
Hi readear and author Happy reading😍
Semoga suka yaa. Mohon dukungannya jangan lupa, like, rate dan vote😍
***
Hazrina pun mengulurkan tangannya lalu diraih oleh wanita itu.
"Hazrina,"
"Kenalkan namaku Sri Alexcia,"
Hazrina menanggapinya dengan senyuman. Tak terasa malam pun semakin larut, ketiga wanita itu bergegas untuk pulang. Sementara Sri masih menginap di rumah Edgar, dikarenakan keadaannya belum cukup membaik.
Setelah kepergian tiga wanita itu, Edgar bergegas menuju kamarnya. Saat akan menaiki tangga, tangan Edgar di tahan oleh seseorang. Edgar membalikkan tubuhnya lalu menatap perempuan itu yang seketika memeluk tubuhnya.
"Kak, terimakasih ya," ucapnya tulus.
"Sama-sama tapi tolong lepaskan pelukan lo dari gue!" Ketusnya.
"Kak," wanita itu menatap lekat wajah Edgar, menjeda ucapannya. " Boleh aku peluk sebentar, aku cuman ingin merasakan kenyamanan," lirihnya mulai terdengar isak tangis.
Edgar membiarkan wanita itu memeluknya, tapi dalam hatinya ia merasa takut.
Honey, aku minta maaf, maaf dan maaf. Gumamnya dalam hati seraya melepaskan pelukan wanita itu.
Tetapi wanita yang saat ini sedang memeluknya enggan untuk melepaskannya. Ia merasa nyaman membenamkan wajahnya di dada bidang Edgar. Tercium wangi parfum dengan aroma tubuh khas pria.
"Maaf, tolong lepaskan!"
Wanita itu tak bergeming masih tetap memeluk tubuh Edgar.
"Gue bilang lepaskan, sebelum gue bertindak kasar!" mulai meninggikan nada suaranya menahan amarah yang mulai membara.
Tak ada respon sama sekali, wanita ini benar-benar tidak takut dengan ancaman Edgar.
"SRI, udah gue bilang LEPASKAN!" seketika Edgar mendorong tubuh Sri hingga tersungkur ke lantai.
***
Sedangkan di dalam sebuah kamar yang begitu megah dan luas, dua pasangan sedang menikmati puncak nirwana. Seketika mendengar keributan di luar, kedua pasangan itu terkejut langsung memunguti pakaiannya yang berserakan dimana-mana lalu memakainya kembali dan bergegas menuju ruang depan.
Seketika melihat seorang wanita tersungkur di lantai, Bunda Elia menghampiri wanita itu lalu memeluknya. Sementara pak Erwan menatap tajam ke arah anaknya.
"APA YANG KAMU LAKUKAN ED!!" bentaknya.
Edgar hanya menunduk jika sudah berhadapan dengan kedua orang tuanya. Akan tetapi ada seringai senyum puas di balik pelukan bunda Elia.
Edgar tidak menjawab, ia berlalu meninggalkan ruang depan, menaiki tangga lalu memasuki kamarnya.
Di dalam kamar ia tampak frustasi, mengacak gusar rambutnya. Ia langsung mengambil ponselnya yang sudah mati karena belum sempat di cas. Ia mengambil charger menyalakan ponselnya. Benar saja banyak pesan masuk dari Salsa.
Ia jadi teringat wanitanya, langsung saja ia menghubungkan video call bersama Salsa. Sambungan pun terhubung, di layar ponsel nampak wajah Salsa yang ditekuk.
"Hai Honey, how are you?"
" I'm fine Ed, " jawabnya masih dengan wajah ditekuk.
"Honey, kamu jelek, kenapa cemberut begitu?" tanya Edgar tersenyum melihat wajah Salsa yang semakin menggemaskan.
" Kamu kemana aja Ed, aku kan khawatir. Apa kamu tidak merindukanku? "
"Bukan begitu honey, maafkan mungkin aku terlalu lelah hari ini."
" Ya sudah, aku maafkan. Ed, kamu baik-baik saja kan? "
"Ya, honey aku baik-baik saja. Memang kenapa honey?"
