Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Marisa Sayang Pada Aresya


Davino,  menunggu Adi, orang yang akan membawanya terbang ke tempat Aresya, sesekali ia menarik napas panjang, tentu ada rasa rindu pada wanita yang pernah menghangatkan malamnya, ia tidak sabar lagi untuk melihat Aresya,  sengaja mengganti  penampilannya, yang biasanya terlihat Formal dengan setelan jas, kali ini ia berpakaian santai, gaya anak muda,  ingin terlihat berbeda saat bertemu dengan Aresya.


Menunggu lima belas menit, akhirnya suara helikopter terdengar di udara hingga  mendarat di depan Villa keluarga  Erlangga, sebuah landasan helipad, di halaman depan.


Davino berlari kecil dengan menundukkan kepalanya dan menyisihkan  rambutnya yang di terbangkan angin kencang , dari baling-baling burung besi itu.


“Hai Di,  apa kabar lama tidak melihatmu?”


“Baik pak,” sahut Adi  terlihat tulus.


Sejak dari Singapura  baru kali Adi bertemu lagi dengan Davino. Lelaki yang sempat tidak menyukai kehadirannya karena di anggap Aresya lebih berpihak dan lebih memilih Adi.


Davino diam karena percuma ia bicara suaranya tidak terdengar, tengelam dengan suara mesin helikopter, burung besi itu terbang dan membela awan dan membawanya  menuju Puncak.


Setelah beberapa lama terbang Davino akhirnya tiba, ia menarik napas panjang,  ia berpikir akan bertemu Aresya setelah satu bulan sejak malam itu,  Davino berjalan dengan langkah yakin dan percaya diri, kakinya menapak dengan sigap memasuki villa keluarganya.


“Coba aku tahu Aresya  ada di tempati ini,  aku sudah datang ke sini jauh-jauh hari’


Saat ia masuk  kedalam rumah,  pengawal Aresya dan pengawal omanya di bawa semua ke Villa yang  di puncak.  Maka itu orang di rumah utama sangat berkurang karena sudah di angkut semua ke Villa.


“Davino, kamu sudah datang  Nak,” ucap oma Marisa mengecup pipi Davino kanan- kiri.


Hal yang tidak biasa dilakukan Ny. Marisa,  bahkan ini pertama kalinya ia melakukan itu padanya, tentu saja ia terkejut dengan perlakuan  dari omanya.


‘Ada apa dengan oma? Apa ada  yang spesial  atau hal baik terjadi?’


Saat ia duduk tidak ada Aresya  bersama omanya saat itu, matanya mencari sekeliling. Orang tua itu tau siapa yang dicari Davino.


“Kamu mencari dia?” tanya  Ny. Marisa menatapnya.


“Iya,  kemana,  dia?”


“Ayo ikut aku,” pintah Ny. Marisa menyuruhnya mengikuti dari belakang


Membawa Davino  ke suatu ruangan di mana Aresya berbaring dalam keadaan koma di satu ranjang,  dalam pengawasan seorang dokter dan satu perawat.


“Aresya?” mata Davino menatap kaget,  melihat sosok wanita yang dirindukannya berbaring dengan keadaan tidak sadarkan diri.


“Apa yang terjadi, oma?” tanya Davino dengan tatapan mata tidak percaya.


“Tenang Davino,  dia  hanya berbaring butuh beberapa hari lagi untuk ia bangun.”


“Apa terjadi, Oma?”


“Begitulah takdir kehidupan yang harus dilewati Aresya Nak, tetapi, dia sudah melewati masa krisis itu,  jangan dia akan bangun dua atau tiga hari lagi”


“Apa selama ini terbaring di sana?” tanya Davino masih dengan tatapan mata tidak percaya.


“Ya”


Marisa akhirnya menceritakan semuanya pada Davino,  apa yang terjadi, bagaimana  mereka menyelamatkannya. Aresya menghadapi jalan yang sulit dalam hidupnya, termasuk malam pertama.


“Dia sedang hamil anak kamu saat ini”


“Apa?” Davino terkejut setengah mati saat tahu kalau Aresya hamil.


Davino hanya diam,  ia merasa seperti orang bodoh setelah tahu kalau Aresya sudah hamil selama ini dan ia tidak mengetahuinya.


“Itu bukan salah kamu oma yang meminta Aresya menyembunyikannya, untuk saat ini tolong jangan ganggu dan dekati dia demi keselamatan Aresya dan calon anakmu” ucap Ny Marisa


**


Hari yang ditunggu akhirnya tiba,  Aresya bangun, ia mulai bisa mengerakkan tangannya, walau masih sangat lemah, tetapi sudah ada satu harapan untuk ia bangun, sayang, momen bahagia itu tidak  dilihat Ny. Marisa dan Davino. Karena mereka berdua kembali Ke Jakarta.


“Non, apakah bisa gerakkan tanganmu,” tanya dokter yang  mendekatkan wajahnya ke wajah Aresya.


Aresyah mengangguk,  ia menurut dan menggerakkan tangannya dengan lemah.


