
Pertanyaan bertubi-tubi muncul dari mulut ketiga sahabat Salsa. Ia berasa sedang di introgasi seperti telah melakukan sebuah tindakan kriminal. Baru saja Edgar menghela nafas, sekarang dibuat gusar lagi dengan berbagai macam pertanyaan. Mata yang mulai sayu, tubuhnya terasa lemas, kalau saja bukan pria mungkin sudah pingsan saat ini juga.
"STOPP!" sahut Edgar dengan nada tinggi membuat ketiga wanita itu terkejut dan berhenti berbicara.
"Kalian ini nyerocos terus, gimana gue mau ngejelasin kalau lo semua ngomong mulu!" sahutnya menahan geram.
"Ma, maaf... " lirih Hazrina memberanikan berbicara.
"Zrin, Edgar seram juga kalau lagi marah gitu, gantengnya jadi hilang." Bisik Lia menyenggol lengan Hazrina, tapi suaranya masih mampu di dengar oleh Edgar.
Edgar memutar bola matanya, ia malas dengan situasi seperti ini.
" Jadi lo semua mau nanya apa sama gue?"
" Jadi kenapa lo gak hubungi Salsa?"
" Terus siapa cewek yang lo bawa ke rumah ini?"
"Cuman itu pertanyaannya? Ok gue jawab, pertama ponsel gue di silent dan gue lupa saking capenya ponsel gue mati dan sampai sekarang gue lupa belum cas. Yang kedua, cewek yang gue bawa itu gue temuin di jalan, dia nangis gara-gara ditinggal pacarnya. Sudah cukup penjelasan gue?" tanya Edgar menatap tajam ke arah tiga wanita itu.
"Sebentar, lo bilang lo lupa ngabarin Salsa? Ngapain aja lo sama cewek itu sampai lupa sama pacar lo sendiri?" tanya Vini dengan wajah menahan emosi.
Sementara kedua sahabatnya Hazrina dan Lia, mereka melihat ke arah Vini lalu bertepuk tangan.
Pandangan Vini dan Edgar beralih pada dua perempuan itu dengan tatapan begitu tajam seperti akan mencabik-cabik tubuh kedua wanita itu.
"Diem ****! gue lagi nanya serius, ngapain lo berdua tepuk tangan?" Vini tak sadar mengucapkan kata-kata seperti itu pada kedua sahabatnya, ia melampiaskan amarahnya.
Hazrina dan Lia seketika menunduk, tak berani menatap wajah Vini.
"Ok, ok gue pusing sama lo semua. Gue sama sekali gak berbuat apa-apa sama cewek itu. Gue hanya bantu tu cewek, dia pingsan. Mana mungkin kan gue harus ninggalin dia." Sahutnya.
"Tapi lo gak bisa gitu dong, di sana ada cewek yang jauh lebih mencemaskan keadaan lo."
Edgar tak sempat menjawab, terdengar suara dering ponsel Lia.
📞 Hallo Lia,
" Iya Sa, gimana?"
Semua mata tertuju pada Lia, semula Lia mengangkat wajahnya menatap semua orang tapi ia kembali menunduk.
📞 Kamu sama Hazrina dan Vini udah ke rumah Edgar kan?
" Iya Sa, ini aku sekarang lagi rumah Edgar."
Seketika ponselnya di ambil paksa oleh Vini, ia mengaktifkan speaker suara dan menekan memperbesar volume suara. Otomatis suara itu terdengar nyaring dari ponsel Lia.
📞 Gimana keadaan Edgar? Dia udah sampai rumah kan? Dia baik-baik saja kan? tanya Lia di sebrang sana terdengar nada panik bercampur khawatir.
Edgar mendengar suara itu, ia merasa sangat bersalah pada Salsa. Seketika Edgar meminta ponsel itu untuk diberikan padanya. Edgar mengambilnya, mematikan nada pengeras suara lalu menempelkan ponsel itu di telinga kirinya.
