
Edgar telah kembali ke rumahnya. Saat membuka pintu Edgar melihat kedua orang tuanya sedang duduk bersantai di sofa. Ia menghampiri dan tidur di paha ibunya. Bunda Elia melihat itu terkejut tak biasa jika Edgar bermanja padanya.
"Hey anak muda, jangan tidur di pangkuan istriku!" ketusnya.
Edgar melirik ayahnya menahan tawa.
"Apa si yah? Istrimu kan ibuku?" ledek Edgar.
"Berani nya kau ini? Bukankah kau sudah memiliki pacar, sana bermanja pada pacarmu!"
"Sudah tua juga, masih saja cemburu sama anak sendiri," ujarnya.
"Kau ini yah berani membantah," sahut pak Erwan seketika menggelitik Edgar.
Bunda Elia hanya tersenyum melihat kelakuan suami dan anaknya.
"Eh iya nak, mana pacarmu? Kenapa tidak diajak kemari?" tanya bunda Elia.
Edgar terdiam, nampak murung, dilihat dari raut wajahnya yang ditekuk. Bunda Elia melihat anaknya, ia tahu jika sedang ada sesuatu yang tidak beres.
"Kenapa nak, ada masalah?" tanya bundanya sebari menatap lekat wajah anaknya. Namun Edgar hanya menunduk membunyikan kesedihannya.
"Jangan-jangan kau putus ya dengan pacarmu?" ketus pak Erwan.
"Issstt ayah, jangan bilang seperti itu," istrinya mencubit lengan suaminya, hingga meringgis kesakitan.
"Lihat bunda, jawab ada apa sayang?"tanya bunda Elia serius menatap lekat Edgar.
"A-a-ak-aku tidak tahu sekarang Salsa ada dimana bunda, dia pergi begitu saja, sebenarnya ada masalah di antara kami." Lirihnya.
Bunda Elia terus mendesak Edgar agar mau bercerita padanya sampai akhirnya Edgar pun menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya.
"Ahhh kau ini peng*cut, bagaimana bisa kau seceroboh itu?"
"Aku bukan peng*cut yah, hanya saja keadaan memaksaku seperti ini," ujarnya.
"Ya kalau gitu tunggu apalagi, perjuangkanlah jika memang kau benar-benar mencintainya, cinta itu butuh bukti dan usaha, sampai dimana kau mampu memperjuangkan dan mempertahankan hubungan? Buktikan padanya. Cinta sejati bukan sekedar menjaga hati dan setia tapi butuh bukti untuk mengikat sebuah cinta." Nasihat pak Erwan.
"Ayah benar, kenapa aku jadi cengeng gini ya? nangis bombay macam anak ingusan," tersadar dari keterpurukan.
"Masa seorang Edgar Atmaja yang akan menjadi penerus perusahaan terkenal nangis bombay? malulah sama tetangga," ledeknya.
"Wih ternyata ayah bisa bijak juga," ketus istrinya mengacungkan dua jempol pada suaminya.
"Iya sayang, aku kan juga belajar dari pengalaman cinta kita," rayunya.
"Iiisssttt... berhenti ayah, masih ada aku di sini kalau mau bermesraan sana di kamar!"
"Dasar kau ya, rupanya kau sudah paham urusan kamar!" ujar pak Erwan melotot menatap tajam anaknya.
"Yaelah, semua orang juga tahu yah!" ketus Edgar.
Mereka bertiga tertawa. Setelah mendapat nasihat dari ayahnya, kini rasa khawatir Edgar sedikit berkurang. Setelah sekian lama mereka berkumpul akhirnya Edgar memutuskan untuk mandi. Selesai mandi, ia teringat sesuatu dan langsung membuka ponselnya berhasil mendapatkan suatu petunjuk.
Edgar meraih gitar, disaat pikirannya sedang kacau, ia selalu mendentingkan nada di senar gitar dan bernyanyi.
🎶 Kini kau dan aku tlah menjadi satu
Akankah diriku slalu bersamamu menjalani kisah ini hingga maut yang akan menjemput nyawaku
🎶Tersirat janji dari bibir manismu yang telah engkau ucapkan kepadaku bahwa kau kan slalu setia mencintai diriku sampai akhir hayatmu
🎶Semoga cinta kita akan slalu bersama meski arah slalu hadir dalam hidupku yang seakan coba menerpa menguji kesetiaanku kepadamu
🎶Biarkanlah rasa ini akanku jaga meski kau tak selalu hadir dalam hidupku namun yang harus engkau tahu aku bernafas hanya untukmu
Tiba-tiba telpon Edgar berdering, sebuah nomor asing.
Hallo,
"Siapa lo?"
Sayang aku rindu, bisa ke rumahku sekarang!
"Ada apa lagi lo hubungi gue? Bukankah sudah cukup semua yang telah lo lakukan,"
Aku cuman ingin bersamamu sayang, ayolah temani aku!
Edgar memutuskan sambungan telponnya. Ia sangat rindu pada Salsa.
Apakah disana ia baik-baik saja?
Bersama siapa dia disana?
Edgar mengkhawatirkannya, ia tidak sabar menunggu esok hari.
Andai saja gue bisa secepatnya ngejelasin semua ini, mungkin keadaannya tidak akan begini. Gumamnya dalam hati.
***
Sepertinya keadaan Salsa mulai membaik, ia sudah mulai berbicara semenjak bersama keponakannya. Tapi terkadang jika sendiri, ia masih sering termenung meratapi kepedihan hatinya.
"Ateu, aku mau es krim," sahut anak kecil merengek.
"Iya sayang, nanti kita beli ya," ajaknya.
"Yeee, terimakasih ateu," anak itu memeluk Salsa. Ia membalasnya dan tersenyum.
"Ateu, aku mau ini," ujar anak itu memajukan bibirnya cemberut dan menyodorkan sebuah gambar coklat.
"Iya nanti kita beli, kamu ini menggemaskan sekali si dek," tanya Salsa seraya mencubit pipi keponakannya.
"Aku kan lucu, imut ateu," ujarnya polos.
Salsa menggendong keponakannya yang umurnya sama dengan adiknya. Seorang anak kecil memakai rok mini dan baju trend model sekarang dihiasi dengan kuciran di rambutnya.
"Ateu, ayo masuk, Zia punya sesuatu buat ateu!" Ucapnya sebari menarik tangan Salsa.
Salsa tersenyum dan mengikutinya. Zia menunjukkan sebuah cincin mainan mirip cincin berlian, ia memakaikannya pada jari manis Salsa.
Salsa menangis melihatnya dan memeluk Zia.
"Ateu, kenapa nangis? Zia ada salah ya sama ateu?" sahutnya polos seketika menundukkan wajahnya.
"Enggak ko sayang, Zia enggak salah apa-apa. Ateu hanya ingat sama Davin." Salsa mempererat pelukannya.
"Ateu jangan nangis, mommy bilang kalau nangis nanti air matanya kering terus matanya bengkak, nanti jadi jelek," sahutnya polos seketika menghapus air mata Salsa yang membasahi pipinya.
Salsa tersenyum melihat tingkah Zia. Sungguh anak yang menggemaskan dan pintar. Ia pun mengajak Zia ke kamarnya untuk tidur karena hari mulai gelap.