
Masih melakukan malam panas.
Melihat Aresya tidak takut lagi malah memintanya melakukan yang lebih panas lagi, Davino melepaskan bibirnya membuka kedua kakinya, lutut Davino berpindah ke tengah kaki Aresya, ia mengusap bagian sensitif Aresya dengan lembut, ia tidak ingin wanita itu merasa kesakitan lagi seperti yang mereka lakukan di hutan malam itu, karena saat itu, karena itu yang pertama bagi Aresya.
“Aku akan memasukkannya,” ucap Davino dengan suara terbata-bata menatap langsung ke mata Aresya meminta jawaban dari permintaanya, mata Aresya menatap manja dengan gerak-gerakan tubuh tak beraturan.
“Baiklah,” jawab Aresya, dengan dada naik turun , tubuh keduanya sudah bermandikan peluh-peluh keringat.
“Aku akan melakukanya dengan pelan-pelan,” ucap Davino menyakinkan istrinya.
Dengan tatapan mata berbinar penuh keyakinan Aresya mengangguk, ia juga ingin menuntaskan permainannya.
Dengan hati-hati Davino mencari pintu kecil di tengah hutan, hingga ia menemukan gua lembab di antara rumput-rumput lebat, memasukkan satu jari tangannya, dengan gerakkan melata jari-jari tangan Davino menyusuri dengan lembut, hingga… Aresya menegakkan punggungnya, lobang itu masih sempit.
Davino mengarahkan tongkat miliknya dengan perlahan ia mencoba mendorong namun tidak berhasil masuk, ia mengunakan Baby oil sebagai pelumas, karena tidak ingin Aresya sakit lagi seperti malam itu.
Melihat wajah Aresya yang menegang menjaga perut, Davino kembali memangkunya ke kursi , mengercap bibirnya dengan lembut dan menikmatinya beberapa saat, untuk mengalihkan pikirannya yang takut.
Ia kembali mengusap bawah perut Aresya setelah berhasil menemukan pintu tersebut, dengan hati-hati ia mendorong miliknya dengan hati-hati. Awalnya memang sakit setelah dorongan kedua Aresya malah mengeluarkan suara-suara manja, Davino berhasil menyatukan tubuhnya dengan Aresya kembali.
Tap ...
Tapi ...
Dorongan tubuh Davino berhasil membuat Aresya mengeluarkan suara-suara ribut yang manja dari bibir mungil itu.
“Rasa sakitnya hanya sebentar saja kan? nanti dan seterusnya akan terasa enak,” ucap Davino meyakinkan Aresya.
Aresya mengangguk, memeluk leher Davino lagi, mereka melakukan dengan gaya On The chair
.
Davino semakin bersemangat saat Aresya menyambut permainan darinya
Keringat sudah membasahi tubuh. Terasa panas, seakan terbakar, mata Davino terus menatap Aresya, permainan semakin memburu, Aresya membuka mulut dan terus mengeluarkan suara, hingga tubuhnya bergetar menahan rasa nikmat.
Awalnya Davino mendorong dengan tempo Lambat, tubuhnya semakin menuntut lebih, lalu tubuh Davino bergerak maju dan mendorong, membuat tubuh Aresya berayun naik turun. Tuntutan dari tubuh Davino semakin memburu, ia mengeluarkan suara erangan dan menghentak lebih kuat lagi, ia mencengkram pinggang Aresya dengan kedua tangannya hingga temponya semakin cepat dan cairan hangat akhirnya tumpah memenuhi bagian bawah Aresya.
Aresya merenggut leher davino dengan kuat, dengan napas terengah-engah, setelah berhasil mencapai puncak masing-masing Davino berhenti mengambil napas, lalu menarik miliknya dan mengendong tubuh Aresya, mereka berdua berbaring di ranjang.
Setelah beberapa menit berbaring dengan tubuh tidak berdaya Davino membalikkan tubuhnya memeluk pinggang Aresya dengan hangat, ia sedang memungunginya.
“Apa aku menyakitimu lagi ? Maaf iya, maafkan aku selama ini yang tidak pernah mempercayaimu,” ucap Davino mencium pundak Aresya.
Aresya diam, ia jadi pemenang karena menjadi wanita terhormat, menyerahkan mahkotanya pada orang yang tepat, iya itu suaminya bukan iblis jahat yang mengincarnya selama ini.
“Aresya! Panggil Davino lagi, membalikkan tubuhnya menghadap dadanya. “Terimakasih telah mempercayaiku dan memberikan tubuhmu untukku”
“ Aku harusnya berterimakasih, Terimakasih Davino,” ucap Aresya dengan suara kecil.
“Untuk apa?” tanya Davino menatap mata Aresya, tatapan mata yang tidak bisa ia tebak.
“Karena kamu mau menolongku, karena kamu mau melakukanya, akhirnya aku bisa menyerahkan kehormatan ku pada orang yang tepat, sesuatu yang aku jaga selama hidupku, aku bangga dan
senang memberikannya padamu, pada suamiku, walau kamu tidak pernah-“
“Mulai saat ini aku akan percaya padamu, Aresya,” ucap Davino mendaratkan bibirnya di kening Aresya.
Aresya hanya tersenyum kecil dengan wajahnya terlihat sangat lelah. ”Baiklah, terimakasih”
“Ayo!” Davino merentangkan telapak tangannya.
“Ha, mau kemana?” tanya Aresya menyengitkan alis matanya.
Melihat ketakutan di wajah Aresya Davino terkekeh, “Aku hanya ingin mengajakmu ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kamu tidak akan berniat tidur dengan tubuh lengket seperti itukan, Aresya?”