"Hallo honey," sahut Edgar ragu.
📞 Ya ampun Ed, kamu kemana saja? Aku mencemaskanmu, kamu jahat! Kenapa tidak mengabariku!
"Honey maafkan aku, ponselku mati, aku lupa mengabarimu karena aku sangat lelah hari ini."
📞 Ya sudah tidak apa-apa, setidaknya aku sudah mendengar suaramu dan kamu baik-baik saja, aku senang mendengarnya. Itu cukup melegakan hatiku. Lain kali kamu jangan seperti itu lagi ya Ed?
"Baiklah Honey, aku janji, kalau begitu sudah dulu nanti kita lanjut video call."
📞 Oke sayang, bye.
Seketika sambungannya terputus, Edgar mengembalikan ponsel itu pada Lia. Edgar beranjak tapi ditahan oleh Vini.
"Tunggu dulu, jawab dulu pertanyaan gue. Memang siapa cewek yang lo bawa?"
"Gue gak tahu dan gue gak kenal dia."
" Gimana bisa lo gak tahu? Sedangkan lo sendiri yang bawa cewek tu ke sini."
"Gue gak sempat nanya dia keburu pingsan, mana mungkin kan gue nanya sama orang pingsan." Sahutnya dengan nada sedikit malas.
"Ya sudah kalau gitu, kita bertiga mau lihat dia," sahut Hazrina.
Edgar benar-benar lelah, lagi pula malam semakin larut. Tetapi tidak masalah dengan ketiga perempuan itu. Edgar pun berlalu menuju kamar tamu dimana wanita itu berada. Diikuti oleh tiga wanita di belakangnya.
Seketika mereka memasuki ruangan itu, terdapat wanita yang sedang duduk di atas ranjang dengan rambut berantakan, membenamkan wajahnya di kedua kakinya.
"Hey," panggil Edgar.
"Kamu kenapa? Mengapa bisa seperti ini?" tanya Vini menangkup pipi wanita itu dengan kedua tangannya.
Wanita itu kembali menitikkan air matanya memeluk Vini dan Lia. Mereka berdua mengusap-usap punggung wanita itu berusaha menenangkannya.
"Rizky, Vin," lirihnya disela isak tangis.
"Ada apa dengan Rizky?" tanya Vini serius.
" Rizky meninggal,"
"APAA?" Lia terkejut.
"Kamu serius? Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Vini merasa iba, ia jadi teringat kekasihnya yang sudah sebulan ini tidak bertemu dengannya.
Wanita itu mulai menjelaskan kronologi kejadiannya.
***
Sore itu, kedua pasangan yang sangat romantis berjalan bersama bergandengan tangan. Mereka duduk di sebuah taman yang sangat indah.
Rizky seorang anak orang kaya, memiliki begitu banyak cabang perusahaan. Ia memiliki kekasih yang begitu sederhana tapi mampu membuatnya lebih dari kata sempurna.
Hari ini, ulang tahun kekasihnya. Rizky mengajak wanita itu berjalan-jalan di sekitar taman. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama.
Wanita yang menjadi kekasihnya sangat beruntung memiliki seorang pria sesempurna Rizky.
Akan tetapi ada yang aneh menurut wanita itu, sikap Rizky tidak seperti biasanya. Ia lebih romantis bahkan membuat wanita itu selalu tersenyum dan tertawa. Saat keduanya saling memandang menatap lekat, merasakan hatinya yang sama-sama begitu bahagia.
Rizky mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling bergesekan. Saat itu pula pertama kalinya Rizky mencium wanita pujaan hatinya. Wanita itu memejamkan mata, menikmati sentuhan bibir kekasihnya. Setelah pagutan yang begitu lama, akhirnya Rizky melepaskan ciuman itu dan beralih menatap wanita dihadapannya lalu memegangi kedua tangan wanita itu.
