Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Membangun Kehidupan Baru


Beberapa bulan kemudian, setelah para iblis itu berhasil dikalahkan dan dimusnahkan desa kembali hidup.


Kicauan burung mulai terdengar pagi itu, walau hanya ada beberapa, tetapi, desa itu sudah mulai ada tanda-tanda kehidupan, tanaman yang tadinya kering bagai dibakar, kini tanaman itu mulai bertumbuh menumbuhkan pucuk daun yang hijau, tanda kehidupan sudah mulai terlihat.


Lepas dan menang dari cengkraman iblis yang menguasai tanah mereka.


“Kenapa hanya desa ini yang di beri wabah sama iblis?” tanya Boas, hal itu menganggu pikirannya sudah sangat lama. Karena desa yang lain tidak mendapat wabah penyakit seperti di desa yang Boas tinggali saat ini.


“Karena di desa ini, ada kuil kuil yang menyimpan benda berharga milik kerajaan,” ujar seorang panglima yang menemani Boas memantau prajurit untuk membangunkan desa itu kembali,raja memerintahkan prajurit untuk membangun desa yang sudah terbakar itu.


“Maksudnya kitab kuno itu?”


“Iya salah satunya itu”


“Apa ada benda kuno yang lain?”


“Iya, sebuah batu kristal milik Para Dewa”


“Oh” Boas hanya mengangguk kecil, ia tidak berpikir kalau batu kristal yang di maksud batu yang ia cari, karena ia tidak merasakan energi batu.


Biasanya kalau ada potongan kristal tubuhnya akan bereaksi. Namun, kali ini ia tidak merasakan keberadaan batu kristal ada di desa itu.


*


Boas belum diperbolehkan untuk pulang, raja dan ratu meminta kedua sang kesatria mendampingi mereka, raja berpikir akan ada serangan pembalasan dari iblis.


“Tunggulah sebentar lagi Para Kesatria, tunggulah kerajaan ini bisa bangkit sebentar lagi. Kami masih sangat membutuhkan bantuan kalian berdua,” ujar sang raja, memohon.


Raja dan ratu akhirnya bisa pulih, walau mereka kehilangan putra mahkota yang akan meneruskan kerajaan itu nantinya, tetapi saat ini, hanya ada Putri Isabela sebagai penerus satu-satunya.


Ia akan meneruskannya menjadi seorang ratu nantinya,


“Dia layak menjadi ratu karena sikap beraninya menolong warga desa dan sikap berani menghadapi iblis,”ujar Dos memuji sang putri di hadapan Boas berharap lelaki itu menyukai Putri Isabela.


“Iya,” hanya itu jawaban dari bibir Boas, pikirannya dan sikapnya susah di tebak.


Kini desa yang sudah hancur kembali dibangun, sedikit demi sedikit, desa akan memulai semuanya dari awal, dimulai dari pernikahan untuk melahirkan penghuni desa dan memulai kehidupan baru di desa, karena hampir semua orang tua dan dewasa tidak ada yang tersisa hanya meninggalkan anak-anak.


*


Setahun sudah, Boas dan dos berada di desa, waktu begitu cepat berlalu, hal yang di takutkan Boas, ia sangat takut menyadari kenyataan hidupnya, saat semua tumbuh dan meninggal.


Tetapi ia masih hidup dengan wajah dan tubuh yang masih tetap sama, saat itulah ia ingin menghilang dan tidak ingin ada yang mengenalnya.


Saat ini, desa sudah memulai kehidupan baru dan istana juga sudah berbenah dan sudah mulai pulih, rumput di sekita istana tumbuh subur dan ikan-ikan di sungai sudah hidup kembali, kicauan burung sudah menyapa di pagi hari.


Walau masih ada kejadian kecil yang masih datang menghampiri, tetapi itu lumrah. ’Bukankah segala yang hidup selalu ada masalah?’


Sama seperti malam itu, ada satu insiden baru yang membuat warga kembali ketakutan, trauma penyerangan iblis masih membekas di hati semua orang, terkadang rasa takut menghantui pikiran mereka semua.


Serigala kelaparan datang menyerang warga desa, serigala yang sama saat menyerang Boas saat ingin berangkat ke kuil.


‘Mereka lagi, ingin mati sepertinya’ Boas membatin kesal melihat segerombolan serigala memasuki desa.


*


“Tidak yang mulia, mereka hanya serigala kelaparan yang kehabisan pasokan air dan makanan di hutan , kerena musim kemarau yang melanda semuanya” Kepala prajurit menghadap raja


“Kita harus membakar hutan itu, agar para serigala itu pergi menjauh dan mencari tempat yang jauh dari pemukiman warga, karena hutan gelap itu terlalu dekat ke desa dan itu tidak bagus untuk keselamatan warga,” ujar Boas memberi ide.


