Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Menolak Dijodohkan


Maka kehidupan baru dimulai, Boas dianggap dan elu-elukan sebagai seorang Dewa berkat bantuan besarnya untuk desa dan kerajaan.


Boas sudah berada di sana selama dua tahun, melakukan semua yang diperintahkan Dewa, ia membantu membangun kehidupan baru, membantu membangun rumah untuk masyarakat yang kehilangan rumah, memulihkan trauma anak-anak yatim piatu itu.


Paling membahagiakan bagi mereka membangun pasukan listrik di desa, menjadikan desa jadi terang di malam hari.


Kerajaan itu sebuah kerajaan kecil berada di perbatasan yang tertinggal jauh dari kemajuan teknologi, sebuah kerajaan yang sangat tertutup pada orang luar, tetapi sangat tekun dalam hal ibadah.


Karena hal itulah Para Dewa mengirim mereka berdua ke kerajaan itu. ,mereka diutus sebagai sorang kesatria membantu kerajaan yang disayangi Para Dewa.


Boas dan Dos membangun Desa dan kerajaan itu mulai dari nol hingga kerajaan kecil itu mampu berdiri lagi saat ini.


Semua warga menganggap Boas dan Dos manusia setengah Dewa, karena kebaikannya yang mereka. Bahkan raja sangat menghormati mereka berdua.


“Kita sudah melakukan semua yang diperintahkan Dewa, mari kita pergi,” ucap Boas pada Dos.


Lalu ia berteriak kerah langit; “Aku sudah melakukan semua yang kalian perintahkan sekarang bawa aku pulang dari desa ini!” teriak Boas menatap langit, ucapannya ia tujukan pada Dewa.


“Baik Tuan, kalau para Dewa sudah mengizinkannya”


Dos akan selalu menurut dengan segala apa yang dikatakan dan inginkan Boas.


Tetapi raja mendengar kedua kesatria itu ingin meninggalkan desa, ia tidak ingin Boas pergi, ia ingin lelaki tangguh itu tetap berada di kerajaannya untuk menjaga mereka, hingga muncul ide menjadikannya menantu dan menyerahkan tahtanya, Boas di jodoh kan dengan Putri Isabela.


Raja memerintahkan prajurit untuk membawa keduanya ke istana dan disambut dengan jamuan kerajaan.


Jamuan yang biasanya di lakukan kerajaan kalau ada acara khusus dan acara penting. Namun kali ini berbeda.


Semua warga ikut diundang untuk makan-makan di istana, rakyat biasa tidak pernah merasakan makanan istana, tetapi sejak Boas datang ke desa itu dan menjadi bagian dari mereka selama bertahun-tahun, semuanya berubah, anggota kerajaan yang tadinya hanya tinggal di istana dan hanya mendengar laporan dari para pejabat, tetapi kini, ikut berbaur dengan semua kalangan masyarakat.


Hari itu hari yang sangat spesial untuk semua orang di kerajaan itu karena raja dan ratu, berencana akan menikahkan Boas sang Kesatria dengan Putri Isabela, berharap Boas tidak meninggalkan desa itu untuk selamanya. Kabar itu beredar luas di seluruh desa dan disambut baik oleh mereka.


“Silahkan dicicipi,”ujar sang Raja dengan ramah, memperlakukan Boas dan Dos bak orang penting.


“Ada apa gerangan Dos, aku merasakan suasana hati yang tidak enak saat ini,” bisiknya pada lelaki tinggi besar di sampingnya.


“Saya tidak tahu Tuan, barang kali Sang Raja akan memberikan kita hadiah atas kerja keras kita selama bertahun-tahun di sini” Dos mencomot satu kue kecil yang dihidangkan di depan meja mereka.


“Aku tidak berharap hadiah apa-apa Dos, hanya berharap Dewa mau membawa ku pulang ke rumahku”


Setelah acara tarian-tarian dan sudah menikmati hidangan yang enak. Akhirnya raja mengungkapkan keinginannya mengundang Boas ke istana.


“Begini, Tuan Egdan, terimakasih atas pertolongan yang kamu berikan pada kerajaanku dan rakyatku”


Boas hanya mengangguk kecil tidak menginginkan apa-apa dari mereka semua, tidak emas , tida juga berlian, apalagi kekuasaan dan harta, ia sudah memiliki semua itu di rumahnya bahkan lebih dari kekuasaan raja yang saat ini, jadi tawaran untuk menjadi raja untuk suami Putri isabela bukanlah keinginannya, tentu saja ia menolaknya.


“Tidak apa yang Mulia itu sudah kewajiban kami sebagai kesatria yang diutus Para Dewa,” ujar Dos angkat bicara mewakili tuanya.


“Saya sebagai raja, ingin menjadikan Boas sebagai penerus kerajaan ini. Saya ingin mengangkat mu sebagai raja dengan syarat menikahi Putri Isabela”


Semua orang berkata ‘Wow’ dengan mulut terperangah dan mata menatap Boas dengan tatapan kaget, tetapi lelaki berwajah angkuh itu tidak menunjukkan wajah yang senang atau kaget.


