Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Tiba Di Kota Mati


“Ah, dasar keparat! ini sangat bau, ini membuatku pusing” Dos menarik tamplak meja hotel dan menutup hidungnya.


Kelabang raksasa itu terus saja mengincar Boas


”Kamu sangat berani mahluk busuk, kamu salah tempat,”


Tiba-tiba Dos membaca sebuah mantra dan mengubah dirinya menjadi seekor singa jantan yang bersayap lagi, singa mencakar tubuh mahluk itu dengan cakarnya tajam, saat kelabang ingin menyemburkan racunnya.


Boas memberi perisai pelindung, dan ia menutup tubuh singa dengan perisai berbentuk gelembung yang bisa terbang.


Boas tahu, ia tidak boleh menganggap enteng, karena yang mereka lawan adalah sosok mahluk yang bisa berubah wujud.


Mahluk berwujud kelabang itu semakin murka, ia menyemburkan semua bisanya dan membuat tempat itu jadi kamar yang berbau busuk, berantakan dengan racun yang bisa melelehkan semua benda yang terkena dengan cairan berlendir itu.


Saat Boas ingin menggabungkannya kekuatan batu dengan kekuatannya. Dos melarangnya dengan cara menyambarnya dan membawanya terbang melarikan diri melalui jendela hotel.


“Apa yang kamu lakukan Dos, aku ingin menghancurkannya”


“Jangan lakukan itu Tuan, itulah yang dia inginkan, Iblis itu ingin tahu apa kamu sudah punya batu itu atau tidak, jika dia tahu, Tuan punya dua batu, maka dia akan membawa semua pasukan neraka ke dunia ini, termasuk Sura si Ratu Iblis.


Dunia akan terjadi bencana yang besar”


“Oh … gila. Aku hampir melakukan kesalahan” ujar Dos mengepal tangan.


“Tuan kedua batu di tubuhmu belum menyatu dengan sempurna, menggunakan kekuatannya saat ini, satu kesalahan “


Dos membawa Boas melarikan diri dari makluk yang mengejar mereka.


Boas hampir sama menghilangkan hasil kerja kerasnya, hampir kehilangan batu kristal yang ia dapatkan dengan susah payah itu.


Benar kata para Dewa tanpa Dos, Boas tidak ada apa-apanya, ia terlalu angkuh dan percaya diri.


Melarikan diri ke atas atap sebuah hotel yang sangat tinggi, Makhluk itu ternyata masih mengejar mereka berdua.


“Berikan batu itu dan kami akan melepaskan mu,” ujar gumpalan asap dengan kemarahan. Mereka mengepungnya.


“Batu apa mahluk bau busuk …? apa kamu punya batumu?”


“Dengan susah payah aku mendapatkan batu itu, tetapi dengan seenaknya kamu mencurinya dari ratu, aku akan menghancurkan mu dan dunia ini,”ujar iblis itu dengan marah, ia meminta batu kristal yang di curi Boas.


“Katakan pada ratu mu. Aku mengambil apa yang menjadi hak ku, ratu mu hanya pencuri yang licik”


“Ratu, hanya ingin menggunakan untuk menghidupkan anak-anaknya”


“Aku tidak membiarkan hal itu terjadi”


Boas lagi-lagi terbawa emosi, hal itulah yang bisa menghancurkannya, mahluk itu seolah-olah memanggil Ratu Sura.


Apa yang terjadi di dunia, ternyata dilihat dari istana langit, Para Dewa masih berbaik hagi dengan Boas, karena ketulusan hati Dos, binatang peliharaanya.


“Dewa angin, tolong terbangkan dia ke tempat yang jauh dari sana, sebelum ratu iblis itu datang dari neraka”Ujar Dewa tertinggi.


Saat tubuh mereka terkepung di atas atap, tiba-tiba Dewa Angin membuat angin yang sangat besar, sebuah angin ****** beliung, yang menyapu para mahluk itu, menerbangkan para mahluk itu sampai ke laut, sementara Boas dan Dos di bawa menjauh dari sana, hingga tiba di satu desa di ujung dunia lain.


“Kenapa Dewa membawa kami ke sini, apa batu kristal ada di sini?” tanya Dos dengan polosnya.


“Kalian berdua adalah kesatria, Para Kesatria akan selalu membantu orang yang sengsara”


Dulu saat ia masih seorang raja, ia orang yang sangat rajin memberi persembahan untuk Para Dewa bersama sahabatnya sang penasihat. Karena itulah kerajaannya sangat makmur.


