Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Pengorbanan Cinta


Dalam kamar Shena duduk menatap langit.


“Dewa, jika kelak aku terlahir kembali, aku tidak ingin merasakan rasa sakit yang seperti ini, aku akan memberikan padanya aku bersedia tolong batu aku”


Sosok putih datang padanya, itu adalah Dewa kehidupan.


“Kalau kamu memberikan batu kristal itu padanya, maka kamu akan mati, karena kekuatan batu kristal itu yang mengantikan fungsi hatimu”


“Tidak apa-apa Dewa aku ikhlas”


“Biarkan dia mendapat surat takdir kehidupan yang dia inginkan”


“Tapi kamu akan kehilangan bayi dalam rahim kamu.”


“Tidak apa-apa Dewa, kami berdua berkorban pada lelaki yang kami cintai”


“Apa kamu yakin dengan pilihan hatimu Shena”


“Saya yakin Dewa, tapi tolong jangan beritahukan tentang apa yang terjadi, tolong kuburkan aku bersama keluargaku,” ujar Shena terlihat tegar.


“Baiklah”


“Dewa, jika takdir hidupku kelak terlahir kembali, tolong jangan biarkan aku bertemu dengan lelaki itu lagi”


“Baiklah Shena”


Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan Dewa mengarahkan tongkat miliknya kearah tubuh Shena.


Batu kristal keluar seiring cahaya cerah keluar dari tubuh Shena, saat batu kristal di ambil ia akhirnya meninggal.


Karena batu kristal itulah yang mengantikan fungsi jantung di tubuh Shena, karena sejak kecil ia sudah mengalami gagal jantung dan sering sakit-sakitan karena sering di ganggu mahluk.


Dewa menatap iba pada gadis malang itu, ia rela memberikan hidupnya pada lelaki yang ia cintai, sayang cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, yang paling membuat Dewa sangat iba karena saat itu Shena sedang mengandung anak dari Boas, tadinya ia ingin memberitahukan pada Boas kalau ia sedang hamil.


Tetapi ucapan Boas yang mengatakan tidak ada cinta untuknya sedikitpun dan apa yang terjadi hanya kecelakaan, kata-kata Boas menyakiti perasaannya ia tidak mau mengatakan kalau ia sedang hamil pada Boas.


Kini tubuh itu tak lagi bernyawa, ia berbaring menutup mata dengan air mata menetes dari kedua sudut matanya.


“Kamu pergi dengan pengorbanan besar, ini sangat sedih”


Dewa memindahkan tubuh Shena ke samping kuburan keluarganya dan menguburnya di sana.


**


Ting … Tong …


Boas bangun ia menyeret langkahnya dengan berat membuka pintu, sejak dua hari Shena menghilang tanpa jejak ia mencarinya ke semua tempat, tetapi hasilnya nihil.


Ting … Tong …


“Sebentar!”


Lalu membuka pintu seorang lelaki berseragam jasa pengantar paket sedang berdiri di depan pintu.


“Selamat pagi, apa benar ini rumah Tuan Egdan?”


“Iya benar, ada apa?”


“Ini ada kiriman untu Bapak”


Kedua alis Boas terangkat karena ia tidak punya kenalan di kota yang baru ia tempati saat ini.


“Paket …?”


Tangannya membolak-balikkan paket yang ia pegang, memastikan kalau paket itu tepat sasaran, tetapi tidak ada pengirim.


“Iya untuk Bapak Boas Egdan, tolong di tanda tangan pak sebagai tanda terima”


Setelah menutup pintu kembali ia membawa benda dalam map coklat itu ke dalam rumah, saat di buka matanya melotot panik sebuah batu kristal.


“Shena …?!”


Ia berlari ke luar untuk melihat kurir pengantar barang yang membawa batu kristal, saya lelaki itu sudah pergi.


Sesuai permintaan Shena yang ingin memberikan batu kristal itu pada Boas. Shena ingin Boas tidak perlu tahu bagaimana keadaan Shena, karena itulah Dewa Kehidupan mengirimnya lewat seorang kurir agar Boas tidak mencurigainya, jika Dewa yang menyerahkan batu sendiri.


