Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
Ridwan Vs Dua Singa Betina


Setelah beberapa kejutan yang bertubi-tubi dari Edgar, hari ini benar-benar hari kebahagiaannya. Ia tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur dan beruntung memiliki kekasih seperti Edgar.


Setelah semua selesai, Salsa bergegas pulang bersama Edgar. Di perjalanan ia tak hentinya mengembangkan senyum simpul di wajahnya. Ternyata jarak tidak bisa memisahkan cinta sepasang kekasih ini. Walau jaraknya cukup jauh, Edgar masih mampu untuk menempuhnya. Sekali pun ke ujung dunia, ia sudah berjanji akan selalu memperjuangkan cintanya.


Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari ibunya.


"Hallo nak," Ada nada kepanikan dari sana.


"Iya bu hallo, kenapa bu, apa ada masalah?"


"Nak, cepatlah pulang! ayahmu ..."


Deg .... Sepertinya sesuatu telah terjadi pada pak Romi. Edgar yang melihat raut wajah Salsa seketika berubah langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan. Mengambil ponsel Salsa menekan nada pengeras suara.


"Bu, ini saya Edgar. Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Ayah Salsa nak, ia sekarang sedang sakit." Tampak terdengar nada sayu bu Meila.


Edgar pun mengerti, ia mengusap air mata Salsa yang sudah membasahi permukaan pipinya.


"Kami akan segera ke sana bu,"


"Baiklah nak, hati-hati!"


Seketika sambungan telpon terputus. Edgar mendekap bahu Salsa hingga wanita itu bersandar pada dada bidang milik Edgar.


Setelah cukup tenang, Edgar melepaskan dekapannya lalu menggenggam kemudi mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju kota X dimana rumah Salsa berada.


***


Rumah kediaman Ridwan Zaelani


Setelah kejadian satu hari yang lalu, dimana Sri dan Ridwan saling berpelukan. Melengkapi dan menutupi rasa kesepian Sri hingga akhirnya Sri tinggal di rumah Ridwan. Tentu saja, dia tinggal di sana tidak gratis tapi ia cukup lengkap dengan fasilitas yang diberikan Ridwan.


Tidak tahu karena sebab apa pria penjahat kelamin itu begitu baik terhadap Sri. Akan tetapi satu orang di rumah itu yang tidak menyukai kehadiran Sri.


Saat ini Sri tengah membuat sarapan di dapur, Ia bertemu dengan seorang asisten rumah tangga yang berpakaian sangat minim. Membuatnya jijik jika melihat perempuan itu. Pikirnya asisten itu tidak punya sopan santun sekali.


Ih, dasar wanita murahan! Punya gunung begitu saja so di pamerin. Memang di rumah ini cuman ada dia doang! Gak ingat apa kalau tuan rumahnya pria. Gumam Sri menggerutu memaki Susi (asisten rumah tangga).


Susi hanya mendelik menatap tidak suka terhadap wanita dihadapannya yang tak lain adalah Sri. Ia merasa tersaingi dengan kehadiran Sri di rumah ini.


"Heh kamu!" sahut Susi menujuk ke arah Sri.


Namun Sri tetap diam, cuek melanjutkan memotong-motong sayuran.


Susi yang melihat itu semakin menggeram kesal lalu menarik rambut Sri dengan dengan kasar. Sri mengaduh kesakitan.


Ridwan yang menyadari ada kekacauan di dapur, ia langsung bergegas menuju dapur. Dilihatnya kelakuan Susi yang kurang aja terhadap Sri.


"SUSI HENTIKAN!" bentak Ridwan suara nyaring memenuhi seisi ruangan.


Susi yang mendengar itu terperanjat kaget refleks melepaskan genggamannya dari rambut Sri. Sementara itu, Sri memegangi kepalanya yang sakit akibat ulah Susi.


"Ma-maaf say ...." kalimatnya terjeda saat Ridwan menatap tajam padanya. "Maaf tuan!" Sahutnya cepat.


"Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar seperti anak kecil?"


"Dia yang mulai!" Serempak keduanya secara bersamaan saling menunjuk.


Ridwan semakin bingung di buatnya. Ia menggusar rambut kepalanya ke belakang lalu menarik tangan Sri keluar dari dapur itu. Sri terkejut saat Ridwan menarik tangannya, ia mengikuti langkah kaki pria itu.


Sementara Susi menghentakkan kakinya, ia mendengus kesal.


Berani lo merebut milik gue, gue pastikan lo akan menyesal seumur hidup! Gumam Susi mengancam.


Seketika Ridwan menatap ke arah Sri.


"Gue kan sudah bilang jangan pernah membuat keributan di rumah ini!"


"Memang kapan kamu bilang seperti itu padaku?"


Hah iya juga ya, kapan gue bilang kek gitu! Gumamnya berpikir.


"Perasaan kamu gak ngomong apa-apa lagi!" Sahut Sri dengan tatapan serius.


"Ya ... pokoknya lo harus akur sama Susi!"


"Kenapa aku harus akur sama dia? Toh dia kan cuman pembantu di sini!"


Ridwan terdiam, ia hampir saja keceplosan.


Tak berapa lama Susi muncul membawa secangkir kopi lalu menaruhnya di atas meja. Susi menatap ke arah Sri dengan tatapan yang sangat menyeramkan.


"Apa lo lihatin gue kek gitu?" Sahut Sri membalas tatapan wanita itu.


"Woy, lo berani sama gue?" Ketus Susi menghampiri Sri dengan tatapan ingin mencabik-cabik tubuh Sri.


Tapi Susi masih tetap menggoyangkan ke kiri ke kanan tubuh sexynya karena di situ ada Ridwan yang tengah melihatnya.


"Oke siapa takut, sini maju kalau bisa!" tantang Sri.


Ridwan yang melihat kedua perempuan itu tampak frustasi, rasanya ingin mati saja daripada menghadapi kedua wanita di hadapannya.


Mereka berdua saling menatap tajam satu sama lain seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Lagi-lagi perkelahian saling menjambak rambut menarik sana sini sama kuatnya. Ridwan menggusarkan kembali rambut kepalanya, merasakan pening melihat kedua wanita itu.


"Dasar pembantu tidak tahu diri!" sahut Sri.


"Apa lo bilang? dasar wanita kampungan!" ujar Susi tak kalah meledek.


"Lo itu wanita tikus!" sahut Sri kembali.


Ridwan hanya mendengus kesal menatap kedua wanita itu.


"STOP!"


Seketika kedua wanita itu berhenti menjalankan aksinya. Mereka menatap ke arah Ridwan melihat laki-laki itu mengacak-acak rambutnya.


"APA?" serempak kembali menjawab bersamaan.


"Tidak kok, gue cuman suka saja lihatin kalian berdua bertengkar. Lanjutkan!" sahut Ridwan menyeringai berlalu duduk di sebuah sofa meneguk secangkir kopi.


Sementara kedua wanita itu saling memandang menatap bingung namun tak lama kemudian emosinya kembali memuncak hingga akhirnya mereka berkelahi saling menjambak rambut.


Ridwan mulai menikmati melihat pertunjukkan perkalahian yang saling menjambak. Apalagi yang berkelahinya itu dua wanita sexy. Ridwan curi pandang melihat kedua gunung kembar itu saling bergelayut. Rasanya ia ingin menerkam kedua wanita yang tengah berkelahi itu.


***


Lah itu si Ridwan otaknya me*um mulu...


Awas loh jangan macam macam sama dua perempuan yang lagi berkelahi nanti kena imbasnya loh!


aku udh up tapi belum di acc juga smpai skrng.. sedih aku tu..


Hai kakak semua mohon dukungannya ya, jangan lupa bom like, rate, vote, gabung gc dan komen ya..


Terimakasih...