Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Masuk Rumah Sakit Kerena malam Pertama


Boas sepertinya, melupakan kalau Shena masih berusia dua puluh tahun, ia mengingat bagai mana Shena meringis kesakitan saat ia membobolnya dengan paksa tadi malam.


“Ini.” Boas menarik gulungan tissu dan memberikannya pada Shena yang semakin pucat.


Tapi belum juga ia menerima tisu ia sudah pingsan Boas menggendong, tubuhnya ke ranjang di kamar, ternyata saat Boas mengecek kloset dan pakaian dalam Shena ternyata bagaian inti Shena masih mengeluarkan cairan merah.


“Oh, gila! kalau begini terus yang ada dia akan kehabisan darah, pantas dia pucat, dia kehilangan banyak darah, itu pasti sangat sakit


Awas saja kalian, siapapun yang mengerjai dengan Shena akan mendapat pelajaran nanti dariku”


Setelah Boas mengangkat tubuh Shena ke ranjang ternyata di ranjang di bawah selimut ada noda darah juga.


“Aku mungkin melakukannya dengan kasar tadi malam, menyebabkan ada luka robek di bagian selaput dalamnya, aku harus membawanya kerumah sakit,” ucap Boas.


Lalu ia membuka lemari pakaian Shena, dengan sikap buru-buru ia menganti pakaian Shena yang penuh noda berwarna merah.


Saat ia ingin menganti pakaian dalamnya, ia kembali teringat malam panas masih sangat jelas dalam di ingatannya bagaimana ia melakukanya , bahkan membuat tubuhnya begitu mendambakan kehangatan itu lagi.


‘Apa yang aku pikirkan?’ Boas membuka pakaiannya dan menggantinya dengan baru, saat ingin mengambil ****** *****, ia kesulitan mencarinya karena tidak ada di lemari, ia membuka kedua lemari besar di kamar Shena dengan bolak balik, tidak sampai kepala puyeng dan badan berkeringat.


Akan tetapi, tidak menemukan kain segitiga milik Shena. Bolak -balik mencari kemana-mana , tetapi tidak menemukannya hingga ia tertunduk lemas, saat ia tertunduk di sisi ranjang, kakinya menyentuh laci ranjang


Ternyata Shena menyimpan bagian perkakas di sana, Lalu Boas membukanya dan hanya mengambilnya dengan asal lalu memakaikannya pada Shena,.


Setelah pakaian diganti lalu ia mengendong Shena ke bawah dengan sikap buru-buru bercampur panik.


“Panggilkan aku supir, cepat!” bentak Boas menatap Ardan dengan tajam ,lelaki tua itu hanya panik saat melihat Shena pingsan untuk kedua kalinya setelah dua hari lalu juga pingsan karen kelakuan Boas.


Semua orang di rumah itu bahkan di perusahaannya sangat menyukai Shena. Makanya saat ia melihat shena dengan wajah memucat bagai mayat , semua orang panik.


Saat Boas meninggalkan Kota untuk mencari batu, Shenalah yang mengatur semuanya, mulai mengatur bagaimana rumah dan mengatur perusahaan .


Boas tidak pernah perduli dengan perusahaannya, ia bahkan tidak pernah bertanya apa perusahaannya baik apa tidak.


Baginya yang paling penting dalam hidupnya hanya inginkan batu kristal, kalau harta dan kekuasan di dunia ini ia tidak begitu perduli.


Boas memberikan semuanya pada Shena, terserah, ia mau melakukan apapun maka di rumah itu ia sama pentingnya dengan Boas si bos besar.


Ia membawanya lagi ke rumah sakit, dalam mobil Boas mengendong tubuh Shena, ia tidak perduli kalau cairan merah itu mengenai celana yang di kenakannya.


“Bertahanlah Shena sebentar lagi kita sampai ,”ucap Boas mengusap wajah yang sudah memucat itu,


Ia tidak tahu akibat kelakuannya yang tadi malam membuat tubuh Shena terluka.


Karena sebelumnya Shena masih terluka , karena ia lempar dengan tidak sengaja.


“Percepat mobilnya”


“Baik Pak.”


