Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
Pertemuan


Sinar matahari menyinari jendela kamar Salsa. Semalaman Salsa memikirkan terus karena tepat hari ini dimana ia akan bertemu dengan Edgar.


Betapa bahagianya aku sebentar lagi akan bertemu dengan Edgar.


Ponsel Salsa kembali berdering, ia meraih ponsel itu dan melihat ada notifikasi pesan masuk atas nama Edgar.


Salsa tersenyum, jantungnya kembali berdegup kencang. Ia langsung mandi dan berdandan dengan cantik memakai gaun berwarna pink muda dipandu dengan kulitnya yang putih.


***


Lima belas menit berlalu, terdengar suara mobil yang berhenti tepat di halaman rumah Salsa. Seketika melihat dari jendela ternyata itu Edgar. Salsa mulai merasa gugup dan canggung tapi di sisi lain ia juga merasa bahagia.


Setelah satu tahun tanpa saling berkomunikasi akhirnya Edgar kembali hadir dalam kehidupannya. Salsa pun meraih ponsel dan tasnya, bergegas keluar kamar menuju ke ruang depan.


Tok tok tok


Saat pintu terbuka, mata Salsa membelalak melihat seorang pria dihadapannya yang wajahnya begitu tampan, memiliki postur tububh yang ideal dan tinggi, memakai kemeja berwarna hitam.


Salsa mulai gugup dan salah tingkah.


"Selamat pagi Salsa," sahut Edgar sebari tersenyum.


"Pagi juga, silahkan masuk!" sahut Salsa.


Edgar pun masuk ke dalam rumah Salsa menuju ruang tengah. Mereka berdua duduk di sebuah kursi. Kebetulan bu Meila dan pak Romi sedang pergi ke ladang. Jadi, mereka hanya berdua di dalam rumah.


Pertemuan ini membuat Salsa canggung, akan tetapi berbeda dengan Edgar yang tidak menampakkan kecanggungannya. Edgar pun mulai membuka suasana hangat dengan asyik menceritakan kisah masa lalu mereka yang sebenarnya baru bertemu hari ini.


"Kamu cantik memakai gaun ini," puji Egdar tersenyum memandang Salsa.


"Apa sih Ed, jangan pujiaku terus deh. Aku kan, malu," sahut Salsa, seketika pipinya menjadi merah merona.


"Serius, aku tidak bohong. Kamu hari ini cantik sekali tapi pipimu itu masih tembem seperti dulu." Ungkap Edgar sambil tertawa.


"Ih Ed, kamu dari dulu selalu mengatakan bahwa pipi aku tembem. Sekarang tidak terlalu tembem kok," sahut Salsa mendengus kesal, memasang wajah masam.


"Bercanda tahu, jangan marah nanti jelek loh," ledek Edgar.


Mereka berdua pun asyik mengobrol hingga membuat Salsa lupa tidak membuatkan minum untuk Edgar. Salsa hendak beranjak menuju dapur namun Edgar menarik tangan Salsa hingga ia terjatuh ke dalam pelukan Edgar.


"Ih Ed, kamu kenapa narik tangan aku?"


Jarak wajah mereka kini sangat dekat, mungkin hanya beberapa centimeter lagi. Hembusan nafas keduanya saling menerpa di kulit wajah. Aroma mint yang tercium begitu khas san menyegarkan.


"Maaf, aku tidak sengaja. Sebenarnya ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu." Ungkap Edgar dengan wajah serius.


"Memang mau membicarakan apa?" tanya Salsa.


Salsa mulai membenarkan posisi duduknya, kembali duduk di samping Edgar.


"Sa, sebenarnya aku masih mencintaimu." Ungkap Edgar sangat percaya diri.


Seketika itu juga jantung Salsa kembali berdegup. Ia menjadi gugup dan canggung. Namun, untuk menutupi kecanggungannya Salsa pun beranjak berdiri dan berlalu menuju dapur.


Namun Edgar kembali menarik tangan salsa sampai Salsa terjatuh kembali ke dada bidang milik Egdar. Mereka saling menatap lekat satu sama lain dengan jantung sama-sama merasakan debaran yang sangat kuat.


Sekilas saat melihat bibir mungil dan imut berwarna pink muda, terlintas dipikiran Edgar ingin sekali mencium bibir itu.


