Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Jebakan Untuk Iblis


Hal yang direncanakan Boas , ia ingin para iblis itu datang dengan jumlah yang banyak, agar ia bisa memusnahkan sekaligus, tidak ingin melakukannya lama-lama.


“Apa yang ia lakukan, kenapa ia memanggil para iblis itu ke sini saat kita semua berdoa melakukan cara agar tempat ini tidak temukan, iblis jahat itu”


“Dia ingin mengakhiri penderitaan semua orang, tetaplah berdoa agar ia di beri kekuatan tambahan dari Dewa,” ujar sang guru.


Saat semua penghuni kuil berlari dan bersembunyi, orang tua itu masih duduk di depan kuil dengan mulut komat kamit, dan kedua telapak tangan menyatu di depan dada, ia membaca ayat kitabnya dengan khusuk, pimpinan kuil sudah sangat tua, ia bahkan tidak takut dengan iblis yang datang menggangu, ia hanya takut kalau anak-anak yang ada di kuil itu terluka.


“Guru, mari kita masuk di luar sudah dikepung banyak iblis,”ujar seorang muridnya yang masih muda.


“Pergilah biarkan aku menjaga dari sini,” ujarnya dengan yakin, Boas hanya menatap orang tua itu dengan tatapan datar.


Tetapi orang tua itu sudah tahu kalau Boas dapat melumpuhkan ya dengan mudah, dengan kekuatan besar yang di miliki, bahkan dalam mata tertutup ia bisa melihat ke dua batu ajaib dalam tubuhnya dan merasakan kemarahan dan kekecewaan di tubuh Boas.


Ia bahkan tahu kalau lelaki di hadapannya itu manusia abadi yang tidak akan bisa meninggalkan dunia panah ini, sebelum ia menemukan keempat bagian batu.


Ia masih menutup matanya dan Boas masih berdiri di depannya, Boas tahu kalau orang tua itu mengetahui siapa dirinya, ia juga tahu kalau lelaki yang sudah sangat tua itu di beri hadiah umur panjang oleh dewa atas kebaikan selama hidupnya pada sesama manusia.


Ada rasa iri dalam hati Boas saat ia melihat tanda bintang di tangan orang tua itu, sebuah tanda berbentuk bintang di lengannya artinya ia manusia istimewa.


“Takdir, itu takdir,”ucapnya dengan mata tertutup, ia tahu kalau Boas meneliti dan melihat tanda istimewa yang diberikan Dewa padanya.


“Aku tidak punya takdir, mereka hanya memberikannya pada manusia baik sepertimu”


“Baik dan jahatnya kelakuan kita itu adalah pilihan bukan takdir, jika kamu melakukan hal yang baik, yakin lah hal yang baik akan menghampiri”


“Aku sudah sering mendengar kalimat itu dari orang-orang sepertimu yang menganggap dirinya sudah melakukan segala kebaikan di dunia ini” Boas tidak percaya lagi dengan segala nasihat-nasihat.


“Baiklah saya tidak akan menasihati lagi, umurmu jauh lebih tua dari umurku”


“Iya baguslah kalau kamu tahu,” ucap Boas dengan acuh, walau fisiknya terlihat jauh lebih muda, Namun, Boas jauh lebih tua darinya.


“Tetapi dengarkan saya manusia abadi, jika kamu ingin menemukan takdir hidupmu kenapa kamu menutup hatimu, jika hatimu terbuka, dari sanalah kamu mendapatkan takdir hidup”


Ucapan orang tua itu sama dengan ucapan Dewa angin yang menghantar mereka sampai ke desa yang saat itu dikuasai para iblis.


“Saya tidak akan membuka hati pada sesuatu yang membuatku lebih menderita”


“Jangan egois, jangan menyalahkan semua Dewa yang melakukan kewajiban mereka, tetapi-”


Belum juga orang tua yang sepuh itu melanjutkan kalimatnya, Boas mengarahkan tangannya dan sebuah bola api menghantam mahluk yang tiba-tiba ingin menyerang mereka.


