Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
MM (3)


Pagi yang cerah, fajar mulai menyinari jendela kamar, dimana seseorang membukakan mata berada di tempat asing.


Gue ada dimana, masa iya ada di surga? gumamnya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.


Ia mulai mengucek kedua bola matanya, teringat kembali kejadian semalam.


Astaga, si Ridwan bawa gue ke rumahnya. Gumam Edgar.


Edgar pun beranjak berdiri, keluar dari kamar lalu menuju kamar Ridwan.


Saat membuka pintu, pemandangan pagi hari hari sepasang wanita dan pria terlelap di atas ranjang tanpa busana.


Edgar dengan santainya menghampiri kedua orang itu, seringai senyum tercetak jelas di bibirnya.


"WOY, BANGUN! teriaknya dengan nada senyaring mungkin.


Ridwan terperanjat terkejut lalu terbangun dan menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang. Ia masih belum sadar sepenuhnya, jiwanya masih di alam mimpi.


Ridwan duduk di atas ranjang dengan mata masih memejam. Namun, ia memang mengenali suara Edgar maka dari itu dengan santainya ia menjawab.


"Apa si, gue masih ngantuk. Keluar lo!"


Edgar tertawa, membuat Ridwan membuka mata dan menyadari bahwa tubuhnya tidak memakai satu pun helai kain. Ridwan seketika menarik selimut, ia mendapati Susi masih berada di sampingnya. Ia pun segera menutupi tubuh Susi dengan selimut.


"EDGAR ATMAJA, KELUAR LO!" bentak Ridwan menatap tajam ke arah Edgar.


Edgar hanya tertawa, lalu berkata "Lain kali, lo itu kunci pintu!"


Edgar berlalu keluar dari kamar Ridwan, menuruni tangga.


Saat itu pula seorang gadis, berjalan menuju dapur. Edgar melihatnya, gadis itu tampak tidak asing baginya.


Edgar mengikuti gadis itu. Ia melihat gadis itu sedang membuat susu. Saat membalikkan tubuh, gadis itu terkejut, seketika susu yang berada di genggamannya terjatuh.


"Kak Edgar?" sahutnya dengan tatapan terkejut.


"Lo ngapain disini, Sri?" tanya Edgar dengan tatapan tidak suka.


"Ak-Aku ...." kalimatnya terjeda.


Ridwan yang sudah membersihkan dirinya keluar dari kamar. Ia melihat Edgar dan Sri di dapur, dengan was-was Ridwan berlari kecil menghampiri mereka.


"Woy, Edgar ngapain lo disini?" Menatap ke arah Edgar.


Sementara Sri memanfaatkan kesempatan berlalu dari kedua pria itu.


Ridwan menatap bingung ke arah Edgar sedangkan Edgar berlalu menuju ruang depan.


***


Rumah kediaman Salsa


Semenjak kejadian kemarin, Salsa hanya berdiam diri di rumah kedua orang tuanya. Ia tidak kembali ke rumah tante Maria.


Saat ini hatinya sedang hancur, ia menjadi pendiam dan murung. Sesekali ia menangis dan terus begitu.


Bu Meila melihat itu, hatinya sakit seperti diiris oleh pisau yang tajam. Anak kesayangannya yang selalu ceria seketika menjadi seperti ini.


Sementara pak Romi masih terbaring di tempat tidur, kesehatannya belum pulih. Ia berpikir ...


Apa sikapku sudah salah?


Aku hanya ingin yang terbaik untuk putriku.


Hanya itu yang ada di pikiran pak Romi. Sedangkan Davin semenjak kemarin, ibunya melarang untuk keluar kamar. Davin yang masih polos menurut saja apa yang di katakan ibunya. Ia belum terlalu paham urusan orang dewasa.


Salsa hanya meratapi nasibnya, ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun. Hanya ingin menyendiri, menenangkan hati dan pikirannya.


***


Rumah kediaman Vini


Vini, Lia dan Hazrina sekarang tengah sibuk bermain game. Setelah lulus mereka semua jarang berkumpul, apalagi bersama Salsa sudah terhitung sangat jarang.


