
Kehidupan Boas egdan atau Davino selalu dalam masalah dari masa ke masa, saat ia jadi seorang raja di masa lalu hidupnya dalam masalah, saat menjalani hidup kedua sebagai Boas Egdan hidupnya dalam masalah, maka saat itu juga di kehidupan ketiga sebagai Davino, hidupnya tetap dalam masalah, bukan hanya ia bahkan Shena atau Aresya juga dama masalah.
Davino tidak pernah menduga kalau hari itu ia akan mengalami nasip sial, karena hari itu telah terjadi pembantaian di pabrik, tepat saat ia memimpin rapat tiba-tiba lampu padam, tidak lama kemudian sebuah tembakan terdengar dari suara pintu, untung ia bisa melarikan diri.
Dalam pabrik malam itu terasa mencekam, mayat orang yang tidak bersalah itu masih tergeletak di ruang rapat, tanpa ada yang memperdulikan, demi mengincar Davino mereka di jadikan korban dengan rencana awal menjadikan penembakan itu seakan-akan sebuah perampokan.
Saat penjahat itu menyadari kalau Davino tidak ikut dalam penembakan, semua rencana mereka gagal dan berantakan.
“Sial… gila, bodoh semua,” maki seorang lelaki yang memakai topi. “Cari ia sampai dapat kita yang akan mati kalau ia tidak mati,” ujar lelaki berbadan kekar itu, memerintahkan anak buahnya untuk mencari Davino.
Davino yang menyadari nyawanya target utama dalam penembakan itu, iya terpaksa masuk ke dalam tempat sampah, sampah pembuangan sisa potongan kain, ia harus masuk untuk bisa keluar dari sana, sampah pabrik biasanya di buang di malam hari.
Dengan begitu saat ia masuk dalam tempat sampah ia juga di buang ke tempat pembuangan sampah pabrik, dengan begitulah ia selamat, karyawan yang shift malam, tidak menyadari kalau sudah terjadi hal besar di sana karena para pegawai shift malam masih sibuk bekerja melakukan tugas mereka.
Para pegawai tidak menyadari kalau, kepala produksi dan bagian gudang sudah meninggal dalam aksi penembakan itu. Para pegawai lelaki itu hanya fokus pada pekerjaan mereka berharap mendapat upah yang sesuai untuk menyambung hidup dan untuk menghidupi keluarga, mereka tidak tahu nasip perusahaan itu ke depannya.
Mobil pembuangan sampah perlahan keluar dari area pabrik setelah semua sampah masuk dan tentu tubu Davino juga ikut dilempar. Saat mobil keluar itu artinya Davino selamat.
Walau ada beberapa luka di tangannya, karena ia meringsek keluar daru mesin pemotong kain, untuk anak-anak yang sedang istirahat kalau saja, mesin itu beroperasi pasti tubuh Davino sudah jadi daging cincang, untuk bisa selamat dari sabotase malam ini di butuhkan kepintaran otak dan tekat berani.
Seandainya ia masih tetap sembunyi di gudang, ia akan ketahuan karena, saat tahu kalau Davino tidak ikut tertembak dalam ruangan semua orang melakukan penyusuran.
Saat ia mobil melintas keluar pabrik ia mengintip dari tumbukan sampah di jalan sebelum pabrik ia melihat sebuah mobil, mobil yang tidak pernah ia duga;
“Mobil….?” Davino menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat itu.
**
Para penjahat itu tidak hanya menguasai pabrik dan ingin menyingkirkan Davino, meraka juga mengincar Aresya dengan cara yang paling tidak manusiawi, saat pengawal itu sedang terlelap tidur, lidah api sudah menjulur semakin membesar menghanguskan bangunan bertingkat satu itu, saat mereka tidur dalam nyenyak api sudah membakar bagian lantai atas tepatnya di kamar Aresya.
