Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Tempat Yang Dikutuk


Boas saat ini berada di satu desa yang terlihat sangat mengerikan, tumbuhan terlihat kering seakan-akan telah dikutuk.


“Ada apa dengan desa ini, apa mereka baru di kutuk?”


“Sepertinya benar Tuan”


Boas menaiki kuda pemberian Dewa dan mendekati satu rumah peternakan, saat mereka masuk suasana rumah sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan, mereka berdua memberanikan diri masuk ke peternakan.


Hal yang mengejutkan pun terjadi, semua binatang peliharaan itu mati membusuk dalam kandang mereka, dan menyebabkan bau busuk yang tidak tertahankan.


“Apa yang terjadi, kenapa semua kuda ini meninggal dalam kandang?”


Dos masuk ke dalam rumah


“Tuan kemari lah!”


Dos memanggil Boas masuk kedalam rumah, di dalam rumah juga terjadi hal yang mengerikan, penghuni rumah juga mati dengan tidak wajar, mereka mati dengan tubuh dan wajah dipenuhi benjolan daging tumbuh.


“Apa mereka terkena wabah penyakit?”


“Tuan, lebih baik kita bakar tempat ini, agar, penyakit itu tidak menular pada yang lain”


“Kamu benar Dos, sepertinya mereka terkena wabah yang mengerikan”


Boas menyalakan api dan membakar peternakan itu, dan rumah berharap penyakit itu tidak menulari semua desa.


Mereka berdua melanjutkan perjalanan.


Meninggalkan peternakan dan berjalan menyusuri desa, tetapi sama saja, desa itu mencekam bagai desa mati.


Dos turun dari kuda dan memeriksa semua rumah-rumah yang ada di desa hampir semua rumah kosong tak berpenghuni.


“Tuan, rumah- rumah di sini semuanya kosong”


“Kita teruskan perjalan saja Dos, aku tidak tahan dengan bau busuk ini,”ujar Boas mengajak, lelaki bertubuh kekar itu untuk meninggalkan desa.


Sepanjang mereka berjalan tidak ada satu pun manusia yang mereka lihat, tetapi bau busuk dari dalam rumah rumah itu sungguh mengerikan, sebagian penghuni rumah mati dengan mengenaskan.


“Kenapa Dewa meminta datang ke sini kalau tidak ada manusia lagi di sini?”ujar Boas mulai merasa marah.


Dos naik lagi ke punggung kuda, dan berjalan perlahan di desa mati itu, tetapi saat berjalan melewati satu rumah, tiba-tiba Dos melihat seorang berlari menghindari mereka.


Tidak mau kehilangan petunjuk tentang apa yang terjadi dengan desa kematian itu, ia turun dari kuda miliknya dan mengikuti anak kecil berlari ke belakang desa.


Hingga akhirnya ia menemukan satu rumah berisi orang-orang terlihat dalam kondisi memprihatinkan, kelaparan dan lemas.


Saat Melihat pakaian prajurit yang di kenakan Boas dan Dos, awalnya mereka ketakutan dan bersembunyi


“Jangan takut, kami datang untuk menolong,” ujar Dos dengan lembut.


Mata semua seolah-olah kehilangan kepercayaan pada semua orang dan kehilangan harapan.


“Dewa yang mengutus kami datang ke sini,” ujar Boas dengan suara datar, saat menyebut nama Dewa, ia selalu merasa lidahnya kaku karena ketidaksukaannya, tetapi itulah kebenaranya, suka tidak suka, mereka memang di utus Dewa untuk menolong desa, yang selalu memanggil nama dewa untuk menolong dan mereka berdua di utus dengan wujud seorang kesatria pedang yang tangguh.


Saat menyebut nama Dewa seorang biksu tua keluar dari rumah dengan wajah tua yang mulai melemah.


Lalu ia menatap mereka berdua bergantian, dengan tatapan penyelidikan. Lalu Dos menunjukkan pedang yang ia bawa yang di berikan Dewa untuk ia pakai.


Saat melihat pedang itu dengan tiba-tiba biksu tua itu bersujud di di tanah penuh syukur,


“Terpuji Lah Dewa, karena mendengar doa-doa kami dan akhirnya mengutus ke dua prajurit ini,” ujarnya meminta Boas dan Dos masuk ke dalam rumah.


“Masuk, masuklah Tuan sebelum pra prajurit menemukan kita,” ucapnya dengan nada buru-buru.


Tidak lama keluar biksu muda dan ikut menarik kuda mereka masuk ke dalam rumah.


“Apa yang terjadi?” tanya Boas masih belum tahu tentang apa yang terjadi di desa kematian itu.


“Inilah orang-orang yang selamat dari wabah , mereka kebanyakan anak-anak yang masih suci , Desa ini ini di kutuk seorang iblis,” ujar biksu itu dengan sedih.


“Iblis?”


“Kenapa harus seperti ini?” tanya Dos setengah berbisik.


Para penjaga itu akan patroli sebentar lagi, jika ada orang yang melihat yang masih hidup akan di bawak ke istana dan di penjarakan, jadi desa ini harus benar-benar kosong.


Tetapi dalam kegelapkan itu anak-anak terlihat kelaparan dan tidak ada makanan yang bisa mereka makan, bahkan persediaan air di rumah tidak ada, karena tadi siang banyak prajurit yang berpatroli mengawasi desa memastikan desa itu kosong.


“Apa yang mereka inginkan guru?” tanya Dos menatap biksu tua yang sudah terlihat botak.


“Mereka mencari kitab suci pemusnah iblis”


“ Oh, benarkah ada benda yang seperti itu? Ada di mana kitabnya?” Boas ikut penasaran.


“Ada di kuil suci di atas gunung Tardo, salah satu gunung tertinggi di daerah ini, mereka menghabisi semua para biksu dan pemuka agama, untuk menemukan kitab”


“Jadi ini semua ulah Iblis, mereka yang melakukanya?”


“Iya, sang Ratu dan Raja sudah di rasuki para iblis dan mereka menguasai istana dan semua prajuritnya”


“Jangan khawatir, sebelum matahari terbit kita akan membawa semua anak-anak ini ke kuil suci,” ujar Boas dengan yakin.


“Tetapi bagaimana caranya anak muda, jalan ke sana sudah di jaga ketat oleh pasukan raja”


“Jangan khawatir pak Tua, kita akan melakukan yang terbaik, jangan panggil aku anak muda, umurku sudah ribuan tahun berkelana di dunia ini, percayalah aku akan membantu, tetapi saat ini kita harus memberi oran-orang ini makan dulu, agar mereka hidup”


“Baiklah terima kasih para utusan Dewa”


“Panggil saja aku Boas dan dia Dos, jangan panggil aku utusan Dewa lagi, sebenarnya itu sangat menjengkelkan,” ujar Boas, seperti biasa angkuh dan bersikap tidak pernah hormat dengan siapapun.


“Hei! para Dewa, kalian menyuruhku ke sini mau apa? Jika memberi mereka makan saja aku tidak bisa,”ujar Boas bersungut-sungut pada Para Dewa.


“Tuan jangan begitu pada para Dewa, tolong bersikap dan baik,agar desa kami di pulihkan”ujar orang tua itu dengan wajah sedih.


“Baiklah Pak Tua”


Dos akhirnya mengetahui tujuan kedatangan mereka,untuk menyelamatkan satu Dewa yang dikutuk iblis.


Bersambung ….


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)


.


Bantu dukung kakak beri bintang yang banyak dan masukkan ke rak buku dan kasih hadiah jika berkenan