
Para penjahat itu masih mencari di sekitar Aresya, saat Davino mendengar ada yang mendekat, ia menarik tubuh Aresya semakin merunduk hingga dada Aresya menekan bagian dada Davino.
“Jangan lakukan itu …, perutku lagi sakit,” bisik Aresya. Ia menggunakan lengannya untuk menahan perutnya agar tidak tertekan.
“Diamlah, mereka akan menemukan kita nanti,” bisik Davino.
Tiba-tiba seorang dari para penjahat itu duduk di atas kayu besar itu, duduk dan merokok, awalnya, hanya satu orang, namun, bertambah jadi dua orang , karena gerakan tiba-tiba ada yang mendorong batang kayu itu dari atas, wajah Aresya terdorong maju dan bibirnya menyentuh bibir Davino, matanya membulat panik karena bibir Aresya saling bertemu, ia tidak bisa melakukan apa-apa kalau ia bergerak mundur, mereka akan ketahuan, jadi yang ia lakukan saat ini, hanya diam . Tetapi ia berusaha menjaga perutnya agar tidak menekan tubuh Davino.
Davino bisa merasakan kepanikan yang dirasakan Aresya.
‘Kamu bilang, aku bukan tipe pria idaman mu? Ucap Davino dalam hatinya, otaknya licik, aku akan memberimu pelajaran kali ini, selama ini, kamu selalu menolak, maka saat ini, kamu tidak akan bisa menolak apa yang aku berikan padamu ucap Davino dalam hatinya.
Ia menggerakkan bibirnya dengan gerakan perlahan, ia membuka mulut Aresya dengan lembut, Aresya hanya bisa menolak dengan mata membulat dan dada mendongak mencoba menjauh, namun, Davino menahan kepalanya dan menekan bibir Aresya dengan bibirnya, sampai-sampai, ia tidak di beri ruang untuk bernafas.
Davino tidak berniat melepaskannya, kali ini ia menghiraukan rasa sakit di pundaknya, ia memburu bibir berwarna merah itu dengan gerakan lembut namun tangan menahan kepalanya.
“Apa aku perlu mengajarimu untuk mengambil nafas saat seperti ini?”Bisik pelan, Davino memberi Aresya waktu untuk mengambil nafas
“Jangan lakukan itu,”bisik Aresya dengan suara kecil tidak jelas. Napas Resya memburu, ia bukan robot yang bisa bertingkah diam saat di sentuh seperti itu.
“Davino hentikan,"suaranya Menekan tetapi tidak jelas karena Davino sudah menikmati bibir itu lagi, kini, bukan lagi karena kemarahan tapi ini karena sebuah dorongan tubuh. Tidak ada yang salah karena Aresya istrinya.
Davino menutup matanya, menikmati bibir Aresya sendirian, Wanita itu hanya membatu menahan diri, namun, tiba-tiba napas Aresyah tertahan sangat lama, saat tangan Davino bergerak menyusuri tubuhnya. Tangan Davino bergerak menyentuh tubuh bagian istrinya, ia diam, tidak bisa melakukan apa-apa orang yang duduk di atas kayu itu masih belum pergi.
Davino tidak menghiraukan penolakan yang di lakukan istrinya, Davino menutup mata menikmati bibir yang dipoles dengan warna merah itu, kali ini Aresya hanya bisa menahan diri dan menahan perasaan , namun gerakan tubuh Aresya membangkitkan sesuatu yang panas dari dalam tubuhnya.
Ia belum melepaskan bibirnya melihat Aresya diam tidak terusik, sebagai lelaki harga dirinya terusik, ia semakin agresif, Davino mengigit bagian bibir itu dengan perlahan memberikan sentuhan dan gerakan yang membangunkan perasaan Aresya.
“Sampai kapan kamu bisa menahannya?” tanya Davino, ia benar-benar menguji kesabaran seorang Aresya.
Kini tangan Davino, gerak perlahan, masuk ke pakaian Aresya, menekan bagian lembutnya, mengusap dengan penuh semangat
“Hmmm … hentikan,” desis Aresya menahan suara, namun suara itu akhirnya lolos dari mulutnya
Davino tersenyum puas, ia terlihat seperti iblis, tersenyum licik, ia merasa menang karena akhirnya pertahanan Aresyah runtuh, ia mengeluarkan suara karena sentuhan yang ia berikan Davino.
Akhirnya kedua orang itu turun juga dari atas kayu, namun, tidak pergi, masih terlihat mengobrol tidak jauh dari mereka.