Tetapi saat ini, ia tidak pernah melakukan ritual dan tidak pernah menyembah para Dewa, ia membenci Para Dewa.


“King! Jika kamu melakukan hal yang baik, maka yang baik juga akan menghampirimu,”ujar Dewa angin, dengan ramah.


“Tidak, saya tidak percaya hal seperti itu lagi, terus apa tujuan Dewa membawaku ke tempat ini?” Boas melipat tangannya di dadanya.


“Menyelamatkan batu yang kamu dapatkan dengan susah payah itu, Dewa tertinggi menyuruhku menyelamatkanmu, sebab ratu iblis di pintu neraka sedang murka besar, karena kamu menggagalkan ritual bulan purnama nya, akibatnya, banyak anak-anaknya yang mati”


“Terus apa yang Dewa tertinggi inginkan saya lakukan?”


“Ratu iblis itu, ingin datang ke dunia tadi, Dewa menyuruhku membawamu ke sini”


“Untuk ….?” Kedua alis Boas menyengit tanda tidak senang, ia buka tipe orang yang mau di perintah walau Dewa sekalipun yang menyuruhnya.


“Lihat dan lakukan yang terbaik King, desa ini butuh orang-orang seperti kalian berdua,” ujar Dewa lalu ia meninggalkan mereka berdua yang masih melihat dengan bingung.


“Dewa Angin! jangan pergi dulu, katakan sesuatu, apa yang perlu kami lakukan?”


“Dewa itu berhenti dan Menatap Boas dengan senyuman kecil, lalu ia berkata;


“Aku tahu dalam hatimu, kebaikan itu masih ada King, pergunakanlah itu, setidaknya agar para Dewa kembali berpihak padamu, tidak baik membenci yang memberi kehidupan padamu”


“Iya mereka memberiku kehidupan, tetapi tidak memberiku kematian, apa artinya hidup selamanya di dunia ini kalau hanya kesepian dan dan menderita”


“Kebahagian kamu yang harus mencarinya King, jika kamu terus menutup hatimu, bagaimana kamu akan bahagia, karena pintu kebahagian adalah hati yang senang.


Buka hatimu dan biarkan mereka masuk,” ujar Dewa Angin lalu terbang meninggalkan mereka berdua.


Dos diam, apa yang di katakan Dewa angin benar, ia selalu menutup hatinya dan tidak pernah membuka untuk siapapun.


Ia berbalik badan, “Dos, apa kamu berpikir ada batu ketiga di sini?”


“Saya, tidak yakin Tuan, tetapi Para Dewa ingin kita membantu Warga desa ini dan sepertinya hal itu benar,” ujar Dos melihat desa itu, seperti desa mati itu, sepi, seolah-olah tidak berpenghuni.


Saat mereka berdua sibuk meneliti desa mati itu, mereka menoleh ke belakang sudah ada dua ekor kuda yang mau mereka tunggangi, lengkap dengan tali pelana seperti kuda perang, dan di atas tubuh kuda ada helem perang dan rompi perang juga.


“Ah, Para Dewa ini benar benar menjengkelkan, kalau mereka ingin menolong desa ini, kenapa mereka tidak turun sendiri dan menyelamatkan mereka, aku masih banyak pekerjaan, batu kristal ketiga dan keempat belum aku temukan, apa kalian menyuruh tinggal di dunia ini agar kalian bisa suruh-suruh!” teriak Boas marah, ia mengacungkan pedangnya ke arah langit yang ia tujukan pada Para Dewa.


Tiba-tiba petir menyambar di hadapan mereka, menyebabkan rumput di depan mata terbakar, Dewa api marah.


“Ah, dasar bocah tengik!” Dewa api menyambar kan petir api lagi, di depan mereka.


“Dewa api, hentikan biarkan ia seperti itu,” pinta Dewa tertinggi.


Dengan cepat Dewa air memadamkan api yang membakar rumput di depan Boas.


“Tuan, sepertinya Para Dewa marah karena ucapan Tuan, mari kita lakukan apa yang Dewa suruh,”ujar Dos


Ia adalah orang dan binatang yang sangat menghormati para Dewa, berbeda dengan Boas Egdan, yang bersikap dingin dan acuh pada semua orang, baik pada Dewa sekalipun


Mereka akan menjadi seorang kesatria di desa yang yang sepi itu.


Bersambung ….