Ya, setelah lulus sekolah Hazrina akan melanjutkan kuliah ke Seoul National University merupakan kampus utama di Korea. Impiannya ingin pergi ke Korea akhirnya tercapai. Semua itu berkat ayahnya yang berhasil mendapatkan keuntungan besar dari hasil kerja samanya dengan salah satu perusahaan di Korea. Hazrina akan segera pindah ke sana.


Begitupun dengan Vini dan Lia, mereka berdua tidak melanjutkan kuliah. Mereka lebih memilih bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Vini bekerja di perusahaan tempat kekasihnya bekerja. Ia menjadi sekretaris pribadi kekasihnya itu. Betapa beruntungnya Vini, setiap bekerja akan selalu bersama Wahyu. Setiap jam istirahat, mereka selalu makan berama, menghabiskan waktu hanya berdua.


Sedangkan Lia, ia bekerja di salah satu perusahaan terbesar. Ia bekerja sebagai manajer marketing. Jabatan yang paling ia sukai menjadi bagian pemasaran.


Maka dari itu, waktu mereka bersama sangat singkat. Apalagi Salsa, ia sudah pindah ke rumah tantenya.


***


Setelah berlalu dari dapur, Sri masuk ke dalam kamar. Ia menghentakkan kakinya, sangat kesal karena bertemu kembali dengan Edgar. Itu bisa membuat rencana melupakan Edgar menjadi batal.


Kenapa dia bisa disini si! gumamnya.


Sri merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap ke arah atap kamarnya. Ia masih memikirkan Edgar.


Apa dia kenal sama si bos sialan itu ya? aahh ... sudahlah aku pusing memikirkan semua ini.


Sri meraih ponselnya seketika dinyalakan wajah kekasihnya yang sudah pergi nampak dari layar ponsel itu. Ia kembali teringat pada kekasihnya, ia sangat merindukan belaian kasih sayang itu.


Meratapi kehidupannya hingga telaga bening itu mengalir. Saat ini, ia benar-benar rindu, ingin memeluk kekasihnya itu.


Sri mengelus ponselnya yang menampakkan wajah kekasihnya.


Aku selalu berharap kamu kembali lagi, tapi mungkin ini sangat mustahil. Aku ingin kamu kembali saat ini juga. Sebelum kamu benar-benar pergi, aku ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya.


Itulah yang saat ini diharapkan oleh Sri bisa bertemu dengan kekasihnya. Ia memejamkan matanya, namun telaga bening itu tetap mengalir membasahi permukaan pipi.


Seketika foto yang berada di atas meja itu terjatuh begitu saja. Sri terperanjat terkejut langsung membuka mata dan terduduk di sisi ranjang.


Ia beranjak berdiri berjalan menuju meja, melihat sebuah bingkai foto terjatuh. Ia melihat bingkai foto dimana menampakkan foto dirinya bersama kekasihnya itu. Ia memeluk foto itu merasakan kenyamanan disana.


Tiba-tiba suara pintu mengejutkannya, nampak Susi datang menghampiri Sri.


"Woy, wanita comberan, lo jangan kesenangan cuma numpang disini."


Sri mengusap air matanya, menghampiri Susi. Kini mereka saling berhadapan.


"Lo bilang gue wanita comberan? dasar wanita tikus."


Susi mendengar itu langsung menjambak rambut Sri. Sri tidak kalah, ia pun membalasnya kembali.


***


Edgar dan Ridwan yang tengah berada di ruang depan, mendengar keributan. Mereka segera menuju ke arah dimana keributan itu terjadi.


Benar saja, mereka berdua melihat dua singa betina sedang berkelahi saling menjambak rambut. Edgar berjalan menghampari mereka, namun lengannya di tahan oleh Ridwan.


"Diam Ed!"


"Lo gila ya, mereka berkelahi seperti itu. Cepat pisahkan sebelum rumah lo hancur lebur!"


"Diam saja lo, biarkan mereka. Gue paling senang kalau sudah melihat pemandangan begini."


"Cih .... dasar Ridwan Zaelani, mata lo jelalatan tar kelamaan busuk," sahut Edgar mendecih.