Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Malam Pengantin Yang Sah


Tolong Bijak dalam membaca ya...


Karya ini banyak adegan vulgarnya kalau tidak suka skip saja.


^^Happy Reading ^^


“Kamu hanya perlu melakukan tugasmu sebagai suami, anggap ini malam pengantin kita yang sah”


“Apa kamu memintaku, melakukan malam pertama”


“Ini bukan malam pertama Davino, kita sudah melakukan malam pertama di hutan,” ujar Aresya dengan wajah datar. Ia meminta itu pada Davini bukan karena ia suka, tetapi karena ia ingin iblis itu melihatnya.


Aresya melepaskan ikatan tali piyamanya dan membiarkannya melorot di depan mata Davino, tubuhnya kini benar-benar  polos berdiri di depan Davino.


“Aresya … kamu sangat cantik,” ujar davino memuji tubuh Aresya saat itu, Aresya dengan percaya diri memamerkan tubuh aslinya pada lelaki yang dulu menghinanya.


Mata Davino tidak berkedip di  buatnya, ia meluruskan posisi duduknya di atas ranjang melihat Aresya  yang  saat ini sudah polos di depannya matanya,  terlihat seperti dewi Afrodit dalam mitologi Yunani,  dewi kecantikan dan dewi cinta, yang membuat semua kaum adam terpesona dengan kecantikan tubuhnya.


Saat ini Davino  bagai terhipnotis saat melihat pemandangan  di depan mata, saat ini istrinya berdiri di depannya menyajikan sebuah keindahan yang  memangilnya untuk menikmatinya.


Wajah Aresya tersenyum indah dengan gerakakan langkah berjalan mendekat, gerakkan kakinya lambat namun pasti,  ia mendekati suaminya yang saat ini duduk melongo menatapnya dari atas  tempat tidur, seakan ia  belum percaya dengan apa yang ia lihat.


Davino menelan savilanya dengan susah payah, seakan-akan ada ribuan  batu-batu kecil menyumbat tenggorokan, suara dari jantungnya, seperti suara gendang,  Aresya mendekat mendaratkan bibirnya di bibir suaminya.  Ia menikmati bibir Davino ********** dengan lembut, Davino seakan belum sadar,  ia masih membiarkan bibirnya di nikmati Aresya, ia menutup matanya, rasa fres dari nafas Ares   menyapu wajahnya, bibirnya manis bagai buah melon.


Hingga Aresya menaikkan tubuhnya di atas ranjang, tubuh Davino masih bersandar di sandaran ranjang, namun perlahan tangannya  Davino mengelus punggung Aresya kulit yang mulus seakan menggelitik telapak tangannya .


Davino membuka matanya, melihat Aresya menutup mata dan menikmati setiap ******* bibirnya, ia tidak mau menyia-nyiakan  kesempatan di depan matanya, sepasang buah yang sangat ranum menggoda matanya, buah berukurannya sedang tetapi kenyal sangat menantang.


Davino mencekamnya, mengarahkan bibirnya dan mulai menikmati, mulai dari cerutan lehernya turun ke dada , satu tangan mengingkari  benda sintal dan bibirnya menikmati puncak gunung, sesekali mengigit ujung yang berwarna merah kecoklatan itu.


Hawa dalam kamar sudah mulai panas, Davino menidurkan tubuh Aresya di ranjang, Davino menikmatinya dari atas dengan  cepat ia membuka koas berwarna hitam  menyisakan  celana boxer yang masih menutupi miliknya.


“Lakukan dengan hati-hati, jangan menekan perutku, ada sesuatu yang berharga di sana,” ucap Aresya. Tetapi lagi-lagi Davino tidak peka.


“Baiklah, aku akan melakukannya dengan hati-hati,” ujar Davino menarik sebuah kursi.


Dada Aresya terlihat naik turun saat melihat Davino melepaskan kaos miliknya.


“Kamu siap, bagaimana kalau kita melakukan dengan gaya yang nyaman.” Davino menunjuk kursi.


Ia hanya tersenyum kecil, ia mengangguk dan berjalan anggun kearah kursi, Davino menatap dengan tatapan rakus tubuh Aresya, bentuk tubuh yang sangat indah idaman semua pria.


