
Dos menarik pedang dari belakang tubuhnya dan melompat ke arah ular.
“Hiaaak …!”
Tetapi gerakan tubuhnya seolah-olah, bisa dibaca, ular menghindar dan merayap ke atas pohon besar, dengan gerakan tiba-tiba ular menjatuhkan tubuh besarnya menimpa tubuhnya, saat ia tertimpa beban berat, sejurus kemudian ekor ular bergerak dan melilit tubuhnya hingga tidak bisa berkutik.
Hal yang sama juga terjadi pada Boas, ular besar itu seakan-akan memiliki dendam besar pada Boas, ia terus saja menyerangnya tanpa henti, menggunakan kepalanya dan melibas dengan ekornya, tubuh Boas terpental menabrak pohon, ia merasa pundaknya amat sakit karena terbentur di batang pohon dengan sangat keras, ia mencoba bangkit lagi dengan bersusah payah, ia juga merasakan matanya berkunang-kunang dan pusing, tetapi ular yang sedang marah itu mematok pundak kanan Boas yang terbentur.
“Aaah …!”
Cairan merah membasahi jubah yang ia pakai, ia kehabisan tenaga, melihat ia terluka dan Dos yang terlilit ia berpikir waktunya untuk makan besar. Tetapi ia menjauhkan dirinya dari Boas dan mendekati kereta kuda yang berisi anak-anak yang malang itu.
Ular melahap seorang anak lelaki yang bertubuh tambun, ia sengaja memilih yang gemuk, mendengar teriakan dan melihat hal itu kekuatan Boas seakan-akan terpacu, ia melompat dan mengayunkan pedang mengkilap miliknya.
Ular seolah-olah semakin berani, ia ingin mematok tubuh Boas untuk ke sekian kalinya, tetapi Boas yang sudah sangat marah menyerangnya dengan sangat ganas, ia melompat ke atas pohon dan terjun kembali dengan pedang ter julur mengarah tubuh ular di bawahnya.
“Dasar ular tidak tahu diri Hiaak …!”
Bukkk!
Pedang itu menembus kepala sang ular, ia sengaja membidik kepalanya agar pedangnya tidak mengenai tubuh anak yang dimakan ular.
Ringkukan kesakitan memeking keluar dari mulut ular besar, tubuhnya sedikit menggelepar. Namun masih punya tenaga melawan Boas, ia masih sempat-sempatnya belibas tubuh Boas dengan ekornya.
Tetapi ia melompat dan menghindar, dengan gerakkan cepat boas melayang di udara, dan ia membalikkan tubuhnya. Tangan mengayunkan pedangnya dan menebas kepala ular hingga berpental lepas dari tubuhnya.
Sementara Dos masih bertarung dengan ular jantan yang lebih besar dari ular betina yang di lawan oleh Boas, Jika Boas terluka di pundak maka Dos terluka di kaki, betis kakinya tertusuk kayu saat ia melompat menghindari serangan ular, kali ini tubuhnya ter-lilit ular besar.
Saat ia sudah kehabisan tenaga Para Dewa yang melihat mereka seketika tubuh Dos bisa berubah menjadi seekor singa, saat terdesak ia menggigit tubuh ular dengan gigi taring yang kuat.
Ular terluka parah karena gigitan dos, ia menggelepar dan melonggarkan kekuatannya, ia mengambil kesempatan itu melepaskan diri, dengan marah ia menggunakan cakar dan giginya mencabik-cabik tubuh sang ular.
Kalau beberapa bulan lalu ia memilih melepaskannya karena merasa kasihan pada kedua pasang ular bertubuh besar itu, tetapi kali ini Dos dalam kemarahan besar, ia menggigit dan mencakar tubuh ular hingga tak berkutik, ia membuat tubuh besar itu tercabik-cabik tidak berdaya, tidak cukup sampai di situ ia menggigit leher ular itu hingga terputus sama dengan betina nya.
