
Setelah mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Edgar memberhentikan mobilnya di sebuah tempat Black Devil. Ia menggusar rambut kepalanya ke belakang, sangat pening terasa ingin menghajar ribuan orang yang ada di muka bumi ini.
Ya memang cinta itu buta bisa membuat seseorang yang lemah lembut menjadi brutal. Bahkan orang pendiam saja dalam sekejap bisa menjadi paling menakutkan sejagat raya jika sudah berurusan dengan cinta. Itulah cinta tidak bisa di tebak kapan ia datang dan pergi.
Sial! Saat ini gue benar-benar lelah. Gerutu Edgar terus menggusar rambut kepalanya.
Ia keluar dari mobil, berjalan memasuki tempat itu. Banyak sekali wanita cantik dengan pakaian sangat minim. Edgar sama sekali tidak tertarik melirik sedikit pun ke arah wanita yang mencoba menggodanya.
"Cowok tampan, mari bersamaku!" Sahut salah seorang wanita itu menggoda Edgar.
Edgar hanya acuh tidak menjawab atau pun menoleh, Ia tetap terfokus berjalan. Seketika pandangannya tertuju pada seseorang. Ia pun menghampirinya lalu menepuk bahu pria itu tapi Edgar malah mendapat satu pukulan.
Brugh ....
Edgar tersungkur ke lantai, bibirnya yang sedikit sobek mengalirkan darah merah yang begitu segar. Padahal ia sudah dengan susah payah mengendalikan emosinya semenjak berlalu dari rumah Salsa namun seketika emosi itu kian membara, terlihat jelas dengan otot rahangnya yang mengeras. Matanya menatap tajam ke arah pria itu sementara pria itu sesegera mungkin mendekati Edgar.
"Ya ampun gue kira siapa, sorry gue gak sengaja. Tidak perlu marah begitu. Gue bisa pukul diri gue sendiri!"
Brugh ....
Pria itu dengan bodohnya memukul wajahnya sendiri hingga menyobekkan sedikit sudut bibirnya mengalirkan sepercik darah. Edgar yang melihat itu tertawa. Ia tidak menyadari bahwa di sekelilingnya, semua mata itu tertuju pada dirinya.
Edgar mendekati pria itu lalu menjentikkan jarinya di kening pria itu.
"Dasar bodoh, gue gak minta lo buat ngelukain diri lo ban*sat!"
"Kenapa lo gak ngomong dari tadi, kalau tahu begitu gue gak akan pukul wajah ganteng tingkat dewa ini, mana sakit lagi!" sahutnya mendengus kesal.
Edgar kembali tergelak, ia membantu pria itu berdiri.
"Tumben lo ke sini, gak di marahi Salsa?" ujarnya meledek.
"Jaga mulut lo!" Edgar mendengus kesal.
"Lo ada masalah?"
Edgar hanya diam lalu memanggil pelayan di sana dengan sigap pelayan itu menghampiri Edgar.
"Iya tuan bisa saya bantu?"
"Ambilkan saya sebotol dalmore!"
"Ba-baik tuan." Pelayan itu terkejut mendengarnya.
"Woy Edgar Atmaja, gue juga tahu lo itu kaya raya bahkan anak buah lo ada dimana-mana. Gue juga tahu uang lo gak akan habis sampai tujuh turunan tapi jika untuk sebotol delmore mending lo pertimbangkan kembali!" sahut pria itu.
"Lo menghina gue? Memang lo pikir gue gak mampu membeli sebotol delmore itu?"
"Gue percaya lo mampu maka dari itu gue mau minta," sahutnya terkekeh.
Edgar memukul kepala pria itu yang tak lain adalah sahabatnya.
"Lo ada masalah apa? setahu gue lo gak pernah ke tempat begini lagi semenjak jadian sama Salsa kan?"
Mendengar nama itu terucap kembali, kepalanya semakin pening. Ia menggusar rambutnya mengacak-acak.
Arrgghh!
"Benar kan lo ada masalah?"
Edgar hendak menjawab,
"Maaf tuan, ini delmore nya!" sahut pelayan itu tersenyum simpul memberikan sebotol delmore dan menaruhnya di atas meja berlalu kembali ke tempatnya.
Edgar hanya cuek tidak menanggapi, ia menuangkan delmore itu ke dalam gelas lalu meneguknya.
"Wah, wah gue mau coba gimana rasanya minuman alkohol yang seharga tiga milyar itu?"
tanyanya sebari menuangkan ke dalam gelas.
Edgar mulai merasakan badannya sedikit nyaman, pening itu sedikit menghilang.
"Jadi katakan lo ada masalah sama Salsa?"
"Ya, gue sudah muak dengan semua ini, kepala gue terasa ingin meledak!" jawabnya dengan sedikit mengigau, efek dari minuman itu karena sedari tadi Edgar terus meneguk minuman itu tanpa henti.
"Memang ada masalah apa sampai membuat lo seperti ini? Selama gue kenal lo, lo gak akan segila ini!"
"Gue lelah berjuang, gue cape Rid. Saat gue serius tapi bapaknya gak nerima ketulusan gue!"