“Kamu duluan saja, aku nanti,” ucap Aresya menarik selimut lebih tinggi lagi, menutup hingga dagunya.
Melihat Aresya bersikap takut, Davino menggosok-gosok hidungnya menatapnya dengan tatapan berbinar, ia berdiri dan mengangkat tubuh Aresya.
“Eh, apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Aresya menarik selimut menutupi tubuh polosnya, tapi Davino menarik dan meletakkan selimut itu kembali.
“Kita akan mandi Sa, aku tidak akan bisa tidur dengan keadaan seperti ini”
“Tapi aku ti-“
“Jangan takut sayang, aku tidak akan mengigitmu lagi, cukup untuk malam ini, mungkin kita akan lanjut besok malam lagi, aku hanya memandikanmu,” ucap Davino dengan senyum kecil merekah di bibirnya, mengangkat tubuh Aresya dengan enteng, seakan ia hanya anak kecil umur lima tahun, hingga ia meletakkan tubuhnya di dalam Bathub. Karena sudah malam Davino menyalahkan air hangat menyalahkan aroma terapi dari lilin-lilin yang berwarna-warni itu.
Tubuh Aresya masih menegang dalam bathtub, ia melakukan melakukan ritual menjepit kedua kakinya.
Davino ikut masuk dan duduk, mengangkat tubuh Aresya untuk ia pangku . Aresya masih takut bagian bawahnya perih, lalu menarik lehernya, merangkulnya dengan erat.
“Kamu sangat cantik malam ini” bisik Davino mengarahkan bibirnya ke arah kuping, sengaja mengembuskan napasnya di sana, napas hangat itu menyapu belakang kuping leher Aresya . Salah Titik bagi kaum hawa, belakang kuping wanita diyakini salah satu titik yang bisa membangkitkan gairah.
Tubuh Aresya, menegang dengan punggung maju kedepan, dada sintal itu semakin menekan maju saat Davino meletakkan bibirnya di belakang Aresya. Jari-jarinya berjinjik menyusuri punggung, tubuhnya merespon lagi. Bergerak merasakan rasa yang mengelitik dari jari-jari Davino.
Tubuhnya semakin terdorong menekan dada bidang Davino, Davino menyisihkan rambut di belakang leher Aresya, ia semakin mempererat rangkulan di lehernya, Davino lanjut menyusuri punggung Aresya dengan bibirnya, tangan Aresya memindahkan pelukannya, melepaskan leher Davino, ia membiarkan leher Davino bergerak menyusuri belakang tubuh, ia memeluk dada Davino membiarkan benda lembut miliknya menyentuh kulit lelaki berwajah tampan itu, otot keras dari dada Davino menekan benda sintal itu lagi.
Saat Davino mengigit dengan lembut kuping Aresya ia bergerak menekan dadanya . Semakin menegak saat ia juga memainkan tangannya menekan kulit punggungnya, tetapi, kakinya masih bertahan dengan posisi merapat.
“Ah, Davino aku masih merasa takut untuk mengulanginya lagi, aku masih merasa sakit,” ucap Aresya melepaskan rangkulannya dan menatap Davino degan dada naik turun dan nafas tersengal-sengal karena mereka berdua sempat terpancing lagi.
Davino tidak lantas memaksanya, ia tersenyum mengelus pipi Aresya. “Aku hanya membantumu untuk menghilangkan rasa sakit itu, percaya padaku,” ucap Davino menatapnya dengan tatapan mempesona.
“Baiklah” jawab Aresya menghela nafas panjang
Davino mengangkat tubuhnya di pangkuanya dengan posisi tubuh membelakangi, perlahan ia mengusap punggung Aresya dengan lembut menuangkan sabun cair ke telapak tangannya menggosok tubuhnya dengan pijatan lembut, dengan gerakan jari-jari menekan setiap titik yang bisa membuat tubuh Aresya bergerak kanan-kiri.
Ia juga menyalahkan semua lilin berwarna-warna itu, menyejukkan pikiran. Aresya menutup matanya, kedua kakinya masih merapat belum berani membuka lebar, tangan Davino sudah mulai menjalar ke bagian perut dan menyusuri paha mengusapnya dengan lembur, ia menyandarkan tubuh aresya di dadanya dengan posisi kaki Davino terbuka lebar .
Ia mulai mengusap hutan itu dengan gerakan lembut, kaki yang menegang sedikit mengendur perlahan Davino membukanya Aresya terhentak panik ingin menutup lagi, tetapi, tangan Davino menahannya di tengah, mengusap dengan lembut ia juga mengalihkan rasa perih itu dengan menikmati bibir Aresya menjajahnya dengan liar, saat Aresya sibuk dengan permainan bibir, ia bena-benar melupakan rasa sakit di bawahnya, membuka kakinya mengusap dengan lembut membiarkan air menyapunya, air hangat dalam bathtud membantu meringkan rasa perih di bagian sensitifnya
Walau ini kedua kalinya mereka melakukannya, tetapi rasa sakitnya masih terasa perih, tetapi kali ini, berangsur pulih, kaki Aresya tidak merapat lagi, ia membiarkan miliknya dijelajahi jari-jari Davino, ia merasa pintu itu berdenyut-denyut lagi.
Davino mengusapnya dan memasukkan satu jari, ia bergerak merespon Davino menambah dua, lalu menekannya dengan lembut dan akhirnya masuk. Aresya tidak merasakan ketakutan lagi. Ritual malam pengantin mereka akhirnya berhasil.
Bersambung