Dengan napas masih ter engah-engah ia membantu Boas membelah perut ular dan menyelamatkan bocah yang di telan tadi.,
Setelah membelah tubuh ular, ia menarik tubuh bocah yang ditelan tadi, ia memberi pertolongan pertama memberinya napas buatan, dos juga mengambil air dan menyiram ke tubuhnya yang penuh cairan dari perut sang ular.
“Dewa selamatkan dia, jangan biarkan ia mati, aku akan sangat marah jika kalian melakukan hal ini lagi,” ujar Boas berteriak.
Tetapi Dewa tetaplah Dewa yang punya aturan langit yang harus mereka lakukan, sia anak sudah tercacat dalam buku takdir bahwa umurnya hanya sampai disitu, tahun walau Boas dan Dos memohon untuk hidup sang Bocah , itu tidaklah berarti ia mendapatkan takdir-nya. Ia tidak bisa hidup lagi.
Hal itu menjadi pukulan yang sangat berat pada Boas, saat ia berusaha melindungi semua anak-anak, ia berpikir Para Dewa malah membiarkannya mati begitu saja.
Satu anak mati beberapa bulan lalu ia sudah marah pada Para dewa yang mengutusnya ke sini, sekarang di tambah dua anak dalam dua hari mati membuatnya seolah-olah tidak punya semangat hidup lagi.
“Kalian Para Dewa yang kejam berani-berani nya mempermainkan-ku!”
Teriak Boas marah dengan sisa-sisa tenaganya.
Ia masih terduduk lemas membiarkannya semuanya begitu saja, tetapi Dos dengan cepat kembali menggali tanah kedua kalinya mengubur bocah malang .
Tangisan adek perempuannya membuat hati lelaki itu pilu dilanda kesedihan.
“Kakak jangan tinggalkan aku, kalau kamu pergi aku sama siapa,” ujar anak perempuan ber usia tujuh tahun, dengan tangisan.
“jangan menangis adik kecil, kakakmu sudah tenang di sana nanti adik kecil sama paman saja,” ucap Dos.
“Aku takut paman, bagaimana kalau ada ular besar lagi yang datang dan memakan kita bagaimana?”
“Paman akan memotong kepalanya kembali, kalau masih ada ular,” ucap Dos menggendong kembali ke kreta. Setelah mengubur anak lelaki yang sudah tak bernyawa itu.
Boas masih duduk di tempat yang sama sejak mereka menguburkan korban keganasan ular.
“Tuan, mari kita pergi dari sini perjalanan kita masih jauh
“kenapa mereka melakukan itu pada kita aku tidak habis pikir,” ujar dengan wajah terlihat sangat kecewa.
“Tuan kematian adalah takdir yang sudah di tuliskan dalam buku takdirnya” Dos bersikap tenang , ia tidak mau Boas semakin marah padanya.
“Tetapi kenapa aku tidak dapatkan takdir kematian itu, Dos?”
“Aku tidak tahu tentang takdir yang dituliskan para Dewa dalam buku langit Tuan, tetapi satu hal yang saya tahu. Jika kita tetap bertahan disini, para iblis akan menemukan kita dan anak-anak yang sudah kita bawa sejauh ini, mereka akan ditangkap,” ujar Dos berharap apa yang dikatakan olehnya bisa menyadarkan Boas yang terpuruk karena keadaan.
Setelah mendengar hal itu ia bangun dan menaiki kudanya lagi dan membawa anak-anak melanjutkan perjalanan menuju kuil.
Boas terlihat tidak bersemangat sepanjang perjalanan, ia marah benci pada Dewa yang membawa mereka ke desa itu.
'Apa tujuan Dewa membawaku ke tempat ini lagi, apa ingin membuatku menderita lagi?' Tanya Boas dalam hatinya.
Bersambung ....
Bantu kasih bintang iya kakak agar ceritanya bisa masuk rank.