Sang supir melajukan mobilnya dengan begitu cepat, jalanan tidak macet, tetapi karena sudah di landa kepanikan Boas merasa perjalanan mereka seakan-akan sangat jauh.


‘Aku sudah lama tidak pernah merasakan ketakutan seperti ini, apa ini namanya cinta? Apa aku jatuh cinta pada perempuan muda ini?’


Boas membatin sesekali tangannya menatap wajah sendu gadis dipangkuan.


Baru kali ini ia menatap wajah Shena sedekat itu, alis matanya tebal dan rapi bibirnya mungil dan hidung Shena juga mancung semua terpahat sempurna dan pas di wajahnya, hingga tercipta gadis cantik.


Bibir yang di gigit tadi malam masih terlihat membengkak, Boas mengusap bibir dan pipinya tanpa terduga ia mendaratkan bibirnya di kening Shena.


Pria batu itu sepertinya sudah jatuh cinta pada gadis muda yang bernama Shena Pudma.


“Mari Pak Bas letakkan di sini.” ujar seorang dokter menunjuk ranjang dorong.


Dengan napas tersengal-sengal Boas meletakkan tubuh Shena, dengan sigap ke dua perawat mendorong ranjang masuk keruangan VIP dengan cepat dokter langsung menanganinya.


“Tuan Boas apa yang terjadi?” tanya dokter saat memeriksa detak nadi Shena.


“Ia pendarahan Dok”


“Pendarahan? Apa ia keguguran ?”


“Bu-bu-bukan seperti itu, dia itu a-a ….”


Boas gugup dan malu untuk mengatakannya, matanya menatap ke empat petugas medis itu bergantian ada rasa malu di wajah Boas dan dokter senior tahu akan hal itu lalu ia berkata;


“Mari ikut keruangan saya, Pak Boas”


Boas mengikuti dokter yang sudah terlihat beruban itu ke salah satu ruangan,


“Itu hal yang sangat memalukan Dok, saya sungguh merasa malu,” ucap Boas memalingkan wajahnya.


“Tidak ada yang harus memalukan untuk kami tanganin pak Boas, saya bertanya bukan untuk membuat Pak Boas malu, jujur lelaki bertubuh tinggi itu ia mengenal dokter dan hampir semua mengenalnya di kota itu, setengah saham dari rumah sakit besar itu sudah jadi milik Boas .


Ia membelinya saat kejadian kebakaran tiga tahun lalu, di mana Shena yang jadi salah satu korbannya, karena korban kebakaran orang-orang kalangan rendah dan pihak rumah sakit tidak memberikan penanganan yang baik, hal itulah yang membuat Boas marah, lalu ia menuntut rumah sakit dan rumah sakit di denda.


Boas membeli saham rumah saki hampir lima puluh persen untuk menyelamatkannya dari kebangkrutan.


Jadi semua orang di rumah sakit mengenal Boas. Ia salah satu pemilik rumah sakit besar itu.


“Aku melakukannya dengan kasar Dok”


“Maksudnya kamu memukulnya?”


“Bukan, kami melakukan malam pertama aku memasukkan nya dengan paksa”


“OooH baiklah saya paham pak. Usia gadis itu pasti masih mudah jadi … belum berpengalaman”


“Aku yang terlalu bersemangat juga Dok,” ucap Boas, ia tidak mau Shena di permalukan.


“Baiklah ikut saya pak Boas”


Ia kembali memeriksa Shena setelah memakai sarung tangan ia meminta ke dua perawat dan dokter meninggalkan kamar Shena.


“Biarkan saya yang melakukanya kalian boleh keluar,” ucap dokter senior, ia tahu ketegangan dan rasa gugup di wajah Boas, dokter berpikir akan lebih enak jika ia melakukannya sendiri.


Setelah meletakkan tubuh Shena di kursi periksa, kursi yang mirip orang melahirkan Dokter memeriksa bagian bawah Shena.


Boas menahan napas gugup saat dokter memasukkan satu jari tangannya ke dalam lubang milik Shena.


“Selaput bagian dalamnya robek terlalu lebar”


“Iya Dok”


“Berapa ronde sampai dia pingsan seperti itu”


“Haaa?”


“Jangan khawatir ini rahasia kita dan sekaligus ingin tahu juga apa yang terjadi.


Bersambung ....