Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Apa Dia Wanitamu


Kini rumah yang ditempati Boas tidak setenang dulu lagi, sejak ada Efran di rumahnya, ada lelaki dewasa yang menganggu ketenangannya.


Di rumah itu semua hal yang bersangkutan dengan rumah tangga di pegang Ardan asisten rumah tangga yang mengatur semuanya termasuk hal pekerjaan. Tetapi beberapa hari ini, Efran Dewa yang mendapat hukuman itu ikut mencampuri urusan pekerjaan rumah.


“OH, iya aku mau kamu memberikan ini untukku, kata Pak Ardan, anak muda di kota, menggunakan ini. Pak Ardan juga sudah mengajariku,” ujar Efran, saat Boas sedang baca buku Efran menunjukkan gambar ponsel keluaran terbaru di majalah yang ia pegang.


Hentikan semua, Bawa gadis muda itu ke istana Dewa, dia juga akan kita sidang , dan dari sana kita tahu apa dia senang apa tidak dan kita bisa memutuskan siapa yang salah dan siapa yang benar”


“Kamu tidak butuh itu,” ucap Boas dengan gaya santai, karena ia tahu , Efran walau Dewa tertinggi menghukumnya dengan hidup sebagai manusia biasa, tetapi ia masih memiliki kekuatan yang bisa mendatangkan barang yang ia inginkan.


“Aku membutuhkannya dan ini juga.”


Ia menunjuk kartu kredit yang ingin ia gunakan untuk belanja.


Efran tidak tahu kalau ia memiliki kekuatan, walau tidak sekuat saat, ia masih seorang Dewa.


“Baiklah, minta saja sama Ardan apa yang kamu inginkan, jangan pernah muncul di hadapanku, itu sangat menyusahkan,” ujar Boas bersikap kasar padanya.


“Ok, baiklah kamu yang berkuasa saat ini,” ucap Efrat dengan sikap santai, apapun yang dikatakan Boas padanya ia tidak pernah tersinggung dan marah.


“Oh … satu hal lagi, aku sudah beberapa hari, di rumah ini, tetapi baru tadi, aku melihat wanita cantik itu, siapa dia?”


Boas langsung terdiam , matanya melotot tajam.


“Jangan coba-coba menggangunya atau aku akan membakar tubuhmu,” ujar Boas marah.


“Tidak … aku hanya bertanya siapa dia, kenapa kamu langsung marah” Efran mengedikkan pundaknya saat boas marah.


“Karena kamu itu pengganggu dan perusak kehidupan orang”


Efran diam sebentar lalu ia bertanya lagi” apakah dia wanita mu?”


Boas menatap dengan tatapan lebih tajam lagi


“Itu bukan urusanmu” ucapnya dengan ketus.


Efran menyengitkan kedua alisnya melihat Boas yang marah, ia merasa serba salah, setiap kali mengobrol dengan Boas.


“ Aku tidak tahu masalah kita di masa lalu, membuatmu marah dan kesal setiap kali melihatku, tetapi kalau kata maaf bisa membuatmu reda, maka saya ingin melakukan itu. Maaf jika di masa lalu aku pernah menyakiti perasaanmu,” ucap Efran dengan tulus.


‘Kata Maaf saja tidak membuatku redah, karena kesalahan yang kamu lakukan padaku sangat besar’ Boas membatin,


“Bagaimana, apa maafku diterima?”


Saat mengobrol dengan Boas Shena tiba-tiba turun dari kamar dan ia menuju kolam renang, mata mereka berdua langsung terarah bersamaan pada sosok Shena yang melepaskan pakaiannya, tidak menghiraukan dua orang lelaki yang sedang melihatnya.


“Wow sangat cantik …” Efran memilki sisi lain dari dirinya yakni lelaki pengagum wanita-wanita cantik.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Boas menatap Efran bagai seorang musuh.


“Gila, dia sangat cantik bagai bidadari, sepertinya dalam mimpi aku pernah bertemu dengannya,”ucapnya kemudian, membuat Boas yang tadinya duduk tenang merasa panas.


“Aku sudah bilang jangan memikirkan hal yang aneh tentangnya atau aku akan melenyapkanmu” ujar Boas penuh penekanan.


“Tapi apa dia istrimu …?” tanya Efran terlihat serius.


