
Saat Dewa dihukum jadi manusia
“Dengan ini saya menghukum Dewa Api, untuk menjadi manusia biasa dan tinggal di dunia “
“Ketua, jangan hukum saya seperti itu,” ujar Dewa api dengan lutut kaki bertumpu kelantai, ia memohon dengan penuh penyesalan, ia menundukkan kepalanya dan meminta ampun.
Walau ia memohon dan meminta ampun agar tidak mendapat hukuman seperti itu. Namun, Dewa tertinggi tidak mengindahkannya, hukuman tetaplah hukuman tidak perlu walau ia Dewa sekalipun.
“Saya akan menghapus ingatanmu bahwa kamu seorang Dewa, kamu akan hidup sebagai orang biasa. Hukumanmu akan berakhir, jika batu kristal sudah ditemukan”
Semua mata, menatap prihatin menatap Dewa api.
“Baik, Ketua,” ucapnya kemudian tanpa membantah, ia sadar tidak ada gunanya memohon.
“Namamu Efrat, bersama dengan King, atau Boas Egdan kamu akan menemukan batu kristal dan kembalikan pada pemiliknya, setelah itu berhasil maka saya akan mencatat takdir kalian berdua kembali”
Hukumannya diterima, ia akan turun ke dunia sebagai manusia, membantu Boas mendapatkan bagian batu kristal yang hilang, dia akan menjadi manusia, hidup seperti manusia biasa bersama dengan Boas , maka mereka sama-sama di hukum, Jika Efrat di hilangkan ingatannya tentang dirinya seorang Dewa, lain halnya dengan Boas yang hidup dengan bayang-bayang masa lalunya yang menyakitkan.
Dewa tertinggi akhirnya bertindak tegas, setelah tahu apa yang diperbuat Dewa Api selama ini, ia akhirnya mendapat hukuman.
Mendapat hukuman yang sangat berat, kalau biasa saat satu Dewa melakukan kesalahan hanya akan disuruh membenahi diri dengan cara membersihkan dalam satu ruangan yang disebut sebagai ruangan penyucian diri, setelah melakukan rangkaian ritual, ia akan kembali bertugas sebagai Dewa dan sudah suci lagi akan datang ke istana menghadap Dewa tertinggi untuk mendapat perintah untuk tugas yang akan di kerjakan.
Tetapi kali ini Dewa Api mendapat hukuman yang sangat berat, apa yang dilakukan Dewa Api salah satu kesalahan besar, melukai pekerjaan tanpa meminta persetujuan Dewa yang bersangkutan satu kesalahan, apalagi sampai hampir mencelakai manusia, maka karena itulah ia mendapat hukuman yang yang berat.
Diturunkan ke dunia menjadi manusia salah satu hukuman yang berat.
Semua Dewa di istana lagit sangat terkejut dengan hukuman Dewa Api yang di turunkan derajatnya menjadi manusia. Tetapi tidak ada seorangpun yang menghalangi dan bisa menolak apa yang sudah dipatenkan dewa tertinggi. Jika ia menolak hanya ada dua masuk neraka atau lenyap selamanya.
Dewa Api tahu akan hal itu, ia memilih menjadi manusia.
**
Dewa tertinggi akhirnya menurunkan keduanya ke dunia.
Apa jadinya jika mereka berdua hidup satu rumah, yang tadinya musuh besar kini di diperhadapkan akan hidup satu atap.
Dewa Api akan memakai namanya sendiri sebagai Efrat. Ia juga tinggal di rumah Boas dan akan menemaninya untuk mencari batu kristal.
Hari itu, saat di rumah, baru saja Boas turun dari kamarnya ingin olah raga seperti kebiasaanya, Shena setelah seminggu setelah kejadian itu ia sudah pulih, tetapi ia kembali bersikap dingin dan cuek pada Boas, ia masih menghindar dan tidak mau bicara dengannya.
‘ini semua gara-gara Dewa api si keparat ini itu’ ujar Boas menatap sinis Efrat yang sedang berdiri di taman.
Saat Boas , turun dan dan duduk di kursi di tepi kolam renang, tiba-tiba Efrat datang bersikap akrap dan bersikap ramah , ia lupa kalau boas adalah musuh karena Boas juga.