“Bagus Non, bisa buka mulutnya?” Ia  menurut, Aresya membuka mulut.


Davino sudah kembali ke Jakarta dengan Ny. Marisa karena ada pekerjaan yang sangat penting. Tidak ada angin tidak ada hujan,   tiba-tiba para pemegang  saham menuntut Ny. Marisa,  untuk tidak mencampuri perusahaan lagi, menuntut menyerahkan semua urusan perusahaan pada  Davino dan papinya.


“Kenapa mereka mencampuri urusan perusahaan kita, apa hak mereka?” tanya Davino saat berangkat ke kantor bersama omanya.


“Kelak,  kamu jika sudah pemimpin perusahaan, kamu harus kuat dengan kritikan dan penghianatan , karena tanggung jawab seorang pemimpin itu sangatlah berat,  Davino” ucap orang tua itu menasihati.


“Aku tahu oma, jangankan jadi pemimpin,  saat aku jadi manager saja,  masih ada orang yang  berkhianat di belakangku”


“Omah ingin menyerahkan semua  perusahaan ini pada kamu,  tugas oma sudah selesai, oma ingin melakukan hal yang lain,” ucap orang itu mengusap punggung tangan Davino. “Vin, lakukan yang terbaik, oma percaya pada kamu”


“Ta-tapi oma kenapa jadi tiba-tiba? Aku belum siap aku masih butuh oma,” ucap Davino. “Memimpin perusahaan sebanyak itu bukan hal  mudah.”


“Oma percaya pada kamu, jangan pernah ragu untuk melakukan apapun, tidak semua orang yang kamu percaya itu baik, ada kalanya orang yang kita percaya malah mengkhianati kita, oma berharap kamu memikirkan ucapan ku, kamu paham?”


“Iya oma”


“Vin, jangan marah sama oma, Kirana bukan wanita yang baik”


Mendengar itu mata Davino terbelalak, namun ia diam, omanya tidak pernah asal bicara, setiap perkataanya  sangat berharga dan selalu terbukti benar. Ia hanya merasa malu karena omanya mengetahuinya.


“Iya oma”


“Tetapi, Aresya gadis yang baik yang akan memberimu kekuatan dan keturunan”


“Oma, ingin pergi duluan, sampai bertemu di ruang rapat,” ucap wanita yang selalu terlihat,  modis dan berkelas itu.


Mendengar  omanya bicara seperti itu Davino hanya diam, tiba-tiba ia merasa lemas. Dalam rapat saat semua menuntut ia tidak ikut campur dalam perusahaan Ny. Marisa terlihat sangat tenang tidak terusik sedikit pun dengan tuntutan para pemegang saham.


“Baiklah, terimakasih atas kedatangan  bapak dan ibu dalam rapat tahunan ini, saya mendengarkan  semua tuntutan bapak dan ibu atas  saya. Tetapi, di sini saya ingin jelaskan pada kalian semua, saya wanita tua yang hanya memikirkan kebaikan perusahaan yang sudah di bangun  suami saya.  Ini adalah perusahaan warisan keluarga turun-  temurun. Kalau saya tidak mengawasi dan menjaga  harta dan milik saya bagaimana mungkin saya menyuruh orang lain”


“Tetapi Ibu, cukup beristirahat dan berikan semua urusan pada pada pak Sutomo karena ia juga anak ibu, apa ibu tidak percaya pada mereka?” teriak seorag dari kursi.


“Anak saya pak Sutomo, lelaki yang pintar dan cucu saya Davino juga lelaki yang pintar,  merekalah yang pemimpin perusahaan ini, hanya saya memberikan nasehat dan mengingatkan jika mereka salah melangkah”


“Tetapi Ibu yang selalu memutuskan setiap keputusan,” desak seorang lelaki bertubuh gemuk.


Ny. Marisa  tahu,  ada  tikus-tikus busuk yang ingin mencoba memecah belah antara ia dan anak dan cucunya,  ia tahu siapa orangnya, namun,  ia tidak akan  masuk dalam perangkap dalan permainan licik itu.


“Baiklah, saya yang ingin perjelas semuanya di sini,  anak saya Sutomo Erlangga sebagai direktur utama perusaan Erlangga Group, ia  yang berwenang di sini, tidak ada yang mengingkari itu dan nanti kepimpinannya akan di turunkan pada cucuku satu-satunya,  pewaris tunggal dan pewaris sah perusaan Erlangga Group. Davino Erlangga tidak ada yang bisa mengingkari itu,  saya sudah mencatat itu dalam warisan saya.”


Semua terdiam, tidak ada bantahan lagi, Davino yang duduk di samping papinya terlihat percaya diri karena baru pertama kalinya Ny. Marisa menyebutkan kalau ia cucu satu-satunya dan pewaris tunggal Erlangga Group.


Sutoma terlihat sangat legah karena ia menyebutkan kalau ia pemimpin  semua Group Erlangga, kalimat itu keluar langsung dari mulut ibunya.


Ia  khawatir ada yang marah dan menyerang mereka berdua dengan Davino.


Bersambung