
Saat Edgar dan Ridwan tengah asyik melihat dua singa betina yang sedang berkelahi, terdengar suara ponsel berdering. Seketika dilihat nomor asing, Edgar mengabaikannya dan kembali melihat kedua wanita itu.
Ridwan melihat mereka hanya tersenyum, pikiran kotornya selalu terngiang di kepalanya.
Andai saja, gue bisa tidur sama dua perempuan itu. Gumamnya dalam hati.
Namun, ponsel itu terus berdering. Ridwan fokusnya mulai teralihkan pada ponsel milik Edgar.
"Woy, lo angkat dulu apa itu ponsel bunyi terus. Kepala gue pening mendengar ponsel lo yang berdering tak henti. Berisik tahu."
"Gue malas angkat telepon, biarkan sajalah."
Edgar menarik kursi, pandangannya hanya fokus pada dua wanita sexy itu. Entah saat ini, ia sedang tidak ingin memikirkan apapun.
Ridwan berdecak kesal lalu ia mengambil ponsel Edgar dan mengangkat telepon itu. Terdengar suara wanita paruh baya.
"Hallo."
"Iya hallo, maaf ini dengan siapa?"
"Maaf nak Edgar, ini ibu Salsa."
"Maaf bu, saya Ridwan, sahabatnya Edgar."
"Nak Ridwan, kalau boleh tahu nak Edgar kemana ya?"
"An-anu bu, Edgar lagi mandi. Jadi, saya yang nerima telepon ibu."
Mulai terdengar suara isak tangis disela kalimatnya. Ridwan memang tahu ada masalah dengan sahabatnya itu. Tapi mendengar seorang ibu menangis Ridwan rasanya ikut merasakan sedih.
Semenjak kecil sampai dewasa Ridwan tidak merasakan kasih sayang seorang ibu. Ibunya meninggal saat melahirkan dirinya. Mata indah itu mulai berkaca-kaca.
"Nak, apakah ibu bisa meminta tolong?"
Ridwan langsung tersadar dari lamunannya.
"Iya bu boleh, apa yang bisa saya bantu?"
"Nak, ibu mohon bantu ibu. Seorang ibu tidak bisa menahan sakit jika melihat anak kesayangannya terpuruk dan berlarut dalam kesedihan. Ibu mohon bantu ibu membujuk Edgar supaya dia tetap mempertahankan apa yang sudah diperjuangkannya ...." lirihnya.
Ridwan merasakan sesak mendengar hal itu. Kenapa ibu Salsa berbicara seperti itu bisa membuat Ridwan ikut merasakan bagaimana perasaannya saat ini.
Kenapa suara ini begitu nyaman. Namun, kenapa mendengar ibu ini menangis, hati gue sakit.
Ridwan berpikir sejenak, padahal baru kali ini ia merasakan hal ini. Jika ayahnya yang mengatakan hal itu, ia bersikap biasa saja. Tapi kali ini, wanita paruh baya yang sama sekali belum pernah ia temui tapi ia merasakan sesuatu hal berbeda dalam dirinya.
Mungkin ini hanya perasaan kasihan gue. Mungkin juga karena gue rindu sama bokap.
"Baiklah bu, saya mengerti apa yang harus saya lakukan. Ibu tenang saja, jangan menangis lagi."
"Terimakasih nak, ibu tutup dulu teleponnya."
"Iya bu, sama-sama."
Akhirnya sambungan telepon terputus. Ridwan menghampiri Edgar yang tengah duduk meneguk minuman dengan matanya masih setia melihat kedua wanita itu.
Ridwan menghela nafas lalu menarik lengan Edgar berlalu dari sana.
"Lepas, lo gila ya," ketusnya, menepis pergelangan Ridwan di tangannya.
"Gue mau tanya sama lo, tapi lo harus jawab dengan jujur."
"Yaelah, memang kapan si gue bohong sama lo?"
"Ck, Gue serius Edgar Atmaja." Menggusar rambut kepalanya.
"Iya, mau bicara masalah apa?"
"Edgar, sebaiknya lo kembali sama Salsa. Saat ini, dia butuh lo. Jangan menyerah begitu saja. Ingat lo berdua pernah berjuang bersama-sama dari masa sekolah sampai sekarang."
