
Di dalam sebuah mobil seorang wanita dan pria yang dibanjiri keringat. Nafasnya pun memburu, detakan jantung yang cukup cepat serta mata yang saling mengerjap-ngerjap.
"Sayang pelan-pelan!"
"Tidak bisa honey, tanggung biar cepat!"
"Tapi aku takut!"
"Jangan takut, aku akan selalu ada untukmu!"
"Tapi Ed?"
"Sudah diam saja honey, tidak akan terjadi apa-apa kok. Kamu siap ya aku akan menambah kecepatannya!"
"Aahhh... Edgar!"
Melihat kepanikan dan kekhawatiran Salsa, Edgar melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Salsa merasakan mobil yang dikemudikan Edgar melaju cepat itulah sebabnya Salsa ketakutan dan terus memarahi Edgar sepanjang perjalanan.
Hingga akhirnya tibalah di sebuah rumah sederhana, tidak begitu mewah. Di rumah inilah Salsa di besarkan oleh kedua orang tuanya. Rumah yang sederhana tapi selalu ada kebahagiaan di setiap sudutnya.
Salsa yang begitu panik dengan cepat turun dari mobil dan berlari menuju ke dalam rumahnya diikuti oleh Edgar di belakangnya.
Saat memasuki rumah dan benar saja saat itu pak Romi sedang terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Salsa menghampiri pak Romi sedangkan Edgar menunggu di ruang depan. Salsa mencium punggung tangan ayahnya. Cairan bening yang sudah di tahan selama berjam-jam akhirnya terjatuh juga membasahi permukaan pipinya.
Kenapa rasanya dunia ini tak seperti yang di harapkan?
Kenapa saat kebahagiaan datang, kesedihan pun kian menghampiri.
Apa ini adil?
Kebahagiaan selalu berdampingan dengan kesedihan. Jadi saat kamu merasakan kebahagiaan jangan pernah terlalu terpuaskan karena akan ada saatnya kesedihan menghampirimu.
"Pak, kenapa bisa seperti ini?" Tanya Salsa memegangi tangan pak Romi.
"Bapak tidak apa-apa nak, mungkin bapak hanya kelelahan saja." Jawabnya dengan nada suara berat.
"Bapak tidak boleh terlalu cape bekerja karena sekarang aku sudah bekerja dan nanti gajiku untuk bapak dan ibu saja."
"Tidak perlu nak, bapak masih kuat kok!"
"Kak Salsa?" terdengar suara anak kecil.
"Davin sayang, apa kabar?" Sahut Salsa menghampiri adik kecilnya dan menggendongnya.
"Davin baik kak, kakak kemana saja kok gak pernah pulang?"
"Kakak kerja dek,"
Tiba-tiba Edgar datang menghampiri Salsa yang tengah menggendong Davin. Davin memberontak meminta turun dari pangkuan Salsa lalu berlari kecil memeluk ke arah Edgar. Salsa tersenyum melihat itu.
Edgar berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Davin.
"Hei pria kecil, apa kabarmu?"
"Aku baik om," sahutnya seraya memeluk Edgar kembali.
"Pria kecil apa kau merindukan om iparmu ini?"
"Iya om aku rindu tapi aku mau es krim." Sahutnya tersenyum menggoda Edgar.
Edgar mengacak-acak kepala Davin sambil tersenyum.
"Jadi kau merindukan es krim ya? kalau begitu nanti om akan membelikan banyak untukmu."
"Yeee ...." Davin berjoget-joget kegirangan.
"Siapa di luar sana?" tanya pak Romi.
"Itu Edgar pak, dia ke sini mau mengatakan sesuatu pada bapak!"
"Katakan aku sedang tidur, tidak ingin menemuinya!"
"Tapi pak?"
"Nak, bapak tidak ingin bertemu pria penge*ut seperti dia!"
"Maksud bapak apa? Aku mencintai Edgar dan aku tidak ingin kehilangannya pak!" Ada nada isak tangis di setiap kalimat ucapannya.
Pak Romi memalingkan wajahnya tidak menatap Salsa. Tak berapa lama tanpa di pinta pun Edgar memasuki kamar pak Romi. Saat melihat Salsa menangis, Edgar merasakan ada sesuatu yang terjadi.
