Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
Long Distance Relationship


"Apa kamu mau berkenalan lagi dengannya?" Goda Edgar.


"Isstt... apa si Ed," ketusnya.


Edgar menarik pinggang Salsa hingga wanitanya jatuh dalam dada bidang Edgar.


"Ayolah sayang, aku merindukanmu," bisiknya di telinga Salsa.


Salsa memberontak berusaha melepaskan pelukannya.


"Aku tidak mau Ed, aku mau menikah dulu." Usulnya.


Edgar terbelalak kaget mendengar hal itu senyumnya seketika mengembang.


"Apakah benar kamu mau menikah denganku?"


"Aku tidak mengatakan mau menikah denganmu?"ledeknya.


"Tadi kamu mengatakan mau menikah?"


"Iya tapi aku tidak mengatakan mau menikah dengan siapa-siapanya." Ledeknya menjulurkan lidah.


"Ck, awas ya Sa," dengus Edgar kesal.


Salsa berlari meninggalkan Edgar yang mendecak kesal. Ia tertawa melihat kekesalan di wajah Edgar. Salsa duduk di sebuah sofa sebari melihat acara televisi lalu Edgar datang menghampiri dan tidur di paha Salsa.


Mereka saling bertatapan, pria itu tersenyum melihat wajah wanitanya yang mulai berseri-seri. Salsa mengelus rambut Edgar.


"Sayang, nanti sore aku harus segera pulang karena ayah menyuruhku untuk menggantikannya di perusahaan. Besok pagi aku ada meeting dengan klien,"


Tiba-tiba wajah berseri itu kembali ditekuk, entah mungkin perasaannya tidak ingin berjauhan.


"Eh sayang kamu jangan sedih gitu, kamu kan bisa ikut ke sana dan ajak Zia juga."


"Tapi aku tidak bisa Ed, aku harus tetap disini karena ayah menyuruhku untuk tinggal disini," lirihnya terdengar isak tangis.


"Ya sudah tidak apa-apa, kamu disini saja. Nanti aku bakalan sering ke sini, bukankah walau raga kita terpisah jauh tapi hati kita selalu dekat." Sahutnya berusaha menenangkan.


Salsa memeluk Edgar sangat erat, seharian ini ia terus menangis. Rasanya terlalu berat untuk menyikapi kedewasaan. Edgar membalas pelukan itu sebari menciumi puncak kepala Salsa, mengusap-usap punggung untuk menenangkan hati wanitanya.


Sangat berat bagi kedua pasangan yang harus menjalani long distance relationship atau LDR. Yap, inilah hubungan yang berbeda dengan hubungan pada umumnya. Karena terdapat jarak di antara keduanya. Tidak berada di satu kota yang sama bukanlah hal yang mudah. Salsa bahkan tidak bisa setiap saat bertemu dengannya baik itu sekedar nonton ataupun dinner bersama.


Banyak pasangan yang masih bertahan dengan hubungan jarak jauh ini, tetapi banyak juga yang bertahan dengan berkompromi berdua. Sebenarnya tidak sulit, hanya saja mereka perlu membuat taktik dalam menjalani hubungan itu.


Seperti namanya, LDR merupakan hubungan antara dua orang yang terpisah jarak. Nggak ada ketentuan sejauh apa jarak yang memisahkan mereka berdua sehingga layak disebut LDR.


Salsa berusaha tersenyum tapi ia enggan melepaskan pelukannya. Begitupun dengan Edgar, ia menutupi kesedihannya. Seorang anak kecil menghampiri kedua orang dewasa itu yang tengah berpelukan.


"Ateu, om, Zia mau dipeluk juga." Sahutnya polos mendekati Salsa dan Edgar.


"Sini manis," Edgar melentangkan kedua tangannya.


Zia langsung menggapai dan mereka saling berpelukan. Seketika Zia tertawa mengalihkan perhatian Salsa dan Edgar padanya.


"Zia sayang kenapa ketawa?" tanya Salsa.


"Hehe, enggak ateu, Zia cuman ingat sama teletubies. Mereka suka berpelukan,"


Edgar ikut tertawa mendengar alasan Zia. Seketika ia pun mengingatnya.


"Tinky winky,"


"Dipsy, Laalaa,"


"Poo,"


Mereka bertiga tertawa bersama-sama. Tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu. Salsa beranjak berdiri dan membukakan pintu.


"Om, tante, kalian sudah kembali? kenapa tidak bilang dulu, aku belum menyiapkan makanan buat kalian." katanya sebari mencium punggung tangan om dan tantenya.


"Tidak perlu my sister, I already brought food for you guys," sahutnya memberikan bingkisan besar pada Salsa.


"mommy," anak kecil itu berlari memeluk ibunya.


"Honey, how are you?"