Davino masih dalam tumbukan sampah saat mobil berhenti di pembuangan, ia buru-buru melompat lagi-lagi nyawanya selamat, ternyata orang yang membuang sampah kali ini, mereka juga bagian dari penjahat itu, bukan hanya sampah yang mereka buang ada beberapa dokumen kantor yang ikut dibuang.
Semuanya semakin jelas, ini bukanlah perampokan namun sabotase perusahaan seseorang yang ingin mengambil alih perusahaan dengan cara yang kejam membuang semua dokumen perusahaan.
Menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah, ia sedang merekam pembuangan dokumen itu, Ny. Marisa mengirim pesan kalau rumah Aresya terbakar dan Aresya belum di temukan, ia hampir ketahuan karena mendengar Aresya belum ditemukan ia hampir ambruk ,menginjak ranting kayu.
[ Kamu tidak usah ke sana, kamu juga harus selamat, karena tujuan utama mereka adalah kamu ] pesan masuk dari oma Marisa.
Iya ampun Aresya… Davino mengepal tangannya dan menggigitnya dengan kuat menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya kalau sampai Aresya ada dalam kebakaran itu.
Saat mobil itu pergi, Davino tidak lantas keluar dari persembunyiannya, ia tahu mereka masih mengawasi kearah pembuangan sampah.
Masih bertahan saling menunggu sekitar sepuluh menit akhirnya mobil pabrik itu, bergerak perlahan dan akhirnya meninggalkan sampah.
Davino berpikir sejenak apa ia akan pergi menjauh atau ia akan melihat tempat pembuangan sampah sejenak ia memutuskan ke pembuangan sampah melihat kalau ada yang bisa ia selamatkan.
Benar saja banyak dokumen dan buku penting yang mereka buang, sebagian sudah di robek dan disiram minyak , namun belum sempat di bakar, takut mengundang perhatian orang, maka sampahnya tidak dibakar. Hal itu sebagai satu keberuntungan untuk Davino karena ia bisa mengamankan dokumen penting perusahaan milik keluarganya.
Menggunakan karung seadaanya dari tempat pembuangan sampah. Davino memasukkan dokumen itu kembali dalam karung bekas ia tidak perduli dengan bau busuk yang menyengat hidung, membawanya keluar dari sana.
Malam semakin larut tidak ada lagi mobil yang melintas di daerah pembuangan sampah itu, karena sampah pabrik perusahaan Erlangga menyewa lahan kosong yang jauh dari pemukiman, maka selaru itu bisa di pastikan tidak akan ada angkutan yang lewat.
Davino semakin frustasi saat ponselnya tiba-tiba mati karena kehabisan daya.
“Sial, bagaimana ini?” matanya melihat kanan kiri tidak ada tanda kehidupan hanya suara binatang malam yang saling bersahutan di sekelilingnya.
Ia terduduk dalam putus asa bayangan Aresya membuatnya menangis.
‘Aku berharap Aresya baik-baik saja, Ya Allah aku tidak pernah meminta apa-apa padamu karena aku manusia sering lalai dalam ber-Tuhan. Namun, kali ini aku berharap tolong selamatkan calon anakku’ ucap Davino dengan tatapan mata menatap langit. Langit yang indah berhiaskan taburan bintang yang indah.
Saat duduk dalam keputusasaan tiba-tiba sinar lampu mendekatinya ia bersembunyi di balik semak, namun persembunyiannya seakan tidak berarti suara motor mendekat dan berhenti di depannya.
“Pak Davino ini saya lilis,” suara itu ia kenal dan ia keluar.
“Lis,Oh syukurlah”
“Naiklah Pak kita akan pergi dari sini, kita tidak banyak waktu, karena sepertinya penjahat itu mengikuti ku.”
Dengan Cepat Davino naik ke atas motor cros yang di kendarai wanita bertato itu, tidak perduli batu, timbunan tanah, bahkan kubangan air, Ia terus melajukan kendaraannya.
Akhirnya Davino selamat dari para penjahat yang memburu nyawanya.
Bersambung