
Bumi terus berputar, waktu terus berlalu, hari berganti diawali dengan pagi yang sangat cerah.Kicauan burung membuat suasana lebih baik.
Setelah kejadian beberapa waktu lalu, Salsa selalu di awasi oleh sebagian anak buah Edgar. Tapi sialnya selalu kecolongan, mungkin karena anak buahnya terlalu lalai dalam menjalankan tugas.
"Kamu siapa?kenapa aku ada disini?"
Salsa terbangun dengan tangan dan kaki terikat. Seseorang dengan berpakaian serba hitam membelakangi Salsa.
"Apa kamu tidak mengingatku?"
"Siapa? Bahkan aku tidak mengenali suaramu?"
Seketika ia membalikkan tubuhnya tampaklah seorang pemuda dengan tubuh kekar tinggi, yang wajahnya tak kalah tampan dari Edgar.Ia tersenyum menyeringai.
"KAMU!!! Mau apa kamu? Lepaskan aku!"
"Jangan seperti itu Salsaku yang manis, semakin aku melihatmu marah. Gairahku semakin meningkat!" sahut pemuda itu menatap tajam seakan-akan ingin melahap tubuh Salsa.
Edgar, aku takut, tolong aku!
***
Edgar baru bangun dari tidurnya,ia tersentak memanggil nama Salsa, mungkin mimpi buruk.
Kenapa perasaanku tidak enak begini? Lebih baik aku menelpon Salsa untuk memastikan.
Tut...tut...tut...
Ayo angkat sayang, kamu baik-baik saja kan?
Edgar mulai cemas, ia terus menelpon Salsa berulang-ulang.Tapi nihil tidak ada jawaban apa-apa. Ia tersadar beralih menelpon...
"Hallo,"
"Tugas kalian cek keadaan Salsa dan pastikan dia baik-baik saja!!"
"Ba,baik tuan."
Tak berapa lama Edgar sudah rapi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Tiba-tiba.
"Maaf tuan saya lancang tidak memberitahu terlebih dahulu,"sahut penjaga menunduk dengan tubuh gemetar.
"Ada apa kalian kemari?"
"Tuan kami mendapat informasi bahwa nona Salsa hari ini tidak masuk sekolah dan sudah tidak pulang dari kemarin,"
Sontak mendengar hal itu membuat Edgar semakin cemas, ia bergegas melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Tak berapa lama tiba di sebuah gubuk kumuh yang jauh dari pemukiman. Terdengar suara menjerit meminta tolong. Edgar bergegas menuju gubuk tersebut yang dijaga oleh beberapa orang. Terjadi perkelahian.
Brugh
Edgar melihat Salsa yang kancing bajunya setengah terbuka. Melihat itu membuat Edgar semakin geram seperti orang yang akan membunuh. Dan pukulan keras mendarat di wajah pemuda itu yang tak lain Leondra Wijaya. Darah segar mengalir dari hidungnya.
"Beraninya kau menyentuh Salsa!!!" sahut Edgar dengan penuh kemarahan berusaha melindungi Salsa yang tubuhnya semakin bergetar.
"Ternyata kau berani juga!" Seringai di bibir Leon.
Dan pukulan keras kembali menghantam pemuda itu.
"Apa-apaan ini? Hanya segitu nyali kau hingga membawa ratusan anak buah?" Ancam Leon.
Edgar sudah tidak bisa menahan amarahnya, ia terus memukuli Leondra hingga terkapar dengan berlumuran darah.
"Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang berani menyentuh wanitaku!!!"
Edgar membawa Salsa pergi. Semenjak tadi Salsa hanya diam dan tubuhnya bergetar hebat melihat kejadian yang dilihatnya.
"Sayang kamu tidak apa-apa kan? Jangan membuatku khawatir." Sahut Edgar dengan nada lirih.
Edgar membenarkan kancing baju Salsa dan membawa Salsa menuju rumahnya, karna kalau sampai ia membawanya pulang ke rumah Salsa, itu akan banyak sekali pertanyaan dari kedua orang tuanya.
Sementara Leondra,entah bagaimana nasibnya. Karna Edgar tidak akan membiarkan Leondra hidup dengan tenang.
***
"Sayang, aku takut," Salsa yang hanya diam mulai berbicara dan menangis dipelukan Edgar.
"Kamu jangan takut, aku ada disini untukmu. Sudah jangan menangis lagi,"
"Berjanjilah kamu akan selalu melindungiku," sahut Salsa dengan nada lirih.
"Iya, aku janji sayang," Edgar semakin erat memeluk Salsa.
Tak berapa lama datang beberapa pelayan dan membantu Salsa membersihkan tubuhnya. Sebagian sedang menyiapkan makan malam. Sementara itu Edgar sedang menelpon dengan anak buahnya dan dia sudah memastikan bahwa orang itu tidak akan muncul lagi di hadapannya.
***
Vini,Lia dan Hazrina merasa khawatir dengan Salsa tapi mereka yakin dan sudah memastikan bahwa Salsa baik-baik saja selama Edgar ada bersamanya.
"Hey kalian tahu gak?" tanya Vini sumeringah.
"Ada apa gitu?" Hazrina balik tanya.
"Pacar aku mau ke sini." Sahut Vini dengan wajah bahagia.
"Wah asyik dong bawa oleh-oleh," sahut Lia bersemangat.
"Yuppss.. pastinya nanti kalian kebagian kok."
"Yeayy terimakasih sebelumnya,"
Satu jam berlalu terdengar suara ketukan pintu.Ketika pintu di buka...
"Beb.." seorang pria memeluk Vini. pria bertubuh sedang dengan kemeja panjang berwana hitam, wajahnya yang tampan membuat Hazrina dan Lia terpesona.
"Kamu sudah datang Ay, ayo masuk," sahut Vini melingkarkan tangannya di lengan pria itu.
Hazrina berbisik,"Wah ternyata pacarnya Vini tak kalah tampannya sama Edgar ya,".
"Iya, aku jadi iri sama mereka, coba aja kita punya pacar atau bisa suami deh," sahut Lia yang terus menatap Wahyu.
"Kalian jangan gitu, jaga mata!!" kata Vini sontak menyadarkan Hazrina dan Lia dari kekagumanannya.
"Eh tidak ko," jawab Hazrina dan Lia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Hazrina dan Lia menghabiskan waktu membuka berbagai bingkisan yang di bawa Wahyu. Sementara Vini sedang bermanja ria dengan Wahyu.