"Pak romi?" Panggil Edgar mulai menghampiri pak Romi.
Edgar meraih tangan pak Romi namun seketika tangan itu di tepis. Edgar mulai merasakan tidak enak hati.
"PERGI KAMU DARI SINI!" Sahut pak Romi dengan nada setengah berteriak namun pandangannya masih memandang ke arah lain.
Edgar yang mendengar itu merasakan sesak di dadanya ternyata pak Romi masih belum bisa memaafkannya atas kejadian beberapa bulan yang lalu. Edgar hendak berlalu namun tangannya di tahan oleh Salsa.
"Kenapa bapak seperti ini, apa salah Edgar?"
"BAPAK BILANG BAWA DIA PERGI DARI SINI!" kali ini kalimatnya penuh penekanan dan bernada tinggi.
Bu Meila dan Davin yang sedang menyiapkan makanan di dapur mendengar suara teriakan marah pak Romi. Bu Meila menyuruh Davin untuk masuk ke dalam kamarnya. Davin pun menuruti perkataan ibunya. Bu Meila berjalan memasuki kamar pak Romi. Dilihatnya di sana Salsa yang tengah menangis memeluk Edgar sementara Edgar hanya menunduk membunyikan kesedihannya tapi masih bisa terlihat oleh bu Meila bahwa pria muda itu tengah menahan sakit hati.
"Ada apa ini pak?" tanya bu Meila menghampiri pak Romi dan duduk di sisi ranjang itu.
Pak Romi masih bergeming tidak menatap ke arah istrinya.
"Kenapa ini pak, ada apa?" Tanya bu Meila sekali lagi memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"USIR PRIA ITU BU!" Bentak pak Romi dengan nada penuh penekanan.
Edgar yang mendengar itu hatinya seperti tertimpa oleh bencana yang sangat besar dan menghanyutkan semua harapannya. Semula ia membalas pelukan Salsa hingga akhirnya ia melepaskan pelukan itu berlalu keluar dari rumah itu.
Tangis Salsa semakin pecah saat ia berusaha menahan Edgar namun pria itu tidak mengatakan apa-apa, menepis tangan Salsa yang berusaha menahannya. Edgar berlari dan memasuki mobil dengan cepat melajukannya berlalu meninggalkan Salsa tanpa menoleh sedikit pun.
Ujian seperti apa lagi untuk kali ini?
Mengapa hidup Salsa begitu menyedihkan saat ia menyaksikan kenyataan yang tak pernah terlintas di pikirannya.
Apa salahnya? Merasakan bahagia hanya sesaat.
Bu Meila menghampiri anaknya yang tengah terduduk termenung dengan isak tangis di halaman rumahnya. Ia memeluk anaknya lalu membantunya berdiri berlalu memasuki rumah. Namun Salsa hanya terus menangis, ia teringat saat Edgar tidak memperdulikannya dan berlalu pergi begitu saja.
Baru kali ini yang pertama kalinya Salsa melihat Edgar seperti menyerah. Salsa takut jika Edgar benar-benar akan meninggalkannya. Hanya itulah yang saat ini ada dipikirannya. Bu Meila menitikkan air mata melihat anaknya, ia bisa merasakan bagaimana perasaan anaknya.
Apakah orang yang selama ini selalu berjuang dan berusaha mempertahankan apa yang ia miliki bisa menyerah?
Jawabannya kemungkinan bisa karena setiap perjuangan yang tak ternilai dan tak dianggap akan ada saatnya seseorang merasa lelah dan berhenti berjuang.
***
Sebenarnya 2 hari yang lalu aku udh up tapi masih belum di acc juga sama pihak NT. Sedih aku tu. Novel Suami Manja Ardella pun sama udh dua hari bahkan sampai saat ini belum di acc juga, ingin mewek aku tu rasanya lebih sakit dari ditinggalkn.
sekarang aku hapus dulu eps ini trs aku up ulang smga sgara di acc.
Ayo tebak kira2 Edgar akan terus berjuang atau tidak?
Jangan lupa like, komen dan votenya ya. Terimakasih.