
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, bel sekolah pun berbunyi . Pak Pupu membereskan buku mata pelajarannya dan berlalu dari ruang kelas. Begitu pun para siswa-siswi, mereka bersiap-siap untuk pulang.
Salsa dan ketiga sahabatnya tengah membereskan semua buku yang berserakan di atas meja, mereka bertiga terus memuji Salsa dan meminta Salsa untuk belajar bersama mereka. Hari ini hati Salsa sedang baik dan bahagia, Salsa sangat bersemangat.
"Sa, kamu kenapa sih dari tadi senyum-senyum sendiri?" tanya Vini mengamati wajah Salsa yang nampak berseri dengan senyum manis di bibirnya.
"Vini mau tahu saja atau mau tahu banget?" godanya berhasil membuat Vini semakin penasaran.
"Bangetlah, memang apa sih, kasih tahu dong."
"Hari ini, Edgar jemput aku."
"Wah soswet," sahut Lia menapakkan binar di matanya dengan wajah dibuat selucu mungkin.
"Ah ... aku jadi iri, inget sama Wahyu," sahut Vini memasang mimik wajah cemberut.
"Lah, aku kapan ya ada yang jemput?" sahut Hazrina tak kalah cemberut.
"Hazrin, bukannya kamu setiap hari juga di jemput, aku jadi iri mobil kamu banyak banget." Ungkap Vini.
"Ih ... itu kan mobil bus, supirnya juga sudah keriput."
"Hahaha ... sudah ih, apa sih kalian bawel bangt," ujar Salsa.
"Sudah yuk kita pulang, siapa tahu pacar tampannya Salsa sudah menunggu. Kasihan kan, kalau kelamaan menunggu itu lelah."
Akhirnya mereka berempat pun beriringan keluar dari kelas menuju gerbang utama sekolah. Sampainya di ambang pintu gerbang, benar saja ternyata Edgar sudah menunggu di bawah pohon besar di sana. Pria itu tengah terduduk di atas jok motor.
"Hem ... tenggorokanku sakit," ujar Lia.
"Ih Lia ..."
Salsa pun melangkah menghampiri Edgar lalu berpamitan pada ketiga sahabatnya.
"Hei, aku duluan ya, kalian hati-hati sampai bertemu besok."
"Ok, hati-hati juga," sahut mereka bertiga.
***
Edgar tersenyum melihat Salsa yang menghampirinya.
"Sayang, kamu sudah lama di sini?" tanya Salsa.
"Tidak kok sayang, yuk kita pulang!" ajak Edgar sebari mencubit pipi Salsa.
"Auuu ... sakit sayang ih, iya ayo!"
"Hahaha ... maaf tuan putri. Sayang pegangan dong!"
Salsa tersipu malu, ia melingkarkan tangannya di pinggang Edgar. Pria itu mulai melajukan motornya setelah meraih tangan Salsa dan menciumnya.
Jika ke sekolah Edgar selalu mengendarai motor. Ia paling tidak suka ke sekolah membawa mobil, belum lagi kalau dirinya kesiangan jalanan ibu kota sering sekali macet. Makanya salah satu kendaraan paling cepat itu motor, bisa di bawa menyelip kendaraan lain.
Selama perjalanan pulang mereka bercanda. Edgar selalu menggoda Salsa membuat gadis itu tersipu malu dan tertawa mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Edgar.
"Sudah sampai sayang," sahut Edgar.
"Loh kok ke sini sayang, kita gak langsung pulang?"
"Kita main dulu sayang, ayo aku tunjukin tempat yang bagus!"
Salsa mengedarkan pandangannya, melihat pohon-pohon tinggi menjuntai, udara yang begitu sangat terasa sejuk, kicauan burung yang riuh, bunga-bunga yang bermekaran serta di lengkapi kupu-kupu berterbangan.
Pandangan Salsa teralihkan pada sebuah danau yang indah dikelilingi bunga-bunga diwarnai oleh kumpulan kupu-kupu. Air yang jernih menampakkan langit senja yang begitu indah Namun tempat ini begitu sepi, mungkin hanya sebagian orang yang tahu tempat seindah ini.
"Indah sekali Ed," sahut Salsa takjub dengan keindahan alam ini.
"Aku suka banget," jawab Salsa sumeringah.
