan hijau.Edgar menghampiri Salsa lalu memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku Sa," sahut Edgar membenamkan wajahnya di punggung Salsa.
Salsa berusaha melepaskan pelukan Edgar namun tenaga Edgar lebih kuat.Edgar semakin erat memeluk tubuh Salsa.
"Sayang, dengarkan penjelasanku dulu,"
"APA YANG HARUS DIJELASKAN LAGI? SEMUANYA SUDAH JELASKAN!! "sahut Salsa dengan emosi yang membara, cairan bening itu terus mengalir membasahi pipinya.
"Dengarkan aku dulu!!" Edgar mulai emosi.
"Kamu tahu? Kamu itu bren*sek! Kamu tega!! mana janji dan komitmen yang kamu ucapkan dulu? Setelah aku mempercayaimu, kamu dengan mudahnya mengkhianatiku!" tegas Salsa berusaha melepaskan pelukan Edgar.
Edgar terdiam dan melepaskan pelukan Salsa. Ia menunduk menyadari kesalahannya.Edgar yang merasa dirinya tak berguna menjambak rambutnya keras."Arrrgghhhh!"
"Mulai saat ini jangan pernah hubungi aku lagi, kita selesai sampai disini!" ucap Salsa dengan bibir bergetar diiringi derai air mata.
Mendengar hal itu Edgar merasa pening kepalanya berasa mau pecah. Hatinya begitu sakit saat ucapan itu keluar dari mulut Salsa. Edgar laki-laki yang tegar tapi jika sudah berurusan dengan hati dan orang yang sangat dicintainya ia tak kuat menahan cairan bening yang sudah membendung di pelupuk matanya.
Edgar kembali memeluk Salsa kali ini cairan bening itu merembes keluar.
"Aku minta maaf sayang, maaf.Aku bisa jelasin semuanya, dengarkan aku dulu!"
"Aku sudah terlanjur kecewa sama kamu!" Pelukan itu ditepis oleh Salsa. Ia beranjak berdiri dan pergi menjauh dari Edgar.
Sementara Edgar terduduk, ia menggeram kesal. Siallll...Jiwa emosinya sudah memuncak. Ia tidak memperdulikan lagi tentang acara perpisahan di sekolah. Ia hanya memikirkan cara untuk menjelaskan semuanya dan membuat Salsa kembali percaya padanya.
***
Setelah sampai di rumah, Salsa langsung pergi ke kamar tanpa menghiraukan kehadiran ayah dan ibunya.
"Nak, kamu sudah pulang bagaimana acaranya?" tanya bu Meila.
"Bu, Salsa kenapa?"tanya pak Romi.
"Bapak nanya sama ibu, sedari tadi kan ibu sama bapak, mana ibu tahu," ucap bu Meila.
"Masa anak sendiri tidak tahu?"
"Bapak saja tidak tahu kan?"
Kedua orang tuanya malah saling menuduh satu sama lain. Padahal sudah tua juga masih saja sempat-sempatnya bertengkar seperti anak kecil. Davin yang sedari tadi berada di sana melihat kedua orang tuanya.
"Ibu, bapak kenapa?" tanya Davin polos.
Bu Meila dan pak Romi menghentikan pertengkarannya menyadari ada Davin diantara mereka.
"Tidak apa-apa kok nak, bapak lagi main tebak-tebakan sama ibu," sahut pak Romi gelagapan.
Sedangkan bu Meila terkekeh geli mendengar penjelasan suaminya pada anaknya.
"Oh gitu, Davin juga mau ikutan pak," sahut Davin polos.
Melihat anaknya seperti itu pak Romi menggendong Davin dan mereka saling berpelukan membuat mereka lupa dengan Salsa.
***
Salsa yang terus menangis sedari tadi. Ia sangat kecewa pada Edgar. Tidak kuat menahan rasa pedih dihatinya ia sudah seperti orang frustasi,ia mengambil sebuah pisau kecil dan memberi tanda pada pergelangan tangannya sehingga darah berwarna merah jernih bercucuran. Ia meraung menangis kencang sekali tapi rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan rasa sakit dihatinya.
Pak Romi dan bu Meila yang tengah berpelukan dengan Davin, menyadari keberadaan Salsa dalam kondisi tidak baik. Bu Meila menyuruh Davin untuk masuk kamar.Sementara pak Romi bergegas menuju kamar Salsa, ia merasa panik setelah mendengar tangisan anaknya.
Tuk..tuk..
"Nak, kamu kenapa? Buka pintunya!" pak Romi begitu panik apalagi pintu kamar Salsa terkunci.
Seketika datang bu Meila menghampiri pak Romi, bu Meila pun berusaha mengetuk pintu dan membujuk Salsa agar mau membukakan pintu.Tapi tetap saja hasilnya nihil,Salsa tak kunjung membuka pintu. Pak Romi dan bu Meila semakin panik, akhirnya pak Romi mendobrak pintu kamar Salsa seketika di dapati Salsa tergelatak di lantai dengan tangannya dipenuhi darah. Bu Meila menangis histeris melihat anaknya, begitupun pak Romi, seorang pria paruh baya yang tak pernah menangis akhirnya menitikkan air mata melihat kondisi anaknya. Pak Romi bergegas menggendong Salsa dan membawanya menuju rumah sakit.