Wajahnya diam, ada bagian yang sakit di dalam dadanya saat ia memegang batu kristal, tadinya Para Dewa berpikir kalau Boas menemukan ke empat bagian batu ia akan sangat bergembira, tetapi yang mereka lihat Boas hanya diam tidak menunjukkan ekspresi senang.


‘Bagaimana dia mengeluarkan batu ini dari tubuhnya, apa dia baik-baik saja?’ Boas menarik napas panjang. Saat ia berpikir seperti itu tubuh Shena sudah terkubur dalam tanah, setelah batu kristal itu dikeluarkan dari tubuhnya.


Boas akhirnya menemukan semua potongan batu kristal, setelah ratusan tahun ia habiskan waktunya mencari batu berharga yang memiliki kekuatan besar itu, kini, batu berharga itu sudah du tangannya, ia merasa sangat senang, tetapi, entah kenapa ia merasa sedih, karena ia tidak bisa menemukan Shena.


“Kemana dia? Apa dia sangat marah dengan perkataan ku?”


Boas menatap sekelilingnya, ia akan meninggalkan dunia ini, ia akan mendapat takdir kehidupan yang baru karena ia sudah mendapatkan batu kristal, itu artinya hukuman yang ia terima juga sudah berakhir.


‘Aku akan pergi meninggalkan dunia ini, tetapi hatiku belum rela karena aku belum bertemu dengan Shena, aku hanya ingin melihatnya sebelum aku menghilang dari dunia ini’ Boas masih menunggu wanita cantik itu datang menemui nya.


“Shena, kamu kemana?”


Boas menunggu beberapa hari berharap Shena datang, ia hanya ingin meminta maaf dan berterimakasih pada Shena, setelah menunggu berhari-hari tetapi tak kunjung datang, akhirnya ia menyerah karena ia mencari Shena kemana-mana tetapi tidak menemukannya.


*


Setelah mempersiapkan dirinya, Boas datang ke istana Para Dewa, ia akan menyerahkan batu kristal pada Dewa agar sahabatnya Torak jiwanya tenang karena batu yang ia jaga sudah kembali aman.


“Bagaimana perasaanmu King, aku berharap kamu merasa senang,” ujar Dewa tertinggi menatap dengan tatapan dalam.


“Aku merasa senang, karena batu ini akhirnya sudah kembali dengan aman” jawab Boas dengan wajah tidak bersemangat.


Semua Dewa tahu yang telah terjadi, karena mereka semua mengawasi Boas, apa lagi saat saat para Dewa sudah tahu kalau Boas memiliki kekuatan besar yang mampu menghancurkan gerbang neraka.


“Tetapi kenapa kamu tidak begitu terlihat tidak menunjukkan rasa senang”


“Aku hanya merasa kurang enak badan saat ini.” Boas mencari alasan.


Tetapi Boas melihat ada yang berbeda dengan tatapan para Dewa untuknya, tatapan yang tidak biasa, mereka menatapnya dengan tatapan seakan-akan kasihan.


‘Ada apa dengan tatapan mereka, apa aku begitu menyedihkan?’


Bahkan Dos dan Efran atau Dewa api, mereka orang yang sudah mengenalnya dengan baik dan mengenal Shena juga, mereka berdua menunduk tidak mau melihat kearah Boas,


‘Aku banyak salah pada Shena aku belum sempat minta maaf’ ujar Efran dalam hati. Tetapi dengan kemampuan yang dimiliki, Boas bisa mendengarnya apa yang diucapkan Efran tentang Shena.


“King, itu artinya kamu sudah siap?”


Dewa tertinggi bertanya lagi, memastikan pilihan yang dipilih Boas.


“Sebenarnya belum, ada sesuatu yang belum aku selesaikan dengan baik, tetapi aku tidak bisa menyelesaikannya, aku butuh bantuan mu Dewa’


“Tentang apa itu?” dewa bertanya padahal ia sudah tahu apa yanga kan di minta Boas padanya.


“Tentang seseorang”


“Lupakan saja, fokuslah pada tujuan takdir”


“Maksudku tidak bisakah aku berpamitan padanya”


“Tidak, sekarang putuskan,apa kamu mau menyelesaikan dengan cepat atau kamu akan menunggu lama lagi?”


Bersambung ….