Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Mereka Kembali Bertemu Tetapi Tidak Kenal


Baiklah, kamu boleh keluar” Kedua alis wanita terangkat dan ia bertanya lagi” Apa bapak tidak membutuhkan saya untuk menjelaskan tentang vidio itu?”


“Tidak perlu biarkan saya melihatnya,” ujarnya dengan ramah ia tersenyum kecil pada Rose.


“Baiklah pak”


Lalu ia menutup pintu ruangan  Bosnya. Ia masih berdiri  di balik daun pintu ruangan bosnya’


‘Ia pasti terkejut dengan isi semua rekaman yang aku berikan’ ujar Rose meninggalkan  ruangan bosnya dan duduk kembali ke kursinya.


Tidak butuh lama, Egdan memasukkan  kepingan kaset ke laptopnya dan melihat semua isi rekaman, matanya terlihat sangat marah.


“Pak, saya sudah mengeluarkan mobil apa kita akan berangkat sekarang?” Biden menelepon Egdan.


“Kamu tunggu di bawah saya akan turun,” ujar Egdan dengan wajah memerah, ia geram melihat  isi dari vidio yang ia tonton. Pembulyan yang ia terdiam sangat tidak beradab dan tidak manusiawi.


Egdan melihat sendiri rekaman dirinya saat ia di buly di kerjain sesama orang kantornya,


“Apakah aku sebodoh itu dulu, sampai  mereka memperlakukanku tidak manusiawi seperti itu?” tanya Egdan  pada dirinya sendiri, ia sampai mengelus dada saat ia di kerjain buka pakaian di kantor oleh pegawai lelaki.


‘Kamu jangan mengadu sama bapakmu  iya,  awas kamu sampai mengadu, teriak seorang karyawan lagi padanya”


“Walaupun kamu memberitahukan pada bapakmu ia tidak akan bisa berbuat apa-apa karena, ia sama bodohnya dengan kamu”


“Ni, pakai bajumu” ujar seorang lelaki juga melemparkan kemeja yang mereka sita.


“Iya, iya,” ujar Egdan ketakutan dalam rekaman itu ia meringkuk di sudut ruangan hanya mengenakan celana boxer hitam.


Melihat semua isi rekaman itu perlahan sedikit demi sedikit ia mulai paham siapa dirinya di masa lalu. Egdan seorang yang sangat kasihan kehidupan di masa lalu, ia kaya raya tetapi karena penampilannya  yang cupu dan otaknya bodoh. Jadi  semua orang hanya memanfaatkannya. Melihat isi rekaman itu matanya terbuka dan semua yang ada saat ini  adalah hanya kepura-puraan.


Ia teringat dengan istrinya Kelly jika semua orang memperlakukannya dengan sangat buruk seperti itu  bukan tidak mungkin kalau Kelly istrinya juga hanya pura-pura padanya.


‘Kasihan ibu dan Ayah selama ini,  hidup mereka sangat kasihan karena mendapatkan anak bodoh sepertiku, aku harus bangkit dan memberi mereka pelajaran tetapi untuk saat ini aku harus melakukanya pelan-pelan’


Karena hampir tiga puluh menit sejak Biden mengeluarkan mobil ia menunggu sampai ketiduran di di kursi kemudi,  ia terbangun karena keamanan kantor membangunkannya kerena ada mobil hendak parkir.


Biden  mengeluarkan mobilnya dengan wajah terlihat  sangat jengkel,


“Kemana si ni orang, bikin jengkel,” rutuknya  dengan kesal,  setelah  memarkirkan mobilnya dengan aman, lalu ia keluar dari mobil dan mengeluarkan rokok dari saku celananya dan  satu batang sudah ia habiskan, .


‘Dasar …! harusnya kamu mati saat kecelakaan itu’ Biden membatin ia sangat marah, karena sejak ia mengenal Egdan sudah hampir lima tajun baru kali ini ia diperlakukan tidak baik.


Saat  dalam keadaan marah, ternyata Boas sudah berdiri  di belakangnya menatapnya dengan tatapan menyelidiki, saat ia ingin mengeluarkan batang rokok kedua tidak sengaja menoleh ke belakang ia terkejut ternyata ada Egdan di belakangnya menatapnya dengan tatapan sinis.