Aresya mendongakkan kepalanya menarik bibirnya dari Davino, ia menolaknya dan ingin mengangkat tubuhnya, lagi-lagi tangan Davino menahan tubuhnya.
“Jika kamu bergerak mereka akan melihat batang kayu bergerak dan mereka akan menemukannya, kita berdua, akan dihabisi dan di buang di hutan gelap ini, jadi sebaiknya kamu diam jangan bergerak tetap posisi seperti tadi” pinta Davino memberi penekanan.
“Jangan melakukan itu, lagi,” ucap Aresya menahan kemarahan.
“Kamu diam, ada empat orang lagi yang datang mendekat ,” ucap Davino menutup mata, kupingnya tajam bisa mendengar dari jarak jauh dari gerak kaki mereka, ia bisa menghitung berapa banyak musuh yang mendekat. “Apa kamu lelah?” tanya Davino dengan satu alis terangkat.
“Saya tidak merasakan lelah , namun kamu yang menggangguku” Resya ingin mengangkat tubuhnya agar tidak menyentuh Davino, tangan Davino menarik kedua siku tangan Aresya yang ia gunakan menahan beban tubuhnya, agar tidak mengenai Davino, kini tubuh Aresya diatas tubuh Davino lagi.
“Kamu gila, kamu akan menyakiti kami,” ucap Aresya memegang perutnya, ia mengangkat badannya lagi, agar perutnya tidak tertekan
“Diamlah, sebelum mereka menemukan kita,” ucap Davino membiarkan wajah Aresyah mendarat di pipinya, hembusan nafas hangat dari hidung Aresyah menyapu wajahnya.
Aresya pasrah, ia mengikuti apa yang di katakan Davino. “Aku sangat mengantuk,” ucap Aresya.
“Tidurlah jika mereka pergi aku akan membangunkan mu”
Saat ia ingin menutup mata, Davino membalikkan tubuh Aresya Mengganti posisi, kini ia yang berada di bawah tubuh Davino.
“Apa yang kamu lakukan? Tanya Aresya semakin panik.
“Kamu gila ” bisik Aresya
“Apa kamu ingin kita tertangkap? Maka diamlah dan nikmati apa yang akan aku berikan padamu,” ucap Davino licik.
Aresya mendorong tubuh Davino dengan kedua lengan yang ia letakkan di atas dadanya, saat ini Davino seakan-akan di atas awan bebas berbuat semaunya pada Aresya, ia menarik lengan Aresya yang menghalangi bagian atas tubuhnya , ia letakkan di sisi tubuhnya,saat ia ingin brontak melawan , tiba-tiba ….
“Bos, kita sudah menyusuri semua tempat, tidak ada jejak”
“Kita tunggu sebentar lagi, mereka pasti akan keluar atau mati, karena pak Davino terluka, aku yakin wanita itu akan membawanya ke dokter, kalau tidak ia tidak bisa bertahan, kita hanya ditugaskan untuk menghabisi wanita itu”
Mendengar ada suara. Aresya diam, membiarkan tubuhnya dinikmati Davino lagi. Davino memang aneh, saat lawan jenisnya terdesak atau dalam bahaya disitulah keinginan tubuhnya bangun.
Ia mengangkat dress milik istrinya dan membuka kain pengaman terakhir.
“Jangan lakukan itu, aku sedang hami-”
Belum juga Aresya meneruskan kalimatnya, Davino menutup mulut Aresya dengan telapak tangannya.
“Diamlah, biarkan aku melakukannya, apa yang kamu takutkan aku suamimu, aku paling malas bolak -balik ke rumah sakit, ayo kita lakukan di sini,” ujarnya lagi. Lalu melepaskan kancing celananya.
'Kamu akan mengingat ini selamanya dan jangan bilang kalau aku bukan lelaki tipemu lagi' ucap Davino dalam hati
“Kamu mengambil kesempatan di tengah kesulitan awas kamu nanti, kalau anakmu sampai kenapa-kenapa aku tidak akan tanggung jawab’ ucap Aresya dalam hati, ia menahan kemarahan atas sikap liar Davino padanya.
Tidak lama kemudian, Davino dengan leluasa menyentuh bagian inti istrinya. Aresya bergerak ingin menolak tapi detik kemudian Davino sudah memasukkan barang miliknya
“Aaa … sakit.” Aresya kesakitan, saat Davino melepaskan mahkota berharganya, ia menekan telapak tangan Davino ke mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara.
Bersambung...
Bersambung
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)