Matanya menuju gua milik istrinya, gua  di tutupi rumput-rumput berwarna hitam, tubuh Aresya semakin menegang saat Davino mengarahkan bibirnya mendaratkan bibirnya dimahkota istrinya,  tubuh Aresya, bergerak tak beraturan Davino menarik tangan Aresya agar tubuhnya semakin dekat, lalu mengarahkan  wajahnya menyentuh rumput itu dengan bibir dan menyusuri bagian betis Aresya dengan gerakkan lembut yang memukau, tubuh itu, semakin  menegang.


Tidak ingin Davino melakukan permainan sendiri, tangan Aresya menarik leher Davino mengarahkan bibirnya di leher dan dada, Davino mengeluarkan suara erangan-erangan kecil saat ia menerima sentuhan itu dari Aresya.


Ia juga membalasnya, maka saling menyerang dan saling memberi dan menerima. Setelah beberapa menit melakukan pemanasan, Davino membuka pengaman  miliknya, Aresya  menatap dengan terkejut, saat melihat  milik Davino benda itu menantang  dengan gagah, ini pertama kalinya ia melihatnya dengan jelas, karena sebelumnya, ia tidak melihat karena gelap.


‘Besar sekali ternyata, apa rasanya akan sama sakit seperti malam itu?’ Aresya membatin.


“Davino, aku belum pernah di sentuh lelaki manapun selain kamu, tetapi, saat ini aku benar-benar merasa takut” ucap Aresya menahan napas ia terlihat tegang.


“Tenanglah sayang, kita sudah pernah melakukan sekali di hutan”


“Tidak, itu hanya pertamanya saja nanti selanjutnya kamu akan ketagihan,” bisik Davino dengan bujuk rayuan.


Mata Davino menatap dengan tatapan buas, ia seolah-olah tidak ingin kehilangan kesempatan, " Tenanglah ,  aku akan melakukannya dengan pelan-pelan,”ucap Davino memangku tubuh Aresya mengarahkan wajahnya  menyentuh dan mengercap bibir Aresya lagi, ia menyentuh lehernya dan kembali turun ke bagia perut dan tubuh Aresya bergerak tidak karuan, ia semakin bergerak seperti cacing terkena panas,  seiring dengan sentuhan yang di berikan Davino, jari-jarinya menjalar  menyusuri setiap inci dari tubuh istrinya .  Aresya semakin menegang bagai tersengat aliran listrik, semakin Davino semakin bertindak, lebih ganas, semakin ia mengeluarkan suara-suara ribut dari bibirnya yang seksi.


Kini ia kembali mencengkram bagian lembut dari dada Aresya dengan posesif membuat nafas Aresya tertahan, terkesiap


“Uhmmm …,” suara  Aresya semakin menderu,  napasnya keluar semakin terbata-bata.


Davino kembali mengendus tubuh Aresya dengan napas, napas panjang dan sensual, Endusanya berirama dan berpindah-pindah dari leher ke dada dan terus turun ke perut, hingga berakhir di bawah perut.  Membuat tubuh Aresya merinding dan merespon,  ia semakin  bergerak liar,  menahan aliran listrik yang mengalir di setiap sentuhan Davino.


“A-a-aaahhh,” lirih Aresya lagi.


“Bagaimana?” tanya Davino ia tidak mau Aresya merasa kesakitan.


“Tidak. Lakukan lagi, teruskan lagi,” sahut Aresya dengan suara serak karena tertahan, ternyata Aresya juga jadi candu dengan sentuhan yang di berikan Davino.


Nafas Aresya semakin tersendat-sendat. Saat Davino  mengangkat tubuhnya ke sisi ranjang,  lalu membuka kedua kakinya,  tangannya merayap masuk mencari liang gua milik Aresya.


“Aku akan memberikan  sentuhan yang paling berkesan  malam ini sayang, nikmati saja,” bisik Davino.


“Lakukanlah aku siap, ” ucap Aresyah dengan napas menderu.


Davino mengedip, lalu mencium bibir merah itu lagi dengan  ecapan yang nikmat,  lidah menjelajahi dengan dalam, memancing tubuh Aresya, bergerak  untuk kesekian kalinya, lagi-lagi ia bergerak manja dan mengeluarkan suara manja.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)