"I'm good mom, i miss you."


"I miss you to,"


"Zia, tidak rindu sama daddy?"


Seketika matanya beralih memandang ayahnya dan melepaskan pelukan ibunya.


"Daddy," sahutnya polos air mata itu mengalir.


"Anak daddy kenapa menangis?" tanyanya sebari menghapus air mata di pipi Zia.


" I miss mom and dad,"


Mereka bertiga berpelukan sangat erat. Salsa melihat itu seketika teringat saat bersama ayah dan ibunya. Ia sangat merindukan keluarganya.


Edgar yang sedari tadi memerhatikan mereka, mulai melangkah menghampirinya. Ia mendekati Salsa dan melingkarkan tangannya di bahu Salsa.


"Salsa, who is he?" tanya Tante Maria menunjuk ke arah Edgar.


Tak sempat Salsa menjawab, Edgar mencium tangan tante Maria.


"I'm Edgar, aunty."


Salsa langsung mengalihkan pembicaraan mereka.


"Om, tante, lebih baik kita mengobrol di dalam saja," usulnya.


"Ok."


Mereka semua masuk ke dalam rumah dan berkumpul di ruang keluarga. Salsa beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Begitu banyak makanan instan dan sudah matang yang diberikan oleh tantenya. Bahkan di makan oleh seratus orang pun tidak akan habis. Kira-kira makanan yang tahan lama, ia masukkan ke dalam kulkas. Mungkin cukup untuk satu bulan.


Ya, tante Maria berasal dari Korea sedangkan om Haris berasal dari Indonesia. Mereka bisa bertemu karena saat itu sedang bersama dalam acara pernikahan salah satu kliennya. Sejak saat itulah tumbuh biji-biji cinta di dalam hati masing-masing. Cara berbicara tante Maria selalu menggunakan bahasa Inggris karena jika berbicara bahasanya, banyak yang tidak mengerti. Entahlah jika marah pada suaminya, ia selalu menggunakan bahasa Korea. Om Haris mana mengerti, ia tidak begitu ahli dalam berbahasa Korea.


Makanan sudah siap, mereka berkumpul di meja makan fokus menyantap makanan. Tidak ada yang bersuara hanya ada suara dentingan sendok,garpu dan piring.


Setelah selesai makan, mereka kembali mengobrol saling bertukar pengalaman dan bercerita tentang kasmaran tante Maria dan Om Haris.


Tak terasa waktu sudah menjelang sore, Senja meliputi langit-langit yang indah untuk dipandang. Edgar tengah berpamitan untuk pulang. Wajah Salsa sedari tadi hanya di tekuk dan terus menunduk, enggan menatap wajah Edgar. Berat sekali rasanya harus berjauham dengan orang yang dicintai.


Edgar mencium punggung tangan tante Maria dan om Haris lalu menggendong Zia, memeluknya sesaat. Tatapannya beralih pada wanita yang tengah tertunduk menyembunyikan kesedihannya, bisa dilihat dari matanya disana cairan bening mulai membendung.


Edgar menghampiri Salsa dan memeluknya erat. Edgar pun berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Jaga diri baik-baik ya sayang, ingat jangan menangis, aku pasti akan kembali untuk menjemputmu. Jangan khawatir meski kita tidak bertemu tiap saat tapi ingat aku selalu ada dihatimu," sahut Edgar memeluknya dengan sangat erat.


"Aku pasti merindukanmu Ed," mulai terdengar suara isak tangis.


"Nanti pasti aku selalu menghubungi kamu honey, jangan menangis lagi, jelek tahu," ledek Edgar mencubit hidung Salsa.


"Iya Ed, janji ya?" Salsa menatapnya lekat.


"Aku janji honey," sahutnya tersenyum.


Salsa pun melepaskan pelukannya. Edgar tersenyum menatapnya dan mendaratkan bibirnya di bibir Salsa. Ia menerimanya dan menikmati sentuhan bibir Edgar. Lama sekali mereka berciuman untuk melepaskan semua beban di hati dan saling berjuang untuk menghadapi semua ini.


Tante Maria dan om Haris yang memerhatikan mereka,ikut sedih karena mungkin teringat saat mereka pacaran dulu sering menjalani hubungan jarak jauh. Mereka berdua saling berpelukan bersama Zia.


"Sudah jangan menangis lagi ya honey." sahut Edgar mencium kening Salsa dan beranjak pergi.


Salsa tersenyum, "Iya sayang, aku mencintaimu." sahutnya seketika mencium pipi Edgar.


"Aku juga mencintaimu," mencium bibir Salsa sekilas.


Edgar tersenyum memandangnya dan bergegas menuju mobilnya. Ia melihat Salsa dari kaca mobil yang mulai dilajukan, berlalu meninggalkan wanita yang dicintainya.