"Sayang berjanjilah akan selalu tersenyum dalam keadaan apapun itu, meski nanti aku tidak ada bersamamu, kamu jangan pernah berhenti tersenyum. Kalau sampai kamu menangis, aku akan merasakan sakit di hatiku. Satu hal yang harus kamu tau, sejauh ini hanya kamu yang sangat berarti dalam hidupku. Meski nanti kita tak bersama lagi, tapi yakinlah dilubuk hati yang paling dalam kamu akan selalu menjadi Wanitaku," lirih Rizky sebari mengambil sebuah cincin di saku baju kirinya dan menyematkannya di jari manis wanita itu.
"Kamu kenapa bicara seperti itu? Aku tidak ingin kehilanganmu. Saat ini aku cuma memilikimu, aku tidak ingin orang lain selain kamu. Jangan pernah bicara seperti itu!" Lirih wanita itu seketika memeluk tubuh Rizky dengan erat seolah-olah tidak ingin ditinggalkan.
Entah perasaan apa dalam diri wanita itu, ia merasakan sangat khawatir dan takut. Tapi ia tidak tahu apa artinya perasaan ini.
Rizky melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi itu memberikan senyuman yang tulus lalu mengecup kening wanitanya. Ia mengusap air mata yang membasahi pipi wanitanya itu lalu berusaha mencairkan suasana.
"Sayang, kamu mau es krim?" Tanya Rizky.
"Aku gak mau apa-apa, aku cuman mau kamu," katanyanya tersenyum.
"Ih dasar ya gombal," sahut Rizky mencubit hidung wanita itu dan memeluknya kembali mencium puncak kepala kekasihnya.
"Sudah ah jangan menangis lagi, ini kan hari ulang tahun kamu, kamu harus selalu tersenyum berjanjilah!" Rizky menunjukkan jari kelingkingnya.
Wanita itu menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Rizky dan tersenyum.
"Terimakasih sayang, karena hari ini hari ulang tahunmu, aku akan membelikanmu banyak es krim. Di sebrang sana ada toko es krim yang sangat lezat, pasti kamu suka. Kamu tunggu disini biar aku yang beli ke sana ya," sahut Rizky beranjak berjalan menyebrang jalanan yang lalu lalang kendaran.
Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Tak berapa lama terdengar suara yang begitu dahsyat.
Braakkk...
Seketika wanita itu menoleh, lalu didapatinya tubuh pria terlentang dilumuri darah membasahi jalanan. Wanita itu berlari, cairan bening yang sudah membendung itu merembes keluar terus mengalir tak henti.
***
Setelah wanita itu menceritakan semuanya, seketika Vini dan Lia ikut menangis. Begitu pun Hazrina meski ia tidak mengenalinya dan tidak tahu bagaimana kehilangan seorang kekasih tapi ia bisa merasakan bagaimana pedihnya ditinggalkan orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Hazrina jadi teringat kedua orang tuanya yang jauh di luar negeri.
Hazrina menghampiri ketiga wanita yang tengah berpelukan itu, ia ikut juga berpelukan. Sementara Edgar hanya acuh, ia berlalu duduk di sebuah sofa dalam kamar itu.
"Terus sekarang kamu mau kemana?" Tanya Vini.
"Aku tidak tahu, aku tidak punya siapa-siapa disini," lirihnya.
"Kalau gitu kamu ikut aja sama kita bertiga," sahut Lia.
Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Hazrina kebingungan mengapa kedua sahabatnya itu mengenal perempuan ini. Lalu tatapan Hazrina beralih pada Vini, menampakkan wajah yang kebingungan. Sementara Vini tertawa melihat raut wajah Hazrina yang sangat menggemaskan.
"Eh iya kenalkan ini teman kita namanya, Hazrina," sahut Vini pada wanita itu.
Hazrina mengulurkan tangannya lalu di raih oleh wanita itu.
"Hazrina,"
"Iya, kenalkan namaku Sri Alexcia."