" Gak apa-apa, aku hanya ingin tahu saja." Sahut Salsa menjulurkan lidahnya.
"Honey kamu menggemaskan, apa kamu menggodaku?"
"Kamu itu memang selalu menggodaku Honey,"
" Ih Edgar apa si! Aku kan jadi malu."
Seketika pipi Salsa berubah seperti kepiting rebus. Edgar pun tergelak tertawa melihat wajah Salsa.
" ih, kamu kenapa ketawa?"
" Pipimu honey merah," Edgar menjeda ucapannya kembali tertawa. "Apa kamu sedang malu?"
" Edgar ih udah tahu aku malu, kamu terus saja memojokkanku,"
"Kamu lucu dan menggemaskan honey, kalau saja dekat habislah kamu," sahutnya menggoda.
Salsa pun bergidik takut. Edgar semakin tergelak tertawa.
" Memangnya aku makanan?" sahutnya dengan wajah cemberut.
"Aku bercanda honey, tapi aku serius ingin melahapmu. Pipimu merah macam kepiting rebus," ledeknya.
" Edgar ih gak lucu,"
"Honey sudah malam, apa kau tidak ingin tidur? Aku sangat lelah hari ini."
" Ya sudah cepat tidur jaga kesehatan ya Edgar sayang,"
Edgar tersenyum.
"Apa kamu sedang perhatian padaku honey? Tadi kamu panggil aku apa ? Coba ulang!"
" Iya Edgar sayang, i love you,"
" Love you too."
Sambungan video itu terputus, Edgar merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan terlelap tidur.
**
Di sebuah kamar tamu, seorang wanita sedang menatap kagum akan kamar itu.
Kamar tamu seluas dan semewah ini, apalagi kamar khusus yang punya rumah ya? Pasti jauh lebih mewah dari ini. Gumamnya.
Wanita itu tak lain adalah Sri Alexcia. Ia sedang mengamati setiap sudut kamar itu. Membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia teringat suatu barang lalu mengambil dari saku celananya, itu sebuah ponsel miliknya.
Saat ponsel itu di buka tampak foto dirinya sedang bersama dengan kekasihnya. Seketika ia pun teringat dengan kekasihnya itu, cairan bening yang tak di sangka menetes begitu saja membasahi permukaan pipinya.
Saat ini Sri sangat merindukan sosok Rizky. Selalu terngiang di telinganya, ucapan cinta dan ketulusan Rizky padanya. Ia berpikir tidak akan bisa melupakan kekasihnya.
Tapi mengapa takdir begitu jahat padanya?
Mengapa tuhan mengambil orang yang sangat berharga bagi dirinya?
Sri benci dengan semua kenyataan ini. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri. Mungkin jika ia terua memeluk Rizky dan tidak membiarkan dia pergi, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Cairan bening itu terus mengalir semakin deras menetes pada permukaan layar ponselnya. Ia hanya memaki dirinya sendiri. Dari kejadian inilah sikap kepolosan dan kesederhaannya berubah drastis. Ia merasakan sakit yang begitu dalam atas kepergian kekasihnya.
Jalan hidupnya sekarang ia selalu melihat orang dari sisi luarnya. Menganggap semua orang disekitarnya tampak bahagia dan sangat beruntung. Tidak seperti dirinya menahan ribuan luka yang entah sampai kapan untuk kembali menyembuhkan luka itu. Ia merasa dunia tidak adil terhadapnya.
***
Terimakasih untuk semua dukungannya sudah selalu menyempatkan waktu luang untuk membaca novelku. Aku masih belum ahli dalam membuat novel ataupun tutur katanya. Jadi mohon dimaafkan karena aku juga masih proses belajar untuk selalu memberikan yang terbaik untuk pembaca.
Maafkan jika masih banyak typo atau kesalahan karena manusia tidak ada yang sempurna. Yang sempurna hanya Allah swt.😍
Semangat terus untuk para author semoga sukses selalu. Terimakasih😘