Semakin dekat dan hampir mendarat di bibir Salsa. Namun, Salsa seketika mendorong tubuh Edgar hingga terlepas darinya lalu ia beranjak menuju dapur.


Arrggh! Gagal padahal sedikit lagi. Gumam Edgar mendengus kesal.


"Ini minumnya silahkan," sahut Salsa menawarkan minum pada Edgar.


"Iya terimakasih Sa. Sa, bagaimana apa masih ada kesempatan untukku memiliki hatimu?" tanya Edgar dengan tatapan yang begitu tulus.


"A-ak-aku masih bingung. Aku minta waktu untuk memikirkan semua ini," jawab Salsa.


"Baiklah, aku tunggu besok jawaban kamu. Kita bertemu di taman ya, aku tunggu," sahut Edgar tersenyum.


Tak terasa hari pun mulai sore, Edgar segera berpamitan untuk pulang.


Setelah pertemuan dengan Edgar. Kini hati Salsa dilanda kebingungan. Entah sekarang ia harus bagaimana. Kepalanya sudah terasa sangat pening memikirkan harus menjawab apa.


Ia tak hentinya memikirkan Edgar menerima atau menolaknya?


Akan tetapi karena waktu itu ia sudah berjanji pada hati dan dirinya, maka sekarang ia sudah menemukan jawaban yang tepat.


Salsa merebahkan tubuhnya di atas ranjang, rasanya sungguh lelah hari ini. Ia sangat bahagia bisa bertemu dengan Edgar


Salsa senyum-senyum sendiri secara dia lagi kasmaran. Setelah membayangkan dan menerawang, kini Salsa beranjak ke dapur mengambil berbagai makanan di sana. Ia juga membuat susu. Tiba-tiba seorang anak kecil memanggil.


"Kak Asa lagi ngapain?"


Salsa terkejut mendengar suara di belakangnya, ternyata di Davin.


"kakak mau membuat susu, ade mau?"


Davin mengangguk dan loncat kegirangan. Salsa tersenyum melihat tingkah adiknya.


"De, ibu sama bapak mana?"


"Davin tadi sendirian di rumah. Kata ibu sama bapak, Davin d rumah saja, jangan kemana-mana. Ibu sama bapak belum pulang kak," jawabnya polos.


Salsa mengelus rambut kepala Davin, lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Davin.


"Kakak minta maaf ya tadi ninggalin kamu sendirian di rumah."


"Davin kan, anak cowok kak jadi gak takut."


Salsa tersenyum lalu berkata,"Pintar adik kakak, Davin jangan nakal ya."


"Siap bu boss."


Davin tiba-tuba memeluk Salsa.


"Davin sayang kakak."


"Kakak juga sayang Davin."


Setelah beberapa saat mereka berpelukan, kedua orang tua Salsa baru sampai rumah. Salsa dan Davin beringiran ke luar, dilihatnya benar saja bu Meila baru pulang dari ladang.


Salsa dan Davin mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


Mereka berlalu masuk ke dalam rumah, begitu pun dengan Salsa ia kembali ke dapur mengambil cemilan yang belum sempat ia ambil lalu memakannya jembali.


Setelah selesai, sebagian cemilan ia bawa ke kamarnya untuk di jadikan stock selama di rumah.


Sampai di kamar, Salsa meraih ponselnya. Teenyata Edgar belun pulang juga, membuat ia semakin khawatir.


Apa Edgar sudah sampai di rumah?


Apa dia tadi benar-benar mencintauku.


Aku takut jika aku hanya di jadikan pelampiasannya.


Salsa terus berpikir, ia takut kembali salah memilih pasangan. Namun siapa yang bisa melarang kalau sudah sama-sama suka.


Ia kembali memakan cemilan dan membaca novel kesayangannya berjudul "Menikah Muda."


Ceritanya sama persis seperti dirinya, namun semoga saja di halaman berikutnya ia selalu bahagia bersama dengan pujaan hatinya.


Menikah kareba Cinta, itu bukan sesuatu yang membosankan namun itulah sesuatu yang mengesankan.


Salsa sesekali tersenyum membaca novel itu lalu tak berapa lama ia meraih kembali ponselnya.