Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
Bertemu Perempuan Muda


Senja mulai memancarkan sinarnya. Tak terasa sudah berapa jam ia di rumah Ridwan. Pria tampan itu segera berpamitan pulang.


Menelusuri setiap lekukan jalan, begitu indah senja menghiasi langit. Ia masih belum menyadari bahwa dirinya melupakan sesuatu. Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi, ia harus sampai ke rumah sebelum malam hari tiba. Tapi sialnya jalanan macet total.


Ia terus membunyikan klakson hingga seorang pria menghampirinya.


"Mohon maaf mas, untuk bersabar dan tidak mengganggu ketenangan di jalan raya ini," sahutnya.


"Maaf pak, saya sedang buru-buru."


"Tapi sepertinya anda tidak bisa melalui jalan ini dengan cepat,"


Edgar menghela nafas.


"Memang di depan ada kejadian apa mas?"


"Di depan sana ada korban tabrak lari mas, sepertinya evakuasi korban ini membutuhkan waktu lama untuk jalanan normal kembali."


Edgar pun seketika turun dari mobilnya, berjalan menghampiri kerumunan itu. Seketika dilihatnya seorang perempuan muda tengah menangis, memeluk korban yang sudah dilumuri darah. Korban itu seorang pria yang mungkin seumuran dengan Edgar.


Perempuan yang memeluk korban itu menangis histeris. Edgar melihatnya sangat iba, ia jadi teringat kembali pada Salsa yang menangisi dirinya saat kejadian satu tahun yang lalu. Ia merasa beruntung karena dirinya masih bisa selamat dalam kejadian mengerikan itu.


Warga yang berada di sana dibantu oleh tim medis dan sebagian polisi untuk mengevakuasi jenazah korban tabrak lari itu. Namun perempuan itu tidak ingin melepaskan pelukannya pada pria itu.


Melihat polisi dan tim medis lainnya membujuk perempuan itu, tapi tak ada yang berhasil. Seketika Edgar berjalan mendekat ke arah perempuan itu, ia duduk di sampingnya.


"Hey kamu, sudah jangan ditangisi. Ikhlaskan dia supaya dia tenang di alam sana," sahutnya.


"MAKSUD KAMU APA? dia masih hidup, dia tidak akan pernah pergi," lirihnya.


"Sayang ayo bangun, jangan tidur terus. Aku sayang sama kamu, aku cuma punya kamu. Ayo bangun kamu pernah janji gak akan ninggalin aku," lirihnya dalam isak tangis sebari terus memeluk pria yang sudah terbaring kaku, sekujur tubuhnya di penuhi darah yang merembes keluar dari tubuhnya membasahi jalanan.


Jadi ternyata pria korban tabrak lari itu adalah kekasihnya. Seketika Edgar pun merasa bergemuruh hatinya tak karuan.


"Sudah jangan menangis, dia pasti sedih melihatmu seperti ini. Biarkan dia pergi dengan tenang, jangan terus menangisinya. Mungkin takdir berkata lain, seiring berjalannya waktu kamu pasti bisa mengikhlaskannya. Lepaskan pelukanmu, biarkan jenazahnya di urus oleh petugas disini." Ujarnya mencoba menenangkan hati perempuan itu.


Kerumunan warga disana melihat pria yang sedang membujuk perempuan itu, sungguh lembut tutur katanya dan menenangkan hati. Begitu pun dengan tim medis dan sebagian polisi mereka bisa merasakan perasaan perempuan itu, kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidupnya.


Kata-kata Edgar mampu membujuk perempuan itu, ia melepaskan pelukannya. Terlihat bajunya yang sudah dipenuhi lumuran darah kekasihnya. Edgar memegang bahunya membantu perempuan itu untuk berdiri. Korban pun segera di evakuasi oleh petugas di sana. Isak tangis masih terdengar dari perempuan itu. Tiba-tiba saja dia pingsan. Edgar berusaha menahannya dan membawa perempuan itu masuk ke dalam mobilnya dibantu oleh warga yang berada di tempat kejadian.


Edgar kebingungan harus membawa perempuan itu kemana, sedangkan ia tidak tahu rumahnya bahkan tidak mengenalinya. Tanpa berpikir panjang terpaksa ia membawa perempuan itu ke rumahnya.


***


Kediaman rumah saudara Salsa.


