Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Merindukan Aresya


Sutomo menceritakan semuanya pada Davino.


“Perkumpulan storbit itu dulu,  sampai pada seorang dukun yang jahat, ia memfitnah  sang guru,  melaporkanya pada raja kalau sang guru memiliki perkumpulan sesat yang mengajak warga untuk menyerang  kerajaan. Raja murka dia meminta pada para prajurit untuk menangkap keluarga nenek moyang  yaitu Sang Guru untuk menghabisinya dan seluruh keluarga dan muridnya.


Namun Torak sang guru sudah mengetahui  hal itu terlebih dulu,  sebelum penangkapan, ia membawa seluruh murid dan keluarganya  melarikan diri ke hutan.


Raja semakin murka saat tidak bisa menangkap Torak dan keluarganya.


Katanya; Raja meminta bantuan dukun jahat itu,  untuk menangkap Torak,  dengan senang hati ia melakukanya, karena tujuan memfitnah, ingin memburu  Torak dan mengambil batu  kristal ajaib  yang dimiliknya.


Tidak mau tertangkap Torax oleh Kadas, ia  membagi batu biru itu  menjadi empat bagian, di berikan pada keempat putrinya.


Lalu meminta untuk berpencar menjadi empat bagian dengan para muridnya.


Kadas murka, ia memohon  pada iblis agar di beri hidup abadi,   walau hanya dengan  segumpal awan gelap atau bayangan gelap, agar ia bisa terbang mencari keempat potongan batu.


Iblis  berjanji akan mengembalikan raganya, asalkan ia bisa mengumpulkan potongan keempat batu biru dan menjadikan wanita keturunan Torak jadi penggantinya wanita yang berdarah biru. Jika kadas bisa menikahi  wanita dari keturunan Torak,  maka kekuatannya akan bertambah, begitulah cerita yang diceritakan opamu dulu sama papi, bahkan ia menulis kisah itu sebuah buku yang disimpan di suatu tempat.”


Sutomo akhirnya menceritakan kisa keluarga nenek moyang mereka.


“Apakah Kadas itu masih ada sampai sekarang, Pi?” tanya Davino matanya sampai menatap serius saat Sutomo menceritakan kisah Storbit.


“Katanya sih masih ada, Papi juga tidak tahu pasti dan tidak mau mengurusinya Vin, Papi ingin hidup sebagai manusia biasa dan mati juga seperti manusia biasa, saat ini papi  percaya  sang penguasa langit dan seluruh isinya,  kamu juga  harus seperti itu nak, berserah pada Sang  pencipta” ucap Sutomo menepuk pundak Davino, membuat tubuh kekar itu terdorong sedikit ke depan, karena tepukkan tangan papinya.


“Aku tahu akan hal itu Pi, tetapi, aku ingin tahu lebih banyak lagi dari Papi, kalau aku bertanya pada Oma beliau tidak akan memberitahukannya”


“Cukup sampai di sini dulu Nak, aku tidak mau kamu tahu terlalu banyak tahu, itu akan membebani pikiranmu nantinya, lupakan itu, bagaimana kalau temanin Papi  serapan pagi?”


“Baiklah,  Pi” Davino menurut dan mengimbangi jalan papinya dan masuk ke dalam rumah.


*


Di sisi lain.


Kirana menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk yang berukuran king size itu, ia lelah bertarung dengan pikirannya,  pada akhirnya mengaku kalah untuk adu gengsi dengan suaminya.


Untuk pertama kalinya baginya,  harus menelepon duluan. Selama dua bulan ia menahan diri berharap Davino yang meneleponnya dan memohon agar ia kembali pulang kerumahnya.


Tetapi ini,  sudah bulan kedua, Davino tak kunjung menjemput, jangankan menjemput berkirim pesan pun tidak ada. Kirana tidak tahu,  selama dua bulan itu sudah banyak yang terjadi . Bahkan mengubah pandangan Davino kepadanya,  saat ia pergi meninggalkan rumah keluarga Erlangga itu sama saja ia memasang satu tembok untuknya Davino, karena ia pergilah Davino dapat menerima kehadiran Aresya dan tahu banyak tentang Aresya.


Karena Aresya juga,  akhirnya ia tahu kalau hidup yang ia jalani selama ini tidaklah seindah  dan seenak dari kelihatanya. Ada banyak rahasia keluarga yang tersimpan dan tidak ia ketahui selama ini.


