
Saat ia izin ke Surabaya pada Kirana tadi malam, setelah ia menyimpan buku-buku dan barang-barang kuno itu ke gudang, ia langsung menuju Surabaya ingin memantau pabrik kapal yang tadinya Aresya dan Devan yang akan mengerjakannya, namun, Davino ingin ikut bergabung.
“Iya ada apa, kenapa sampai bawa gue ke sini, kenapa kita tidak bicara di kantor,” ucap Devan .
Saat melihat wajah Devan seperti ia yakin ada hubungannya dengan Aresya, ia yakin Devan marah padanya pada saat ia datang menjemput Aresya di Taman Sentosa saat di Singapura. Davino belum menjelaskan apa yang terjadi pada Devan.
“Gue ingin menyelesaikan kesalahpahaman di antara kita sebelum kita membahas tentang pekerjaan,” ucap Davino, membalikkan tubuhnya menghadap kearah Devan.
Davino masih bicara serius dengan sahabatnya tentang .
“Lu, mengkhianati gue Bro”
Jangan seperti itulah, kita sudah kenal lama, jangan melihat marah seperti itu padaku,” ucap Davino.
“Justru itu, gue sahabat lu , tetapi, kenapa lu mengkhianati, awalnya bilang, tidak ada hubungan dengan Aresya , tapi kenapa mengambilnya saat gue ingin mendekatinya?” tanya Devan dengan mata menatap serius kali ini.
“Gue, tidak mengkhianati lu Bro, justru ini yang ingin gue ingin bahas dengan lu makan saya suruh kesini, agar tidak ada kesalahpahaman, dengan Loe kali ini, dia adalah istriku,” ucap Davino menatap lelaki berkulit putih itu, menatap dengan tatapan serius.
“Apaa? Mana mungkin, bukankah Kirana istrimu. Apa kamu sudah berpisah?” tanya Devan dengan tajam, tentu hal itu membuat dirinya terkejut kalau ia memang istrinya Davino.
‘Bagaimana mungkin Ny Marisa memintaku bersamanya Aresya kalau dia memang istri Davino?’ tanya Devan dalam hati, ia tidak percaya.
“Iya gue tahu lo pasti bingung, tapi, itulah kejadiannya, oma menjodohkan kami berdua, saat ini Aresya istriku yang sah baik dalam agama maupun di dalam Negara”
“Haaa?” Devan menatap kaget.
“Iya. Aresya istriku, gue berharap lo jangan ada niat yang lain-lain lagi,” ucap Davino memberi peringatan.
“Gue masih bingung Bro, mana mungkin oma menyuruhku menjaga istri kamu? Apa beliau sengaja mengetesku?” tanya Devan.
“Hanya disuruh menjaga bukan? Tidak disuruh untuk merayu.” Ucap Davino.
Tiba-tiba Devan seakan tertampar, ia menunduk merasa tidak enak, ia masih ingat bagaimana ia merendahkan Aresya saat itu.
Devan saat itu menuduhnya wanita kampung yang norak, ia merasa tidak enak hati dan merasa bersalah. Ia tidak tahu kalau wanita yang bersamanya saat itu adalah istri dari Bosnya sekaligus sahabatnya.
“Gue, tidak tahu Bro kalau dia bini, Lo,” ucap Devan berucap pelan.
“Tidak apa-apa, Loe ‘kan tidak hanya tidak tahu saja, jangan khawatir kata-kata kasar dan hinaan sudah biasa dia terima,” ucap Davino, wajah Devan semakin pucat.
“Apa? Dia juga memberitahukan semuanya padamu, gue, gue minta maaf, Bro.” Devan sampai harus meminta maaf beberapa kali karena kelakuannya saat itu.
“Ok, tidak apa-apa, gue hanya menjelaskan, hal pribadi sampai ketemu di kantor, mungkin bahasan kita sudah tentang pekerjaan , gue harap Lo bisa mengurus semuanya, nanti gue mau datang ke kantor mengantikan oma, gue juga yang akan mengantikan beliau,” ucap Davino.
Devan yang sudah terlanjur melakukan kesalahan, karena ia merendahkan istri dari seorang Davino yang tak lain anak dari bosnya.