Sementara gadis ini terus mondar-mandir sebari melirik terus ponselnya. Tidak ada sekalipun pesan masuk atau panggilan dari kekasihnya, Ia tampak begitu cemas. Sudah lima jam berlalu tak kunjung ada kabar padahal Salsa sudah mengirimnya pesan bahkan menghubunginya beberapa kali tapi tetap saja tidak ada jawaban sama sekali. Kepanikannya pun semakin bertambah lalu ia mencoba menghubungi sahabatnya.


📞 Hallo.


📞 Aku baik, aku mau menanyakan sesuatu sama kalian?


📞 Ada apa Sa? kok kelihatannya kamu panik begitu?


📞 Ini masalah Edgar, dua hari yang lalu dia datang ke sini menemuiku tapi tadi sore ia pulang kembali kesitu. Aku hubungi sekarang tapi telponnya gak di angkat sama sekali, aku mau minta bantuan kalian!


📞 Tenang Sa, kamu jangan panik pasti Edgar baik-baik saja. Kamu mau kita ngelakuin apa?


📞 Aku mohon, tolong kalian ke rumah Edgar untuk melihat apa dia baik-baik saja atau bahkan dia belum sampai rumah.


📞 Ya sudah nanti kita bertiga ke rumah Edgar, tapi kamu tenang ya jangan mikir macam-macam.


📞 Ok terimakasih kalian begitu baik sama aku, aku tunggu ya kabarnya.


📞 Siap sama-sama, inilah gunanya sahabat.


📞Aku sayang kalian.


📞 Kita pun sama sayang kamu.


Seketika sambungannya terputus. Salsa sudah tidak bisa menahan cairan bening yang sudah menmbendung di pelupuk matanya. Ia sempat berpikiran buruk terhadap Edgar. Meskipun Edgar meyakinkan hubungannya dalam menjalani LDR ini, Salsa tetap ragu. Bukan karena ia meragukan kepercayaan Edgar. Hanya saja hatinya merasa takut, karena siapa yang tahu jika nanti ada perempuan yang berusaha mendapatkan Edgar.


***


Tiga puluh menit berlalu, Edgar sudah sampai di depan rumahnya. Terpaksa ia harus menggendong perempuan itu membawanya masuk ke dalam rumah. Saat pintu terbuka, disana sudah ada ayah dan bundanya sedang menunggu di ruang depan. Melihat putranya membawa seorang perempuan, ayahnya tercengang kaget begitu pula bundanya.


Bunda Elia menghampiri putranya dengan tatapan begitu panik melihat perempuan yang tidak sadarkan diri di gendongan anaknya, bahkan dilumuri banyak darah. Begitu pun dengan suaminya. Ia dengan sigap membantu anaknya membawa perempuan itu ke dalam kamar tamu lalu membaringkannya di tempat tidur. Memanggil beberapa pelayan untuk membantu menggantikan pakaian perempuan itu.


Bunda Elia menatap ke arah putranya untuk mencoba meminta penjelasan. Padahal saat ini Edgar merasa sangat lelah dan ingin langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia benar-benar melupakan sesuatu. Apalagi itu menyangkut hubungannya. Entahlah mungkin karena terlalu banyak masalah dalam pikirannya hingga ia sedang tidak ingin memikirkan apapun.


Seketika Pak Erwan menarik tangan Edgar keluar dari kamar itu dengan tatapan tajam.


"Ada apa si yah, Edgar cape mau tidur," sahutnya membalikkan tubuhnya hendak pergi tapi lagi-lagi tangannya di tahan oleh bunda Elia.


"Sini nak, jelaskan dulu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa perempuan itu?" tanya bunda Elia dengan tatapan serius.


Edgar sangat malas menceritakannya, apalagi dirinya sudah sangat lelah dan kepalanya terasa pusing. Badannya pun sudah lengket ingin segera mandi dibawah guyuran shower.


"EDGAR JAWAB!" Pak Marwan meninggikan suaranya dengab raut wajah merah padam.


Edgar masih tidak bergeming, ia hanya terdiam.


"Nak, apa dia pacarmu? apa yang terjadi padanya? mengapa pakaiannya dilumuri banyak darah?" tanya bunda Elia.


Jika bunda Elia yang meminta untuk menjelaskannya, Edgar selalu menurut dan mulai menceritakan semua kejadian yang tadi dilihatnya.