Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
Horor


Kini kamar itu hanya di penuhi dengan isak tangis. Seorang wanita yang tengah menangis di atas ranjang di balik bantal putih. Takdir begitu jahat padanya, ia tidak pernah menginginkan dipermainkan oleh takdir.


Sri kembali teringat pada sosok kekasihnya yang sudah tiada. Ia begitu sangat merindukan kekasihnya itu.


Lagi-lagi figura yang ia letakkan kembali terjatuh. Sri terhenyak dari tangisnya menatp ke arah figura yang terjatuh ke lantai. Ia beranjak berdiri lalu melangkahkan kaki menuju figura yang tergeletak di atas lantai tepat di depan cermin meja rias.


Saat Sri hendak mengambil figura itu, ia melirik sekilas ke arah cermin. Ia melihat bayangan kekasihnya berdiri tepat di belakang tubuhnya. Namun wajah kekasihnya itu terlihat hancur dan rusak membuat Sri berteriak ketakutan.


"Aaaaaa ...." Sri menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


***


Kini Edgar tengah memeluk Salsa dengan erat mencoba memberikan ketenangan pada kekasihnya. Begitu pun dengan Ridwan, ia sedang duduk sebari menyeruput secangkir kopi.


Terdengar suara teriakan dari arah kamar tamu. Salsa, Edgar, Ridwan dan Susi yang tengah berada di dapur ikut berkumpul ke ruang tengah.


"Sepertinya itu suara teriakan Sri?" sahut Salsa berhenti menangis berubah menjadi panik.


"Iya, gue juga dengar suara itu."


"Ya sudah cepat kita kesana!" ujar Salsa.


Mereka berempat pun berlari kecil menuju kamar dimana Sri berada. Saat pintu terbuka terlihat wanita yang sedang duduk di pojokkan kamar menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, tubuhnya bergetar hebat sepertinya ia sedang ketakutan. Ridwan berjalan ke arah Sri diikuti oleh Susi, Salsa dan Edgar.


"Sri?" panggil Ridwan.


Sri yang tengah ketakutan perlahan membuka matanya melihat Ridwan di hadapannya. Dengan cepat ia berdiri lalu memeluk tubuh Ridwan. Tubuhnya sangat bergetar, ia menangis di dada bidang pria itu.


Sementara Susi mendengus kesal melihat pemandangan dihadapannya. Namun, Edgar malah tersenyum menyeringai, begitu pun Salsa ia tampak kebingungan mencerna semua situasi yang penuh tanda tanya ini.


Sri semakin mengencangkan pelukannya pada Ridwan. Saat ini, ia benar-benar sedang ketakutan, ia hanya bisa menangis dan tidak ingin membuka matanya. Ridwan hanya mematung mendapat pelukan mendadak.


Kenapa rasanya Ridwan sangat kaku, mendadak menjadi gugup.


"Sri, ka-kamu kenapa?" tanya Ridwan gugup karena merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.


"Hiks ... ak-aku takut," lirihnya.


"Takut apa Sri, jangan begini, Gue risih," ujar Ridwan.


"Dasar si curut!" ketus Edgar.


"Berisik cunguk!"


Sri mulai menyadari bahwa dirinya tengah memeluk Ridwan. Ia membuka mata melihat Salsa, Edgar dan Susi yang menatap tajam ke arahnya. Dengan refleks Sri melepaskan pelukannya, memberi jarak di antara Ridwan dan dirinya.


Ridwan tersenyum nakal menatap ke arah Sri. Ia menggodanya seraya memancing Sri untuk tertawa.


"Hei, kenapa dilepaskan? gunungmu sangat kenyal dan padat, gue suka."


"Iiisshh ... dasar pria me*um!"


Ridwan mendapat pukulan kecil di kepalanya, kecil namun terasa menyakitkan.


"Kau berani ya?" sahut Ridwan menatap tajam ke arah Sri.


Seketika Ridwan menarik pinggang Sri, mendaratkan benda kenyal itu di bibir mungil Sri. Ketiga orang yang ada disana, terkejut melongo melihat pemandangan itu. Sementara Susi mendengus kesal bibirnya komat-kamit seperti sedang membaca mantra.


Wanita itu berlalu keluar dari kamar karena tidak suka melihat pemandangan disana. Ia terus menggerutu memaki sementara Edgar dan Salsa saling menatap.


"Honey, apa kau mau seperti mereka berdua?" goda Edgar.


"Ih, awas ya kalau kau macam-macam!" ujar Salsa mencubit perut rata Edgar.


"Sakit honey, kau benar sedang menggodaku."


"Tidak!"