“Kenapa?”


“Kalau dia bukan istrimu bukan kekasihmu itu artinya ada kesempatan untukku”


“Apa kamu bilang?”


Tiba-tiba Efran berjalan meninggalkan Boas ia ke kolam renang.


“Hai, sepertinya kurang menyenangkan kalau kamu berenang sendirian”


Shena membalikkan badannya melihat Efran berdiri di belakangnya, di sisi kolam renang, Shena menyengitkan kedua alisnya, karena ia berpikir ada orang asing yang bersikap sok akrab padanya.


“Maaf, Anda siapa?”


Efran berjongkok dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan, aksinya bagai gayung bersambut Shena mengulurkan tangannya


“Saya Shena”


“Hai Shena, aku Efran,” ujarnya dengan senyuman manis dan ramah.


Di tempat lain tepatnya di kursi di dekat pohon, Boas yang melihat ternyata merasa terbakar


“Mana ada kelakuan Dewa seperti itu,” ujarnya dengan kesal


Boas semakin marah saat Efran tiba-tiba bisa sangat akrab dengan Shena, saat ia di acuhkan tiba-tiba Efran datang mengisi kekosongan itu, Boas memikirkan hal -hal yang tidak masuk akal, ia memikirkan tiba-tiba Efran menikah dengan shena.


‘Gila tidak boleh seperti ini, aku harus melakukan sesuatu’ ucapnya dalam hatinya lalu ia berjalan mendekati kolam renang di mana Shena dengan Efran mengobrol akrab.


“Kamu, nanti ke ruangan saya,” ucapnya pada Efran.


Lalu dengan cepat ia menarik handuk Shena yang di letakkan di atas kursi.


“Ada apa?” tanya Shena dengan mata melotot tanda protes atas sikap Boas.


“Kamu naik dan udahan berenangnya,”


titahnya dengan nada memerintah.


“Hei …! aku baru berenang,”ucapnya protes.


“Shena, apa kamu akan memamerkan tubuhmu pada pria hidung belang ini?”


tanya dengan wajah marah, jelas sekali ada rasa cemburu di sana.


“Hei, kawan, jangan menyebut ku pria hidung belang, aku bukan pria seperti itu, aku lelaki pengagum wanita cantik seperti dia,” ujar efran, melirik Shena dengan senyuman manis yang menggoda


Boas semakin panas, melihat Boas yang marah, ternyata Efran semakin mengerjainya dan ternyata Shena juga sepertinya ikut mengerjai lelaki bermata biru itu.


“Oh Tuan, apa malam ini ada acara, saya ingin mengajak untuk makan malam”


“Ha …! Boleh kebetulan saya juga belum tahu tentang kota ini”


“Hei, aku bilang keluar dari sana,” ucap Boas ia turun ke kolam renang dan mengangkat tubuh Shena dari kolam renang setelah membungkusnya dengan handuk, mengendong Shena ke kamarnya.


“Apa kamu yang lakukan, semua orang sedang menonton kita?”


Boas diam tetapi, wajahnya terlihat serius, meletakkan tubuh Shena di kamarnya.


“Kenapa kamu melarang bicara sam-”


Belum juga ia selesai bicara Boas sudah membungkam mulutnya dengan bibirnya.”


Kamu milikku,” ujarnya lirih.


Shena terdiam mendengar, matanya hanya mengerja-erjap saat Boas memegang pipinya dan menikmati bibirnya, matanya terpejam menikmati rasa yang disungguhkan Boas,


“Jangan menghindari ku lagi anak kecil,” ucapnya lagi melepaskan bibirnya tetapi tangan memegang dagu Shena, wajah Shena bersemu merah.


“Bukannya kamu bilang kalau kamu tidak suka denganku? Aku tidak mau mengganggumu”


“Tidak, aku suka padamu, bahkan sangat menyukaimu, jangan coba dekat-dekat dengan pria itu, dia lelaki jahat,” ucapnya dengan nada serius.


“Apa kamu cemburu?” tanya Shena dengan kedua pipi masih memerah bagai pakai blason.


“Ganti pakaianmu, nanti kamu masuk angin, aku ingin mengajakmu keluar”


“Haaa? Apa kita akan kencan?” Shena melompat kegirangan


“Iya”


Bersambung …