Mahluk terhempas dan tubuhnya masuk ke benang perangkap.


*


Di sisi lain dalam goa, Putri Isabel sudah bersiap, dengan segala peralatan perangnya Boas memberinya kabar melalui burung kecil yang diterbangkan menemui Sang Putri.


Boas mengabari rencana, kalau ia akan menyerang iblis di atas gunung, ia mengiring iblis ke atas gunung, saat itulah Putri Isabela akan ke istana untuk membebaskan tawanan dan memasang perangkap menggunakan benang merah di setiap jendela dan pintu istana, dengan begitu setiap iblis yang menyentuh benang merah akan terbakar dan lenyap.


Kali ini, Boas masih menunggu pimpinan iblis itu untuk datang, bahkan ia membuat satu sandiwara, sengaja meminta lima orang biksu muda melakukan kegiatan di halaman dan di gerbang istana.


Dan bersikap seolah-olah tidak melihat para iblis.”Jangan takut aku sudah memasang perangkap di sekitar kuil, mereka bisa masuk tetapi tidak bisa keluar,” ujar Boas meyakinkan para lelaki yang ikut membantunya.


Tubuh kelima biksu muda itu bahkan sudah di beri mantra pelindung,


Ratusan iblis terbang mengitari kuil, mereka seperti burung elang yang kelaparan yang menatap kelima biksu itu dengan tatapan lapar.


Boas memancing mereka menggunakan kitab suci tiruan, ia meminta seorang Biksu berpura-pura membaca kitab kuno yang di beri sedikit kilauan cahaya di sisi buku untuk memancing mata para Iblis.


Benar saja, mereka semua semakin membuat suara lengkingan keras … kode memangil semua pasukan mengumpulkannya di sana, tetapi Boas masi menunggu iblis yang memakai tubuh ratu. Namun iblis tak kunjung datang.


Boas tidak ingin anak-anak dalam kuil itu di sakiti, Boas melakukan rencana, dengan hitungan ketiga para Biksu yang membantu Boas masuk ke satu ruangan yang sudah di beri mantra pelindung.


Para Iblis masuk ke halaman gerbang kuil, setelah mereka masuk Dos terbang membentangkan benang merah , saat itulah iblis menabrak dan terbakar, hingga akhirnya lenyap, melihat teman-temannya terbakar, semua iblis tampak panik dengan suara lengking panjang memanggil pimpinan .


“Bagus, panggil lah, kenapa tidak dari tadi kamu lakukan,” ucap Boas menatap garang pada mahluk jahat yang menjijikkan itu, kini mereka terperangkap dalam satu lingkaran yang di buat Boas.


Jika terbang akan menabrak benang merah yang di bentangkan Dos jika keluar dari lingkaran yang di buat Boas sama saja tubuh mereka akan meledak.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pimpinannya datang juga, ia meninggalkan raga sang ratu, ia akhirnya keluar dari istana.


Dos menyuruh burung kecil untuk meminta Putri Isabela bergerak ke istana, saat itu juga saat pimpinan iblis itu keluar dari istana dan meninggalkan raga sang ratu yang ia pakai selama hampir berbulan-bulan membuat penderitaan panjang pada semua penduduk desa.


Kini desa itu sudah hancur tidak bersisa, rumah dibakar habis, para orang tua di buat terkena wabah penyakit, hal yang sangat sulit untuk mereka membangun hal yang baru dan memulai dari nol.


Kini Boas masih dengan kemarahan yang tertahan, nasihat orang tua itu bukan membuat hatinya semakin membaik, justru ia merasa manusia dan Dewa sama-sama menganggapnya tidak pantas mendapatkan pengampunan.


Tetapi ia ingin memusnahkan para iblis agar ia kembali secepatnya ke rumahnya.


Bersambung ....