“E-e- Pak Bapak”


Biden sangat kaget saat Egdan ada di belakangnya menatap dengan tatapan yang tidak bisa ia pahami.


Dengan cepat ia membuka pintu mobil  dengan sikap buru-buru dan mempersilahkan Egdan masuk di jok belakang, setelah menutup pintu ia berlari kecil  menuju  kursi setir, melirik Egdan dari kaca depan.


“Kita ke mana Pak?”


Suasana hening Egdan masih terlihat diam dengan wajah  datar, seolah-olah ada beban berat yang ia pikul di pundaknya.


“Kita ke  dokter mata dulu setelah itu ke butik”


“baik Pak”


Sepanjang perjalanan suasana hening dalam mobil, Egdan menatap kosong kearah jalanan. Buly rekaman vidio yang ia lihat  membuat hatinya sakit,  banyak pertanyaan-pertanyaan yang  bergentayangan dalam benaknya membuat isi kepalanya terasa penuh.


Ia beberapa kali menghela napas panjang, karena melihat itulah Biden tidak berani bicara, kalau biasanya ia jalan dengan Egdan sebelum kecelakaan, lelaki itu akan selalu duduk bersamanya. Namun kali ini semuanya sudah berubah, ada jarak diantara mereka berdua.


“Fokuslah, kejalanan Biden jangan  pikirkan saya, suasana hati lagi tidak baik,” ujar Egdan memijit keningnya yang terasa pening.


“Apa ada masalah?”


“Hmmm … masalah  sangat menganggu hati”


“Apa itu?”


“Biden, apa semua masalahku juga akan aku sampaikan pada kamu”


Tiba-tiba jantung lelaki bertubuh tegap itu berdetak mendengar ucapan Egdan.


“Tidak Pak,  Maaf, saya hanya suka mengingat  kebersamaan kita dulu, bapak dulu sering   berbaring  cerita”


“Oh, begitu …  jadi kita berbagi banyak hal iya?”


“Tidak, tidak Pak, hanya sedikit kini, Bidenlah yang menunduk


“Oh, aku ingin bertanya kamu, apa istriku cantik menurut kamu?”


Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu Biden merasa ada yang aneh,  terdengar seperti sebuah pertanyaan jebakan.


“Cantik Pak” ujar Biden menelan savilanya  dengan susah payah.


“Baiklah”


Sejak saat itu Biden diam tenggelam dalam pikiran sendiri baik Egdan juga seperti itu ia diam dengan tatapan  kosong kearah jalanan.


Hingga mobil berwarna hitam itu berhenti di  sebuah rumah sakit.


“Kita sudah sampai Pak” Egdan  keluar  dari mobil  di depan sebuah rumah


Saat ia berjalan menuju ruangan dokter sekretarisnya sudah mengatur pertemuannya dengan dokter spesialis bagian dan. Tetapi saat ia berjalan buru-buru, ia menabrak seorang wanita dan barang-barang yang di bawa berserak. Egdan dengan cepat memungut barang-barang yang di bawa yang isinya  berupa jajanan anak-anak yang di bungkus dalam satu kantong plastik seperti sebuah bingkisan.


“Maaaf  Bu saya tidak sengaja.” Egdan menunduk kepalanya tanda maaf.


“Baiklah saya akan memaafkan kalau Bapak mau tolong saya,” ujarnya setelah melihat wajah Egdan.


“Apa yang bisa saya bantu, Bu?”


“Tolong bawakan barang ini,  ini sangat berat tenaga  saya tidak kuat untuk mengangkat”


“Oh, ok, baiklah tujukan arah jalan, saya akan bawa ke mana?”


“Iya, ikuti saya”


Wanita berwajah cantik berjalan di depan,  dengan tangan menenteng bag kecil juga.


Setelah berjalan melewati beberapa koridor rumah sakit, lalu ia masuk ke salah satu ruangan yang bertuliskan bangsal anak. Egdan masuk dengan perasaan takut-takut.


Dalam ruangan  besar itu terdapat beberapa ranjang yang di isi oleh anak-anak, mereka semua penderita kangker.


Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TAMAT)


-Manusia Titisan Dewa(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (TAMAT)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)