Edgar yang setengah sadar seketika teringatkan tentang perbuatannya satu tahun yang lalu. Ia sudah berjanji untuk tidak meninggalkan Salsa tapi sekarang itu mungkin sudah berbeda.
"Dari mana lo tahu semua tentang gue, dasar Ridwan Zaelani. Penguntit!"
"Gue ini sahabat lo dari kecil, apa si yang gak gue tahu tentang lo?"
Edgar hanya terdiam, kesadarannya mulai hilang karena sebotol delmore itu telah habis di teguknya. Akhirnya ia terlelap, lagi-lagi Ridwan yang harus kesusahan membawa Edgar ke dalam mobil.
Ia melajukan mobil Edgar dengan kecepatan sedang sementara mobilnya di bawa oleh anak buahnya. Ia berpikir sejenak mungkin lebih baiknya dia membawa Edgar ke rumahnya.
***
Hingga satu jam berlalu akhirnya sampai di rumah kediaman Ridwan Zaelani. Saat itu malam sudah semakin larut. Ridwan membawa Edgar masuk ke dalam rumahnya namun saat di buka rumah itu tampak sepi sekali.
Wah kenapa rumah gue macam kuburan, kemana dua singa betina itu? Gumam Ridwan.
Ia masih teringat saat ia berlalu menuju Black Devil, kedua singa betina itu masih berkelahi.
Edgar kembali mengigau. Ridwan menutupi hidungnya dengan sebelah tangannya karena bau alkohol dari mulut Edgar sangat begitu menyengat.
"Lo bisa diam gak si, mulut lo bau comberan!" Ketus Ridwan.
Edgar yang kehilangan kesadaran malah tertawa seketika Ridwan membungkam mulut Edgar dengan sebelah tangannya.
"Sudah gue bilang diam, jangan berisik nanti dua singa betina gue bangun!"
Saat berjalan menuju kamar tamu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Ridwan terkejut hingga akhirnya tangan yang memegang tubuh Edgar refleks ia lepaskan, seketika itu juga Edgar tersungkur tergeletak di lantai.
Susi yang mendengar itu berlari mendapati Ridwan yang tengah berdiri mematung menatapnya, ia tidak sadar Edgar sudah tergelatak di lantai.
"Ya ampun mas!" sahut Susi menatap Ridwan lalu menghampiri Edgar.
Eh apa dia bilang? Gak salah tuh manggil Ridwan dengan sebutan mas?
Ridwan yang menyadari tangannya tidak menopang tubuh Edgar seketika matanya membelalak melihat Edgar tergeletak di lantai.
"ASTAGA!"
Ridwan langsung membantu mengangkat tubuh Edgar kembali dibantu oleh Susi. Namun pandangan matanya seketika terfokus pada gunung kembar yang tercetak jelas di balik kaos tipis Susi.
Ya, Susi tidak memakai bra, ia hanya mengenakan kaos putih berbahan tipis dan sedikit ketat hingga memperlihatkan gunung kembarnya yang membusung menantang di balik kaos itu. Lagi-lagi Ridwan menelan ludahnya, tubuhnya mulai terasa memanas. Ia tidak sadar si joninya sudah berdiri.
Ya ampun pemandangan indah, gunung kembar yang bulat dan besar sepertinya akan terasa nikmat. Gumamnya dalam hati.
Susi yang menyadari itu langsung menyadarkan Ridwan.
"Mas ih ayo bawa ke kamar tamu, berat tahu!"
"Eh iya gue sampai lupa." sahutnya senyum jenaka.
Susi hanya mengedipkan sebelah matanya menggoda Ridwan. Setelah itu mereka berdua membawa Edgar menuju kamar tamu dan membaringkan tubuh Edgar di atas ranjang.
Setelah itu Susi keluar, namun seketika Ridwan menarik tangan Susi hingga posisi mereka saat ini sangat intim.
"M-Mas mau apa?" tanya Susi mendongkakkan wajahnya menatap Ridwan.
Seketika Ridwan mendekatkan wajahnya berbisik pada wanita itu.
"Mari sayang, kita lanjutkan!" Bisik Ridwan menggoda.
Seketika Susi tersenyum nakal, menekan dadanya pada dada bidang Ridwan. Lagi-lagi tubuh Ridwan menjalar panas, ia tidak membuang waktu lagi langsung saja menggendong Susi lalu membawanya menuju kamarnya.
Hingga malam itu menjadi malam yang panjang pergulatan yang sangat ganas terjadi di sebuah kamar.
Lalu Sri dimana?
Kemana dia tidak terlihat batang hidungnya?
Ya, wanita itu sudah terlelap tidur pulas di dalam kamar karena badannya terasa sangat sakit setelah perkelahiannya dengan pembantu itu yang tak lain adalah Susi seperti yang dia katakan wanita tikus.
****
Hai readers setia Menikah Muda, aku sebenarnya sudah up setiap hari tapi entahlah kenapa novelku ini semuanya sangat lama di acc. Aku syedih syekali. Jangan marah padaku ya, karena aku sllu berusaha untuk terus up secepat mungkin namun keputusan terbit balik lagi sma pihak NT.
Jangan lupa dukungannya biar aku semangat terus! Yu bom like, vote dan bantu naikkin rate ya.
Terimakasih salam sayang dari author.