
“Tuan jangan begitu pada para Dewa, tolong bersikap dan baik, agar desa kami di pulihkan”ujar orang tua itu dengan wajah sedih.
“Baiklah Pak Tua”
Dos akhirnya mengetahui tujuan kedatangan mereka, untuk menyelamatkan satu desa yang di kutuk iblis, demi mencari sebuah kitab.
“Guru, maafkan Tuan saya, dia memang punya masalah dengan Para Dewa, Tuan selalu berselisih paham dengan Para Dewa”
“Masalah pada Dewa, apa dia pernah bertemu dengan Para Dewa?” tanya lelaki tua itu menatap Boas dengan tatapan bigung.
”Apa dia juga salah satu Dewa?” Mata orang tua itu menatap tidak percaya, karena baru kali ada manusia yang berkata tidak sopan pada Dewa.
“Dia terlihat angkuh dan sombong sebenarnya hatinya sangat baik.” Dos memuji Tuannya di depan para biksu, sementara Boas memikirkan cara, bagaimana caranya memberi semua orang-orang itu untuk makan, terlebih wanita dan anak-anak yang terlihat sudah sangat lemas dan tidak berdaya karena kelaparan.
Lalu ia mendekati mata sumur yang mengering berbau busuk dari sumur, jika mereka harus minum harus mengambil air dari sungai di seberang desa.
Tadi siang, mereka tidak bisa keluar karena prajurit mondar- mandir mengawasi desa mencari para biksu jika masih ada, akan di tangkap dan di bawa ke istana.
Boas dan Dos saat ini berada di satu negara yang masih di pimpin satu raja. Istana raja di kuasai mahluk gelap iblis kegelapan yang menghancurkan kehidupan manusia di desa itu demi mencari sebuah kitab
*
“Aduh aku lapar, haus,” rintih seorang anak kecil, memang perutnya.
Kedua biksu muda itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena segala persediaan makanan sudah habis.
“Tidak boleh seperti ini, Dos ayo kita ambil air”
“Jangan Tuan, nanti keberadaan kita di ketahui” seorang biksu menolak.
“Jangan khawatir, dia bisa mengatasinya, jangan ada yang keluar dari lingkaran ini.” Boas akhirnya menggunakan sedikit kekuatannya, ia membaca sebuah mantra dan menempelkan sebuah bambu di dinding, maka dari dinding rumah berkayu itu keluar air.
Boas juga menghidupkan satu lampu yang sudah di mantrai sebelumnya, walau ada prajurit yang lewat tidak akan melihat mereka karena sudah dibungkus mantra pelindung.
Wajah anak-anak itu menatap takjub dengan wajah berseri-seri melompat kegirangan dan saat melihat air jernih yang memancar dari dinding.
“Wah, apa ini bisa kita minum, Tuan?”tanya anak-anak menatap Boas dengan tatapan penuh harap.
“Baiklah, kalian juga bisa mandi dan berganti pakaian yang baru agar kita bisa pergi ke kuil suci besok”
“Horeee … bisa mandi! aku sudah lama tidak mandi,” ujar mereka sangat bergembira, melihat air sudah seperti melihat emas.
“Dos, lakukan tugasmu, pergi berburu binatang untuk makan malam kita”
“Baik tuan, lelaki berbadan besar keluar dan menit kemudian ia berubah menjadi singa yang bisa terbang, lalu ia melakukan tugasnya dan mencari makanan.
“Tuan, kalau kita menyalakan api untuk membakar daging rusa ini, nanti pasukan para iblis itu mencium bau asapnya dagingnya dan mendatangi kita”
“Tenang saja, saya sudah melindunginya dengan mantra,”ujar Boas menyalakan api dan muai membakar daging, orang-orang dalam ruangan tampak tidak sabar menunggu daging itu matang.
“Aku juga membawakan buah-buahan untuk kalian semua,”ujar dos membagi-bagikan buah satu ke tangan mereka untuk mengganjal perut yang sudah kelaparan.
Memakan dengan lahap, wajah mereka semua sudah terlihat bersih dan tidak berbau busuk lagi.
Tadi saat Boas tiba, semua orang terlihat memprihatinkan dengan wajah kotor dengan tubuh bau, tetapi saat ini Boas sudah berani mendekati anak Karena tidak bau lagi.
Mereka semua duduk dengan tenang menunggu daging itu matang.
“Saya tidak tahu lagi, kalau saja Tuan tidak datang hari ini, mungkin kami akan mati kelaparan, tetapi Dewa sungguh baik,”ucap lelaki tua itu dengan tatapan mata sendu.
Mereka semua makan dengan lahap sampai kenyang, ini pertama kalinya bagi mereka makan dengan kenyang, sejak kampung mereka terkena wabah, sejak wabah itu datang dan mereka bersembunyi, para biksu hanya merebus air dan daun untuk mereka makan.
**
“Baiklah kalian istirahat sebentar, besok pagi kita akan berangkat”
Anak-anak itu terlihat sangat penurut dan mudah diatur, tetapi wajah ketakutan dan pasrah begitu jelas di terlihat wajah mereka, karena itulah Boas merasa kasihan dan ia melakukan yang terbaik dan berusaha kerja keras untuk meyelamatkan mereka.
Boas membuat kereta kuda untuk mengangkat orang itu dari desa kematian menuju puncak gunung, di mana ada satu kuil suci yang sudah di mantrai, jadi iblis tidak akan bisa datang ke sana.
Tepat pukul 4.00 dini hari, Boas membawa mereka semua dengan dua kereta, kedua biksu muda yang menjadi kusir kudanya dan Boas dan Dos di depan membantu jalan, tetapi saat di tengah hutan, segerombolan serigala kelaparan menghadang .Anak-anak meringkuk dan ketakutan.
Tidak ingin anak-anak dan biksu itu jadi santapan para serigala, Boas menggunakan perisai api untuk bisa melewati hutan yang di huni serigala yang tampak bringas, mergertakkan gigi dan menglongong memanggil kawanan mereka.
“Tuan, kobaran api ini, nanti akan mengundang perhatian penjaga gerbang istana,” ujar seorang biksu muda, sudah gemeteran, hutan itulah yang paling sulit di lewati jika berjalan malam hari.
“Tidak apa-apa, saat pagi seperti ini mata mereka tertidur karena begadang satu malam, para penjaga pasti tidak melihat kita tetap jalankan kudanya , jangan takut,” ujar Boas meyakinkan semua orang yang meringkuk dengan tubuh gemetaran, karena menurut cerita biksu tidak ada yang pernah selamat melewati hutan gelap itu, jika malam hati.
Tetapi seekor serigala besar melompat tubuh biksu muda, seolah -olah tidak mengenal rasa takut pada api, Boas tidak mau hal buruk terjadi. Di hadapan para biksu dan anak-anak, ia menggunakan kekuatannya, ia menggunakan elemen petir mengusir kawanan penjaga hutan gelap itu.
Saat itu juga Dos berubah menjadi seekor singa terbang, dan menyambar tubuh biksu muda yang di terkam serigala, beruntung lelaki berkepala botak itu hanya terluka ringan.
“A-a-a-apa kamu, mahluk apa kamu?”tanya biksu muda dengan mata melotot.
“Saya singa jantan seperti yang kamu lihat ini, jangan takut, aku tidak makan manusia, tetapi saya memakan apa yang dimakan Tuanku”
Melihat wujud asli dos dan kekuatan yang di miliki Boas biksu Tua itu yakin mereka akan selamat melewati hutan kegelapan yang dipenuhi serigala.
Bersambung …