Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Ingin Hamil


Setelah Mereka menjauh Davino dan Aresya masuk ke dalam hutan dan duduk di bawah pohon besar, ia akhirnya mengingat siapa penjahat yang menginginkan dirinya mati.


“Oh aku mengingatnya,” ucap Aresya merogoh ponsel Davino untuk mengabari Ny. Marisa.


Aresya mencoba menyalahkan ponsel milik Davino,  baru menyala sebentar ….


“Eh … eh,  jangan mati dulu,  please” ucap Resya mencoba menekan tombol on, namun ponsel Davino benar-benar kehabisan daya


. “ Eh, sial brengsek! hidupku memang selalu sial,  hidup yang menyebalkan,” umpat Aresya melempar benda berwarna hitam itu  ke depannya, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, kedua kaki duduk bersila seperti seorang pertapa.


Davino melihat wajah putus asa yang ditunjukkan Aresya, wajah yang terlihat  berantakan,  dengan noda  darah memenuhi seluruh wajahnya.


Cairan merah yang mengalir dari hidungnya karena Davino memberinya satu gamparan  keras di bagian wajah,  Aresya tidak memperdulikan wajahnya yang di penuhi noda merah itu,  terlebih di bagian mulut sekilas ia terlihat seperti wanita  vampir yang habis meminum darah, dilihat dari  jarak dekat tampak mengerikan.


“Apa kamu takut?” tanya Davino.


“Hal seperti ini sudah terbiasa  dalam hidupku, dari kecil, aku sudah sering incar, sering hampir mati, aku hanya takut,  apa yang aku lakukan sampai sejauh ini menjadi sia-sia"


'Aku takut anak kamu yang aku kandung terluka, bodoh' Aresya berucap dalam hati.


“Apa yang kamu maksud tentang uang lagi?” tanya Davino mendesis kesal.


“Jangan menilai orang hanya karena  menginginkan uang. Namun,  ada kalanya kamu mencari tahu untuk apa dan apa tujuannya.”


“Hmm … menyedihkan,  kamu juga mengobarkan hidupmu demi uang?” tanya Davino terlihat sepele.


“Kamu kenapa jadi manusia  jadi menyebalkan sih, hidupmu sudah di ambang kematian juga,  masih saja bikin emosi, harusnya aku biarkan kamu mati tadi, "ucap Aresya menatap tajam pada suaminya.


“Lalu kenapa kamu tidak membiarkan aku mati? kamu takut Oma tidak memberimu uang?”


“Iya, kalau kamu mati,  aku tidak bisa memberikan anak untuk keluargamu dan aku juga tidak mendapatkan uang. Puas kamu"


“Kembali, pada uang, uang dan uang, sangat rendah, mana  ada seorang Ibu yang menjual darah dagingnya demi uang” ucap Davino, ia sangat membenci Aresya.


“DENGAR! Davino Erlangga! Kamu harusnya berterimakasih padaku karena aku mau membantu keluargamu untuk melahirkan anak untukmu, kamu pikir ada wanita  yang bisa memberimu anak,  hanya aku yang bisa melahirkan anak untuk keluargamu hanya aku yang bisa melakukan itu, jangan memancingku marah atau aku menarik perjanjianku dengan nenekmu,  maka  berhenti sudah rantai keturunan mu di dunia ini, saat kamu mati dan keluargamu mati maka keluarga Difi ibu tiri yang akan menikmati harta keluargamu yang banyak itu” ucap Aresya menekan kata-kata


"Apa maksudmu? Kamu mengancam aku?  Kamu pikir hanya kamu yang mau melahirkan anakku?”


“Iya, karena hanya aku yang punya gen yang sama dengan keluargamu, gen yang aneh yang di sebut storbit,   di dunia ini hanya  tinggal beberapa orang yang masih bertahan yang lain sudah banyak diincar dan dimusnahkan,  karena dianggap keturunan penyihir dan manusia aneh karena memiliki  kekuatan, seperti aku dan nenekmu, bahkan kamu"


Tiba-tiba Davino menatap dengan serius.


