Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Tunangan


Di hadapan ayahnya, ia mendapat banyak luka di tubuhnya, dan Putri Shanam membiarkannya menikmati rasa sakit itu.


Karena itulah yang ia lakukan pada Tunangannya, saat tunangannya dulu di siksa, Shanam juga melihatnya, karena bersembunyi di balik tembok penjara dan melihat jelas apa yang mereka lakukan dan apa yang sebenarnya mereka inginkan.


“Nikmati hari ini, apa yang kamu lakukan padanya, aku juga melakukan hal yang sama denganmu, agar kamu ikut merasakan apa yang dirasakan dia saat itu,” ujar wanita berkulit putih itu dengan kemarahan, lalu ia meninggalkan Reang sudah terkapar di samping tubuh ayahnya.


Putri Shanam, sengaja mengikat tangan lelaki itu, agar ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk Reang, ia hanya bisa melihat bagaimana anaknya sekarat dan menarik napas-napas pendek menunggu azalnya.


Boas hanya bisa diam, ia tidak pernah menduga kalau wanita itu punya sisi yang sangat gelap dalam dirinya, sebagai manusia, hatinya bergejolak dengan siksaan yang terlalu kejam menurutnya.


Menyakiti dan menyiksa sebangsanya sampai sedemikian parah, Ia menghujam tombak itu ke tubuh reang sampai beberapa kali, ia juga mematahkan ke dua kakinya dan wajahnya terluka parah, cairan bewarna hijau mengenang di lantai penjara batu itu.


“Dos, apa itu tidak terlalu berlebihan? Dia seorang wanita, apa tidak punya sisi lembut dalam hatinya?” Boas melirik singa bersayap di sampingnya.


“Semua karena cinta, Tuan”


‘Apa kehilangan cintanya mengubahnya menjadi seperti itu? Aku tidak pernah merasakan hal seperti itu dan tidak pernah selama aku hidup di dunia.


Bagiku cintaku hanya istriku, tidak akan ada yang lain, bahkan aku lupa bagaimana rasanya mencintai orang lain, aku sudah melupakannya’ ujar Boas dalam benaknya.


“Putri Shanam, tolong berikan dia kematian, jangan biarkan dia menderita seperti ini, dia teman masa kecilmu,” ujar lelaki itu dengan teriakan, saat wanita itu ingin meninggalkan penjara.


“Iya, teman masa kecil, teman yang selalu menghina fisikku karena berbeda , teman masa kecil yang terus merendahkan, aku tidak ingin mengingat itu, nikmati waktu bersama putramu, karena beberapa waktu lagi, ia akan mati,” ujar Shanam acuh.


Bagaimana pun lelaki itu memohon agar putranya lebih baik di lenyapkan, karena seorang ayah ia tidak tahan melihat penderitaan putranya, apa lagi melihatnya sekarat, sementara ia tidak bisa melakukan apa-apa.


Shanam keluar dari ruangan penjara yang pengap, dan dipenuhi binatang-binatang kecil yang menjijikkan itu.


*


“Ayah, tolong beri aku kematian,” ujar Reang, ia menyerah karena tidak kuat menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, ia berpikir bahwa ia tidak punya pilihan. Lalu ia mendekatkan tubuhnya dengan cara mengesot, ia memberikan lehernya pada lipatan kaki ayahnya, tangan ayahnya sedang di ikat.


“Baiklah,” ucapnya, lalu ia menutup matanya, ia menjepit leher putranya dengan kuat, hingga ia menemui ajalnya. Pada akhirnya, ialah yang memberi putranya kematian.


Saat Shanam masuk kembali, ia merasa kesal karena lelaki itu mati dengan mudah, padahal tadinya ia ingin menikmati moments, moments kematiannya.


”Aku kecewa karena kamu melenyapkannya, tetapi baguslah kamu sudah menghabisinya”


“Aku akan membalasmu, suatu saat, lihat saja.” Lelaki yang sedang dirundung kesedihan itu memberi gertakan pada Shanam.


“Aku akan menunggu hari itu lakukanlah”


Lalu ia membawa beberapa orang ke dalam penjara,”Lemparkan lelaki ini, ke lembah pembuangan,” pinta pada beberapa lelaki.


“Baik,” ucap mereka patuh.