Saat semua lelaki di kerajaan itu berlomba ingin menjadi menantu raja, ingin menikahi Putri Isabela, tetapi sikap berbeda di tunjukan Boas ia tidak mau.


“Maafkan, saya tidak mau”


“Ha?” wajah Raja menegang mendengar jawaban singkat Boas dan tidak menunjukkan sikap hormat, seperti biasa akan bersikap seenak udelnya, sikap angkuhnya tidak bisa dan tidak mudah ia dihilangkan, hal itu jugalah yang tidak disukai Para Dewa dari Boas.


Para Dewa hanya ingin Boas bersikap rendah diri dan mengakui kesalahannya sebagai orang yang mendapat hukuman.


Tetapi sampai saat itu, walau sudah ratusan tahun lamanya ia tidak pernah mengaku salah, dan meminta pengampunan pada Para Dewa.


“Tidak, saya bosan menjadi raja”ucap Boas acuh.


Wajah raja dan ratu serta semua pejabat kerajaan terlihat bingung dengan jawaban singkat dari Egdan, layaknya seorang raja jika ada rakyat yang tidak bersikap hormat akan merasa marah dan merasa tidak dihargai.


“Saya seorang raja di tanah yang Anda pijak ini”


Dos, tidak ingin melihat keributan, seperti biasa, ia akan mengambil alih dan menjelaskan pada raja.


“Begini Tuan, jauh sebelum kami datang ke tempat ini, Tuan saya seorang raja juga dan saya adalah pengawalnya sekaligus hewan tunggangannya.


Dewa mengirim kami ke sini secara tiba-tiba, Tuan saya tidak bisa menerima pinangan yang diberikan yang mulia saya meminta maaf,” ujar Dos.


“Seorang Raja ….?”


“Iya yang mulia, saya berharap setelah tugas yang diberikan Dewa kami selesaikan dengan baik dan kami akan kembali”


“Benarkah dia seorang raja?”


Semua orang dalam ruangan aula jamuan, terdengar saling berbisik dan menatap Boas dengan heran.


“Iya Yang Mulia dan kami akan segera pulang”


“Kalau dia seorang raja juga, kenapa dia meninggalkan kerajaannya waktu yang lama?” tanya sang raja penasaran karena ia tidak percaya.


Dos menarik napas berat, ia tidak ingin membahasnya, karena itu luka yang sangat dalam buat Boas dan dengannya.


“Dewa menghukum saya dengan berat, sudah itu saja, saya hanya tidak ingin menjabarkan di sini. apa kesalahan dan kenapa Dewa menghukum saya dan melempar ku ke desa ini, tujuanku datang ke desa ini, hanya membantu itu saja,saya tidak butuh harta apalagi kekuasaan, saya sudah memiliki semua itu.” Boas berdiri.


Semua orang dalam kerajaan itu hanya bisa terbengong dengan sikap dan pengakuannya.


“Itu artinya kamu menolak menikah dengan Putri Isabela?”


“Iya” saya tidak menginginkan apapun, hanya ingin keluar dari sini dan a kembali ke asalku,” ujar Boas.


“Tapi apa kamu tidak menyukai Putri Isabela?” tanya raja semakin penasaran, karena ia berpikir kalau Boas mencintai sang putri karena ia melihat beberapa kali, Boas tertangkap matanya menatap Isabela dengan tatapan berbeda


“Tidak, saya tidak pernah mencintai siapapun di dunia ini, saya hanya mencintai diri saya sendiri”


Putri Isabela tampak terkejut dengan pengakuan Boas, ia juga berpikir kalau Boas tertarik dengannya karena dari awal bertemu dan sampai detik itu, lelaki berwajah tegas itu masih terlihat sering menatapnya.


‘Apa ini, kenapa lelaki itu selalu menatap ku dengan tatapan seperti itu, kalau ia tidak tertarik denganku’ ujar putri Isabela menunduk sedih.


“Tetapi kenapa? Saya pikir selama ini kamu menyukai Putri karena kamu selalu menatapnya dengan tatapan hangat”


Dos menatap sang majikan, ia juga sempat berpikir kalau Boas telah membuka hatinya, karena ia juga beberapa kali melihat Boas menatap Putri Isabel dengan tatapan hangat.


“Saya tidak pernah seperti itu”


“Baiklah, saya tidak akan melupakan perbuatan baikmu selama ini, hanya karena satu kesalahan kecil,” ucap Raja.


Ia seorang raja yang baik dan bijak sana.


Walau sebenarnya ia tidak ingin Boas menggagalkan kerajaannya tetapi ia tidak ingin memaksa, apalagi memaksa untuk menjodohkannya dengan Putri Isabela, bantuan yang di lakukan Boas dan Dos selama ini begitu berharga untuk mereka.


Jadi Boas menolak pembodohan dirinya dengan Putri Isabela dan ia juga menolak menjadi seorang raja.


‘Aku hanya butuh batu kristal untuk mendapatkan takdir hidupku,’ ujar Boas dalam hatinya.


Bersambung ….