“Hutan itu, hutan keramat tidak ada yang bisa menyentuh apalagi membakarnya, dari nenek moyang turun temurun melarang merusak hutan.” Raja tidak setuju jika hutan gelap itu dibakar.


“Jika kita membakarnya, orang desa dan masyarakat bisa mengelolanya jadi lahan tadi dan menambah penghasilan masyarakat”


“Yang Mulia tolong setujui apa yang di katakan Boas, selama kami bersembunyi dengan warga, saya bisa mendengar bagaimana kesusahan yang dirasakan masyarakat, jadi tolong berikan saja tanah kerajaan itu dikelola warga,” ujar Putri Isabela.


“Kamu yakin Putri, dengan keputusanmu? apa kamu tidak akan menyesalinya suatu saat, karena nanti kamulah yanga akan melanjutkan kepemimpinan kerajaan ini.”


“Tidak Yang Mulia, saya yakin dengan keputusanku,” ucap Putri dengan yakin, tetapi matanya melirik Boas, dengan tatapan yang tidak bisa dipahami.


‘Apa Putri Isabela jatuh hati pada Tuan Boas?’ Dos, membatin. Ia melirik Tuannya dan berganti melirik Putri Isabela.


Raja akhirnya memperbolehkan membakar hutan Kramat itu, karena malam hari para serigala datang menganggu warga desa, setelah berunding dengan para biksu akhirnya hutan yang menyeramkan dibakar, raja memberikannya pada warga untuk dikelola.


Serigala dan binatang buas lainnya meninggalkan hutan, pergi jauh di balik gunung, tidak lama kemudian Boas, mengambil kayu-kayu besar untuk dijadikan rumah dan kapal untuk menangkap ikan.


Boas juga mengajari mereka cara bercocok tanam dengan cara mudah dan mengajari menangkap ikan mengajari semuanya menjadi lebih berpikir maju.


Kini hutan yang dulunya gelap di tumbuhi pohon-pohon besar itu kini sudah jadi lahan bertani untuk warga.


Boas menjadi pahlawan yang membantu masyarakat seperti yang diharapkan Para Dewa.


“Kita akan membangun listrik di desa ini, Dos”


“Ha? Apa tuan tau cara melakukannya?”


“Bisa, ingat …! aku seorang ceo perusahaan internet di kotaku”


“Maksudnya Tuan juga ingin membangun jaringan internet di sini?’ tanya Dos menatap Boas dengan penasaran.


“Belum Dos, mungkin nanti, tetapi saat ini, aku hanya ingin membangun listrik di sini, desa ini terlalu gelap seperti desa mati aku tidak suka” Boas mengutarakan ke keinginannya pada raja yang berkuasa, awal raja bingung dengan keinginan Boas. Tetapi lelaki berwajah angkuh itu orang yang gigih dengan pilihannya.


Raja mengatakan tidak ingin melanggar peraturan kerajaannya yang sudah di bangun nenek moyangnya, raja berkata harus menjaga kerajaannya agar tetap seperti itu. Ia tidak tahu kalau zaman akan terus bertambah maju dan tidak ada yang sama.


“Kalau Raja tidak mau saya membangunnya di kerajaan ini, izinkan saya membangunnya di desa” Bos menunjuk desa.


“Baiklah, lakukan setelah ada buktinya barulah saya percaya,” ujar raja.


Keesokan harinya Boas membangun kincir air di sungai di samping desa, semua orang antusias membantu dan penasaran dengan apa yang akan di lakukan Boas kali ini, karena sejak desa itu dibangun kembali, banyak ilmu baru dan pengalaman baru yang mereka dapatkan darinya, dan warga desa sangat percaya padanya.


Setelah beberapa hari bergelut membangun pasokan listrik, akhirnya berhasil, desa yang tadinya gelap gulita sekarang terang dan sangat indah di malam hari, jadi saat malam tiba, suasana terang karena ia memasang lampu di setiap sudut desa dan di pohon-pohon, bahkan malam itu anak-anak bergembira dan bermain ceria saat desa itu terang, anak-anak melupakan penderitaan yang hampir bertahun-tahun mereka alami.


Kini anak-anak itu ditempatkan di satu rumah yang di bangun secara gotong royong, lalu anak-anak yang sudah yatim piatu itu dijaga beberapa biksu muda dan dibiayai kerajaan.


Maka kehidupan baru dimulai, Boas dianggap dan elu-elukan sebagai seorang Dewa berkat bantuan besarnya untuk desa dan kerajaan.


Bersambung ….