Lembah pembuangan, satu tempat pembuangan sampah atau barang barang yang bisa lebur, karena suhu panas dari batu di dalam lembah curam itu.


Kini tinggallah lelaki itu sendiri dalam kenestapaan, setelah mayat putranya di lemparkan ke tempat yang paling nista di planetnya, ia dipindahkan ke kurungan yang lebih menyakitkan.


**


Boas, menghela nafas berat, setelah Putri Shanam menjadi seorang pemimpin di planet itu, dan wanita itu juga akhirnya bisa membalaskan dendamnya, tetapi tidak cukup sampai di situ,


Pikiran Boas mulai di landa kekhawatiran, saat ia mendengar ada ada makhluk yang meminjam tubuh salah satu penghuni mahluk itu. Ada banyak rahasia yang tersembunyi, yang belum bisa ia temukan jawabannya.


**


Beberapa lama kemudian ia datang menemui Boas di pinggir hutan,


“Apa kamu sudah merasa senang, kalau Reang sudah mati?” tanya Shanam.


“Iya saya senang, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, tetapi sekarang kamu sulit ditemui, kamu tidak ada niat menghindari kita , kan?”


“Tentu tidak, aku hanya ingin tahu banyak tentang planet ini dari ayah sebelum ia mati,” ujarnya, membuat alasan.


“Kamu bilang, tunanganmu adalah anak ayahmu, itu artinya kalian bersaudara?”


“Iya, ia saudara kembarku, namanya Shonom”


“Oh, jadi kamu bertunangan dengan saudara kembar mu? ternyata,” ujar Boas merasa terkejut. Ia mulai merasa curiga, karena wanita itu menyimpan banyak rahasia.


“Kami berdua saling jatuh cinta, saat ayah sering menyembunyikan kami di satu tempat”


“Oh, baiklah, aku paham.” Boas melirik binatang peliharaanya,


“Baiklah, besok temui aku di sini lagi, kita akan membahas tentang batu itu lagi,” ujar Putri Shanam, lalu meninggalkan mereka berdua.


*


“Naiklah Tuan, ke punggung saya, akan saya tunjukkan apa yang saya dapatkan”


Dos memilih naik, hatinya mulai bimbang, dari awal memang ia tidak mau terlalu berharap pada Putri Shanam, ia tahu kalau ia percaya pada seseorang, ia akan siap terima kekecewaan juga.


Dos membawanya ke satu bukit di samping lembah, satu lembah yang menghasilkan panas alam.


“Ada apa Dos, kenapa kamu membawaku ke tempat panas ini?”


“Karena, di sinilah kita aman Tuan, para penghuni mahluk ini tidak akan berani datang ke sini, kalau mereka datang tubuh mereka akan terbakar, karena cairan di tubuh mereka mengandung cairan yang mudah terbakar.


Boas mendudukkan panggulnya di satu batu yang hangat itu.


“Lalu apa yang ingin kamu katakan, dos”


“Putri Shanam, menyembunyikan banyak hal dari kita”


“Contohnya?”


“Ia mengawetkan tubuh ibunya dan saudara kembarnya di sini, ia yakin suatu saat nanti, dia akan menghidupkan keduanya berkat bantuan batu itu”


“A-a-apa?”


“Iya”


“Jadi, dia juga mengincar batu itu Tuan, iblis itu berjanji padanya, kalau ia bisa mendapatkan batu itu dan memberikannya padanya, maka sebagai imbalannya, ia akan menghidupkan keduanya”


“Jadi dia juga memanfaatkan kita?” Boas mendengus kesal


“Tidak manusia bumi, tidak di sini semuanya penghianat, untung aku tidak mempercayainya sepenuhnya,” ujarnya kesal dan merasa lelah.


Boas melirik kanan-kiri.


“Jangan khawatir Tuan, si iblis itu tidak akan bisa kemana-mana di sini, tanpa tubuh yang dipinjam”


“Mengapa sangat sulit mengumpulkan batu itu”


“Sabarlah Tuan, batu kristal itu akan kita temukan walau banyak rintangan dan halangan.” Singa jantan itu menyakinkan tuanya.


Bersambung …


Bantu iya kakak, kasih bintang dan masukkan ke rak bulu agar bisa masuk rank