Sementara Sri mencoba memberontak melepaskan pagutannya namun Ridwan lebih menguasai aksinya itu. Namun, Sri terbuai dalam ciuman itu merasakan kenyamanan yang telah hilang kini kembali bersarang dalam hatinya.


Edgar dan Salsa merasa risih melihat kedua orang itu yang tidak tahu malu melakukan di sembarang tempat, tidak memikirkan bahwa di sana ada sepasang kekasih yang tengah melihat kelakuan pria dan wanita itu. Edgar menarik pinggang Salsa lalu membawanya keluar dari sana.


Bayangan sosok kekasihnya itu nampak kembali di cermin sana. Saat Ridwan melihat ke arah cermin, ia terkejut dengan cepat melepaskan ciumannya. Bukannya menutup mata, ia malah mengucek matanya lalu membuka matanya selebar mungkin menatap ke arah jendela itu. Sosok bayangan itu hilang, di dalam cermin hanya ada pantulan dirinya bersama Sri.


Ridwan pun mulai merasakan tidak enak hati dan merinding. Sri yang melihatnya nampak curiga.


"Rid, kenapa?" tanya Sri mendongkakkan wajahnya menatap ke arah Ridwan.


"Gu-gue gak apa-apa kok, gu-gue mau keluar dulu ya," ujarnya dengan gugup berlalu secepat mungkin keluar dari sana. Sementara Sri hanya mematung, ia lupa dengan apa yang dilihatnya tadi.


Setelah berhasil keluar dari kamar itu, Ridwan menghela nafas kasar. Meski seorang pria tapi nalurinya pasti akan merasa ketakutan jika melihat hal begituan.


Astaga, tadi gu-gue lihat itu. Apa gue mimpi ya? gumam Ridwan ketakutan.


Ridwan berlari dari sana menuju ruang depan. Terdapat Edgar dan Salsa tengah terduduk sebari menonton televisi dengan beberapa cemilan di tangannya. Ridwan dengan nafas tersengal menghampiri Edgar.


"Lah si cunguk, kok lo sudah kemari bukankah belum pelepasan?" celetuk Edgar penasaran


Namun Ridwan tidak memberikan penjelasan, ia malah tertawa seperti orang tidak waras.


"Ridwan, kamu kenapa kok seperti orang ketakutan?" tanya Salsa menatap ke arah Ridwan.


Ridwan mendekat ke arah Edgar dan Salsa lalu terduduk berdempetan di antara Salsa dan Edgar.


"Yee ... si cunguk, lo jangan dekat-dekat punya gue!" sahut Edgar menjitak kepala Ridwan hingga mengaduh kesakitan.


"Diam dulu curut, lo gak tahu gue lagi takut," ketus Ridwan melingkarkan lengannya di lengan Edgar.


Edgar merasa geli melihat tingkah Ridwan. Ia segera menepis tangan itu. Sementara Salsa terkekeh melihat kedua pria aneh itu.


"Cunguk mendingan lo ke sana balik lagi terus cium lagi sono biar bibir lu dower."


"Berisik cunguk!" sergah Ridwan.


"Heh, lo kenapa sih, lo salah masuk lubang ya?"


"Bukan itu tapi gue takut, lo gak tahu sih!" ungkap Ridwan.


"Lo kenapa sih?" tanya Edgar mulai penasaran.


Sepertinya Sahabatnya ini sedang serius ketakutan.


"Lo tahu gak?" tanya Ridwan.


"Tahu apa cunguk? lo kan, belum cerita mana gue tahu.


Sementara Salsa terkekeh melihat ke arah kedua pria aneh.


"Sa, lo deketan gue takut," pinta Ridwan berhasil mendapat jitakan maut di kepalanya.


"Lo kenapa sih Rid, buru cerita! gak perlu minta cewek gue buat deketan sama lo!"


"Edgar gue melihat penampakkan seram di kamar tadi."


"APA?" tanya Edgar dan Salsa secara bersamaan.


"Lo serius?" tanya Edgar kembali.


****


Hai readers dan author , aku kembali lagi maaf baru up lagi, Happy Ied Mubarok bagi yang menjalankan.


Kira-kira kalau cerita romantis, komedi di gabung sama horor nyambung gk ya? soalnya horor ini hanya sebagai pelengkap saja sih gk terlalu mendetail. Lebih utamanya ke genre romantisnya sama sad nya juga.. Tapi kan, gak seru juga kalau gk ada yang menegangkannya ya kan? jadi menurut kalian gimana?


Ada kabar gembira juga terimakasih karena sejauh ini selalu mendukung novel Menikah Muda hingga tepatnya tanggal 26 kemarin,novel ini lulus kontrak. Jadi untuk sekarang mohon dukungannya untuk like, komen dan votenya ya ...