“Apa kamu juga memilikinya dan kamu juga tahu aku memiliki itu?” tanya Davino dengan tatapan mata serius.


“Kamu pikir aku ada bersamamu saat ini, karena apa? aku kenal kekuatanmu”


“Sejak kapan kamu mengetahui yang aku  miliki? Padahal aku sudah sangat lama menyembunyikan kekuatan itu"


“Saat  kebakaran kantor lama,  saat di pabrik, aku pernah tidak sengaja melihat kamu menggunakan kekuatanmu"


“Apaa?”


“Iya, kita  juga tidak akan  bisa memiliki keturunan kalau tidak menikah dengan orang yang sama golongan, walau kamu juga mencoba  banyak cara dengan Kirana dan banyak dengan wanita lain di dunia ini, semua itu  tidak akan berhasil karena  kamu beda golongan dengan merek,” ucap Aresya.


“Apa? benarkah? Aku belum tahu tentang hal itu, oma tidak pernah menceritakannya” ucap Davino ia terlihat sangat bingung. Demi melindungi dirinya Marisa menutupi identitas mereka.


“Karena Nyonya Marisa menganggap mu masih anak belum dewasa,  makanya ia tidak memberitahukan kebenaran itu padamu.”


“He. Dengar! Aku bukan anak-anak”


“Wanita yang menyebalkan, Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu inginkan dari kelurgaku, kamu ingin mengantikan posisi Kirana , maka itu,  kamu memfitnahnya tadi’ Dengar dia bukan wanita  murahan seper-“


“Seperti aku maksudmu,” potong Aresya.


“Tidak boleh seperti itu,  kamu harus menarik kata-kata penghinaan  dan kamu harus meminta maaf” ucap  Davino marah.


“Pertama, saya salah lupakan dengan kata-kataku tentang istrimu, kedua saya tidak pernah menginginkan  posisi Kirana, saya tidak suka menjadi istrimu, aku juga tidak menyukaimu , kamu bukan tipeku”


“Apaaa? Bukan tipemu ...  kamu bilang? Aku ….?” tanya Davino ia tertawa mendengus.


“Bagiku kamu hanya suami diatas kertas dan  bukan tipe yang aku inginkan”


“Kamu wanita pertama yang mengatakan aku bukan tipe pria idaman, apa kamu tidak tahu, kalau aku digilai banyak wanita?”


“Buka matamu! Mereka menginginkan uang dan hartamu,  apa kamu pikir ada wanita yang menyukai lelaki angkuh, sombong, dan mulut ember seperti kamu,” ucap Resya dengan gaya santai.


“Kamu wanita yang menyebalkan,” ucap Davino  kesal.


Tiba-tiba dari kegelapan Aresya melihat cahaya senter,  mendekati mereka dengan cepat ia menyambar ponsel yang di lempar tadi  mengajak Davino menjauh.


Orang yang mengincar Aresya benar-benar bekerja keras, mencari mereka, ia pikir saat ia membawa Davino menjauh dari pemakaman mereka tidak mengejar lagi, ternyata mereka masih di kejar.


Kini mereka berdua terjebak  karena para musuh datang dari  segala arah.


“Kita terjebak,” ucap Aresya matanya menatap kanan –kiri.


“Kita lawan saja,” ucap Davino.


“Jangan,  kamu tidak bisa menggunakannya karena kamu masih terluka,  kita cari jalan aman, tunggu,  kita lakukan ini saja ….”


Di depan mereka,  ada kayu besar yang baru di tebang, Aresya menidurkan Davino, lalu ia menggali tanah dibawa  batang kayu besar, mereka bersembunyi di sana,  Aresya telungkup diatas kedua sakit tangannya menahan beban diatas punggungnya  di bawah tubuh Aresya,  ada Davino


“Mereka kabur kemana, aku melihat  bekas api yang masih baru, mereka tidak jauh dari sini,  temukan wanita itu hidup atau mati.”


Bersambung


Kasih bintang dan bantu review juga, beri komentar dan masukannya iya, baca juga ceritaku yang lain


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)