Edgar menarik tubuh Salsa hingga gadis itu terjatuh pada dada bidang milik Edgar.
"Ed ... jangan begini, aku malu," ujar Salsa tersipu malu dengan pipi yang berubah menjadi merah merona.
"Diam sayang, aku hanya ingin merasakan kenyaman seperti ini," jawab Edgar tersenyum manja.
Salsa menanggapinya dengan sebuah anggukan dan senyum kebahagiaan. Ia melingkarkan tangannya ke leher Edgar.
"Sayang, bolehkah? " bisik Edgar menggoda.
Salsa memejamkan matanya membuat Edgar mengukir sebuah senyum kebahagaiaan. Edgar dengan perlahan memanggut mesra bibir mungil itu. Suara decapan menghiasai ketenangan air danau. Udara yang begitu sejuk, pemandangan yang indah semakin membuat sepasang kekasih ini larut dalam gairah.
Cukup lama pagutan itu hingga akhirnya Salsa melepaskannya dengan nafas yang saling memburu, pelukan yang begitu erat.
"Sayang kenapa dilepas?" sahut Edgar manja.
"Ini sudah sore sayang, nanti ibu sama ayahku mencariku. Ayo kita pulang!" ajak Salsa.
"Hem, baiklah ...." jawab Edgar dengan nada terpaksa.
Akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk segera berlalu dari tempat itu. Edgar mulai melajukan motornya dengan sangat pelan. Sepanjang perjalanan pulang hanya terjadi keheningan di antara keduanya.
"Sayang kok diam terus, aku minta maaf ya nanti kan, kita bisa ke tempat itu lagi. Jangan marah!" sahut Salsa manja berusaha merayu Edgar.
"Ya, tidak apa-apa kok. Sudahlah lupakan saja," sahut Edgar cemberut.
"Jangan gitu Ed ... aku kan, jadi merasa bersalah sama kamu," sahut Salsa sebari membenamkan wajahnya di punggung Edgar.
"Sudah, aku tidak apa-apa. Jelek banget sih kalau cemberut begitu!"
"Ih Ed ...."
Salsa kembali tersenyum, mereka bercanda hingga tak terasa sudah tiba di kediaman rumah Salsa. Edgar langsung berpamitan untuk segera pulang karena hari sudah mulai gelap.
"Sayang, jangan cemberut terus ya," pinta Salsa dengan mata berbinar.
"Iya bawel, tidak kok," Edgar mencubit pipi Salsa pelan.
Salsa tersenyum lalu dengan cepat mencium bibir Edgar sekilas. Edgar yang secara tiba-tiba mendapat ciuman tanpa di pinta, menatap tidak percaya ke arah Salsa. Ia tersenyum memegangi bibirnya.
"Jangan di pegang begitu, nanti hilang loh bekas ciumnya," ledek Salsa terkekeh melihat tingkah kekasihnya itu.
"Ah kau ini bisa saja," ujar Edgar menjauhkan tangannya dari bibirnya itu.
"Ya sudah cepat pulang, nanti kabari aku kalau sudah sampai rumah ya. Terimakasih untuk hari ini."
Lagi-lagi ciuman itu mendarat di pipi sebelah kanan. Dengan tersipu malu, Salsa berbalik hendak pergi namun Edgar menarik lengannya hingga matanya saling bertatapan. kening mereka saling menempel, terpaan nafas menerpa wajah keduanya.
Edgar memiringkan kepalanya, meraih bibir mungil itu, dilumatnya dengan penuh kehati-hatian seperti menganggap bibir mungil itu sebuah bends yang mudah pecah. Edgar memanggut mesra hingga Salsa mengeluarkan suara desahan.
"Ed ... ahh hentikan!"
Edgar melepaskan ciuman itu, menatap bola hitam itu dengan tatapan tulus. mengelus bibir Salsa dengan jari tangannya hingga mencium sekilas bibir itu.
"Cepatlah masuk ke dalam sayang!" sahutnya sebari mengelus pipi putih mulus itu.
Salsa mengangguk dan tersenyum, ia beranjak mendekati pagar rumahnya. Salsa melambaikan tangan pada Edgar.
" Sayang hati-hati, sekali lagi terimakasih untuk hari ini. Sampai ketemu besok ya," sahut Salsa berlalu menutup pagar.
Edgar tersenyum dan berlalu melajukan motornya.