Davino sengaja tidak kemana-mana hari itu, ia menghabiskan hari libur,  hanya di kamarnya membaca buku yang ada kaitannya dengan  sejarah keluarganya  cerita yang  sama dengan cerita ayahnya.


‘Apakah Aresya keturunan salah satu putri pemilk batu kristal? Apakah keluarga Aresya pemilik salah satu batu biru itu?’ tanya Davino dalam hatinya.


Ia semakin yakin  dengan cerita ayahnya benar adanya, mengingatkannya pada mimpinya  saat mereka  melarikan diri ke hutan, dalam mimpi Davino saat itu ia melihat bayangan hitam yang menyeramkan mengikuti mereka dan menangkap Aresya.


‘Aresya tidak hanya incar manusia saja, bahkan setan juga mengincarnya? Kasian Aresya hidupnya tidak pernah tenang.


Sekarang aku mengerti kenapa ia memintaku melakukannya malam itu,  ia ingin melepaskan segel  itu dari tangannya, agar  makluk itu tidak mengincarnya  lagi. Oh aku mengerti sekarang’ ucap Davino dengan kepala mengangguk-angguk seperti mainan manekin dalam mobil.


Davino terlihat sangat serius membaca dan menghayati buku di tangannya sesekali ia juga searching di google untuk membaca kisah-kisa zaman dulu. Sat ia lagi serius  suara  panggilan di ponselnya bergetar si saku celananya membuat  sesuatu ikut terbangun di daerah itu.


Ia dengan gerakan cepat merogoh saku celana mengeluarkan benda bergetar itu.


Ia menatap layar sekilas,  mata Davino menatap dengan sinis kearah ponsel, seakan benda  berwarna hitam itu, telah melakukan kesalahan besar padanya.


Melihat nama si pemanggil, terpampang nama Kirana , ia mengabaikannya,  tidak mengangkat, matanya sibuk  membaca buku yang di pegang, namun, Kirana menelepon lagi,  tidak ingin terusik dan tidak ingin terganggu Davino memasukkan ponselnya kedalam  laci.


Kirana diam, matanya menatap ponselnya ia merasa Davino sangat berubah karena tidak biasanya Lelaki itu mengabaikan panggilannya.


“Ada apa dengannya apa dia masih marah padaku?” ucap Kirana dengan tatapan mata berkaca-kaca  menahan  tangisan. “Aku harusnya yang marah padanya,  karena ia mengabaikan pesanku selama dua bulan ini, ia harusnya menjemputku kesini, seperti biasa, tapi kenapa dia mengabaikanku” ujar Kirana terisak-isak.


Ia menyesali keputusannya yang meninggalkan rumah Davino.   Sebenarnya tidak ada niatnya keluar dari rumah, namun saat Davino tidur dengan  wanita lain dan bersikap santai tanpa merasa bersalah,  ia marah,  keluar dari kamar, berharap Davino melarangnya pergi.


Berharap lelaki itu melarangnya dan memeluknya dan minta  maaf, tetapi  tidak berjalan dengan sesuai keinginannya. Justru ia merasa kalau Davino mencoba melupakannya.


Dengan bertindak nekat.  Kirana mengumpulkan pakaiannya, memasukkannya kembali ke dalam koper, mengusap buliran dari matanya,  turun dari kamarnya, kedua orang tuanya, saling menatap melihat kelakuan anak semata wayang mereka.


Padahal saat ia datang  dua bulan yang lalu,  ia bersikukuh bilang tidak mau pulang kerumah Davino kalau Davino tidak membawa keluarganya datang untuk menjenguknya.


Padahal kedua orang tuanya sudah membujuknya agar pulang kerumah Davino, tetapi ia bersikeras kalau ia akan menunggu di jemput suaminya.


“Aku akan pulang  ke Jakarta Mi,Pi ,” ucap Kirana pamit pada Mami dan Papinya.


“Ok baiklah Mami sama Papi akan selalu mendukung kamu,” kata orang tuanya mendukung setiap keputusan Kirana


Setiap orang tua, pasti tidak ingin melihat anak-anak mereka bersedih, kadang mendukung keputusan anak-anaknya walau kadang  berlawanan hati nurani mereka.  Setelah berpikir panjang,  Kirana memutuskan pulang ke Jakarta.


Bersambung