“Edgan, apa yang aku kerjakan?” tanya Efrat menatap Boas yang sedang duduk di kursi.
“Kamu lakukan apa yang dikatakan Ardan , jangan tanya aku”
“Oh, apa kamu seorang Bos di sini?”
“Lalu aku apa?” Lelaki bertubuh kekar itu, memiliki wajah tampan juga saat ia menjadi manusia biasa. Boas dan Efrat memiliki postur tubuh yang sama, sama-sama tinggi, tetapi wajah dan karateker yang berbeda.
Efrat tampan tetapi sangat ramah, sedangkan Boas tampan, tinggi, kaya ia lelaki yang bisa di bilang sempurna. Tetapi ia memiliki sikap dingin dan cuek.
“Kamu hanya lelaki pengangguran yang menumpang hidup denganku,” ucap Boas masih menunjukkan sikap marah pada Efrat, Dewa api yang membuat Shena dan ia jadi bermusuhan.
“Lalu, kemana keluargaku apa aku tidak punya keluarga,” tanya Efrat, karena dibuat kehilangan ingatan, ia jadi tidak tau mau melakukan apa.
Ini hari kedua sejak mereka tiba di rumah.
“aku tidak tahu, di mana keluargamu’ tanya saja Dewa yang melemparmu ke sini.
“Tugasku membantumu mencari batu kristal
" lalu kita akan mencari kemana?” tanya Efrat, karena ingatannya semua terhapus jadi ia bertanya banyak hal pada Boas
Tetapi Boas menjawabnya kadang setengah hati
“Aku tidak tau tanya saja pada Dewa yang melempar mu ke sini,” jawab Boas.
“Aku tidak tahu, aku hanya ingat kamu, dalam otakku hanya ada namamu, aku tidak ingat yang lain hanya ada namamu dalam otakku kita berteman sangat baik”
‘Hadeeeh berteman kepalamu, justru aku ingin sekali menghabisi mu’ Boas membatin dengan wajah yang sangat jengkel.
Aneh mendengarnya saat seorang musuh yang tiba-tiba hilang ingatan tiba-tiba mengaku kalau dia sahabatnya,, ia merasa mendapat hukuman tambahan karena menahan perasaan kesal saat melihat si Dewa api.
“Kita tidak sedekat itu, kamu sebaiknya selalu menjauh dariku, kalau kamu muncul di depanku kepalaku sakit, ingin rasanya aku melenyapkan mu saat ini juga,” ujar Baos marah.
“Eh, tetapi kenapa kamu begitu kesal denganku, apa kita pernah ada masalah?” tanya dengan raut tidak berdosa.
Lelaki bertubuh kekar itu meninggalkan Efrat yang masih tampak kebingungan, jelas sekali ia bingung karena Boas selalu marah padanya, padahal ia tidak tahu kesalahan apa yang sudah ia lakukan.
Di sisi lain di istana para Dewa, para Dewa tampak datang ke aula pertemuan, mereka menghadap pada Dewa tertinggi , mereka meminta agar hukuman Dewa Api di hapuskan, agar Boas tidak bersikap semena-mena padanya.
“Ketua, sesama Dewa, kami sangat prihatin atas perlakuan manusia itu pada Dewa Api,’ ujar Dewa angin.
“Lakukanlah apa yang menjadi tugas kalian, dia bukan lagi Dewa, ia akan mendapat balasan dari perbuatannya sendiri” balas Dewa tertinggi.
“Tuan, setidaknya izinkan aku membantunya untuk mengajari apa yang harus ia lakukan”
“Tidak perlu. Sebab manusia itu dilahirkan dengan kepintaran, ia terlahir sebagai manusia baru”
Walau Dewa tertinggi tahu dan melihat apa yang di lakukan Boas padanya, tetapi Dewa berpikir apa yang di lakukan Boas satu hal yang manusiawi, sakit hati, marah dan benci sudah sikap satu paket untuk manusia, jika Boas bersikap semena-mena pada Efrat atau Dewa Api itu semua kerena rasa sakit karena perbuatan Dewa api padanya di masa lalu, semua itu akan berangsur hilang kalau Efrat tidak mengingatnya.
Bersambung ....