Ia hanya mengangguk patuh menjawab setiap pertanyaan Davino, ia juga meng iyakan semua yang dikatakan Davino.
*
Sudah hampir siang Davino akhirnya berangkat ke kantor, ia menempati janjinya memimpin rapat umum untuk pertama kalinya setelah para staf perusahaan diganti semua. Saat itu dalam kantor baru, wajah-wajah baru. Hari itu mereka melihat seorang sosok pemimpin berwibawa yang terlihat tenang, dan tutur kata sopan.
Dalam memimpin rapat kali ini, banyak yang memujinya karena ia berbicara dengan tenang terlihat profesional.
Devan yang menganggap Davino tadinya tidak mampu, dibuat terkejut dengan kemampuannya. Ny Marisa selalu menyepelekan kemampuan Davino di depan Deva selama ini, namun kali ini ia menampik semua itu, Davino melakukan dengan mudah apa yang biasa dilakukan Devan, bahkan semua investor bisa ia yakinkan hanya dalam satu obrolan santai dan klien yang ragu membeli kapal, berhasil ia yakinkan dan ia jelaskan kelebihan dari bahan pembuatan kapal dari Samudra Erlangga, ia juga membanggakan para arsitek muda yang mendesain kapalnya, hasil buatan anak-anak bangsa yang punya kemampuan dan dapat bersaing dengan Negara maju.
Tepuk tangan terdengar riuh dalam ruangan, saat ia memberi pidato.
Davino juga membakar semangat para pegawai dengan pengarahan dan janji manis juga pada para pegawai. Davino membuktikan diri bahwa ia layak jadi pemimpin.
Namun saat ia berusaha memberi yang terbaik, Devan merasa terusik, karena Davino bisa lebih baik darinya, padahal Ny. Marisa sudah membawanya dari London untuk mengurus perusaan kapalnya, namun saat ini, lahannya seakan di ambil Davino.
Kerja keras Davino sampai juga ke telinga Ny. Marisa ia terharu setelah membaca di salah surat kabar lokal. Davino Erlangga putra pewaris Erlangga Group memberi bantuan pada korban kebanjiran di daerah Surabaya, hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, selama hidupnya, selama ini ia tidak perduli pada kehidupan orang lain .
Tetapi, saat ini ia melakukan beberapa gebrakan, menjalankan perusahaan kelurganya, salah satu memberi lahan pekerjaan pada orang-orang sekeliling perusahaannya, menurutnya itu jauh lebih efektif dari pada mendatangkan pekerja buruh dari luar daerah, namun juga membayar uang keamanan pada warga.
JIka ia memberi pekerjaan pada warga sekitar, ia tidak perlu membayar pungutan yang mahal untuk lingkungan , warga akan menjaga dermaga kapal dan perusahaan mereka karena ladang kehidupan pada warga sekitar.
Kriiing … Kriiing ….
“Halo oma,” jawab Davino saat ia akan pulang dari kantor,ia berencana akan tinggal di Villa keluarga selama ia di Surabaya.
“ Oma, bangga sama kamu Nak,” ucap wanita tua itu mengusap matanya.
“Oma baik-baik saja?” tanya Davino ia bingung mendengar Ny. Marisa “Oma akan semakin panjang umur nak, jika kamu seperti ini,” ucap Ny. Marisa dengan pujian.
“Terimakasih Oma,” jawab Davino, namun dalam hati ia merasa terharu, karena baru kali ini ia mendapat pujian dari orang tua itu.
“Tetapi oma, apakah aku sudah bisa bertemu dengan Aresya?” tanya Davino dengan detak jantung tidak stabil.
“Baiklah Nak, oma akan menyuruh Adi menjemputmu naik heli ke sana,” ucap Ny. Marisa dengan suara lembut.
”Baik Oma” Davino mengepalkan tangannya dan menarik kebelakang bertanda’ Yes’
Ia menjalankan mobilnya penuh semangat, meninggalkan kantor dan pulang ke villa
Ia akan dijemput untuk dibawa bertemu Aresya, Davino tidaka tahu kalau Aresya sakit .
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Indentitas Tersembunyi Sang Menantu( BARU)
-Aresya
-Manusia Titisan Dewa
-Menikah Karena Wasiat( Cat story)
-Pariban jadi Rokkap
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (Tama)