Arghh ...
Saat ini Edgar benar-benar pusing, kepalanya pening setiap kali mengingat hal ini. Ia pun menunduk, menutupi kesedihannya.
Ridwan baru kali ini melihat sahabatnya sampai seperti ini. Mungkin, selama ini ia belum pernah merasakan arti cinta yang sebenarnya. Ia hanya tahu dan paling jago dalam masalah pergulatan di atas ranjang.
Sementara Edgar, saat ini ia teringat kembali masa-masa yang telah dilaluinya bersama Salsa.
Haruskah ia mempertahankan hubungannya?
Apakah harus kembali memperjuangkan hubungannya?
Mungkin Edgar, sempat berpikir akan menyerah dan menghapus semua kenangannya, mengakhiri hubungannya. Namun, saat Ridwan mengatakan hal tadi, pintu hatinya terketuk.
Ridwan menepuk bahu Edgar, memberikan sebuah semangat.
"Gue tahu lo masih mencintai Salsa, maka berusahalah untuk terus memperjuangkan milik lo," sahut Ridwan seraya memeluk Edgar, tanda peduli persahabatan.
Edgar tertegun dengan ucapan Ridwan. Semenjak kapan sahabatnya ini menjadi bijaksana. Edgar kira Ridwan hanya memikirkan pergulatan saja. Namun, nyatanya Ridwan mampu membuat Edgar sadar akan keputusannya.
"Baiklah, akan gue coba. Terimakasih Rid, lo benar-benar sahabat terbaik gue."
Ridwan hanya mengangguk mengulas senyum. Semula Edgar bersedih berubah menjadi terkekeh geli melihat senyuman Ridwan.
"Lo jangan senyum begitu, jijik gue."
"Hah, gue imut ya?" sahutnya menggoda Edgar dengan gaya yang seolah-olah seperti seorang wanita.
Akhirnya karena ucapan sahabatnya itu sekarang Edgar merasakan sedikit ketenangan dalam hatinya.
Edgar berpamitan pulang. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah tempat.
Satu jam berlalu, tempat yang begitu tidak asing. Semilir angin pagi menyentuh pori-pori kulit pria bertubuh kekar dan tinggi itu menampakkan wajah tampan yang memukau.
Saat ini, Edgar terduduk di dekat danau yang indah. Bayangan langit dan fajar yang indah nampak di air danau yang tenang.
Edgar melempar batu-batu kecil ke arah danau itu. Saat ia sedang terpuruk dengan keadaan, Edgar selalu melampiaskannya pada batu-batu kecil yang dilemparkan ke danau, untuk mengurangi sedikit keterpurukan hatinya.
Ia beranjak berdiri menuju ke arah mobil dan mengambil sebuah gitar. Edgar kembali terduduk, meratapi semua kepedihan hatinya.
Teruntuk kamu hidup dan matiku
Aku tidak pernah tahu harus mengungkapkannya dengan cara atau kalimat seperti apa?
Karena semenjak kamu hadir dalam hidupku
Aku merasakan apa arti cinta yang sebenarnya
Aku pernah berpikir untuk menyerah dan mengakhiri semua ini
Namun kamu kembali membuat aku percaya akan kata cinta
Dan benar bahwa cinta masih berkuasa di atas segalanya
Ketika hati yang mudah rapuh ini diuji oleh duniawi dan diuji terus menerus oleh cinta
~Edgar Atmaja~
Suara dentingan gitar mulai berbunyi. Edgar menyanyikan sebuah lagu.
🎶 Kutuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu
🎶 Takkan habis sejuta lagu
Untuk menceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi
Tuk menyuratkan cinta ini
🎶 Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
🎶 Aku pernah berpikir tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari
Yang kujalani sampai kini
🎶 Aku slalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi
🎶 Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukmu
🎶 Dan tlah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
🎶 Untukmu
Hidup dan matiku
Di balik sana, seorang wanita berdiri mendengarkan lantunan lagu yang terucap dari mulut pria yang saat ini benar-benar ia rindukan. Telaga bening mengalir membasahi permukaan pipinya.