Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Aresya Meninggalkannya


Dalam hati,  ia merasa senang karena Aresya melakukanya dengan Davino suaminya, bukan dengan orang lain, tadinya ia berpikir kalau Aresya akan melakukanya dengan Devan, karena ia tahu Devan punya perasaan padanya, maka ia menyuruh lelaki itu untuk menemaninya liburan selama di Singapura. Tapi semua yang ia rencanakan  tidak  sesuai dengan yang terjadi namun ia merasa senang.


*


Davino mengikuti apa yang di katakan oma Marisa, ia  dan Iwan, menunggu   helikopter membawanya ke Jakarta.


Menunggu beberapa jam,  helikopter mendarat di samping hotel membawa terbang meninggalkan Singapura, kota itu akan  mengukir satu kenangan dalam hatinya, kenangan bersama Aresya istri keduanya.


“Apa kamu tahu tadi malam Aresya meninggalkan hotel?” tanya Davino pada Iwan saat  mereka duduk di dalam burung besi itu.


“Saya tidak tahu Pak.” Iwan berbohong atas perintah Nyonya besar.


“Kamu yakin tidak tahu Iwan? Terus siapa yang membawanya pulang,  tidak mungkin dia bisa terbang ke  Jakarta.”


Mata Davino tajam melihat kearah Iwan,  ia tahu mereka hanya mendengar apa kata omanya. Tetapi, ia juga bos ia juga berhak tahu kemana istrinya pergi. Namun percuma ia bertanya, walau seribu kali ia bertanya jawaban mereka pasti tidak tahu, mereka semua orang-orang yang setia pada Ny. Marisa.


Sekitar dua jam perjalanan Davino sudah tiba di rumah yang di Jakarta. Ia berjalan menuju  kamar Ny. Marisa,   berharap ada Aresya di kamar omanya,  tetapi, semuanya  semakin terasa suram.


Omanya tidak ada di kamar, saat menelepon Ny.Marisa hanya bilang,  ia lagi kunjungan bisnis ke luar kota, ia semakin kesal saat semua orang di rumah bilang belum melihat Aresya. Apa yang diperintahkan Nyonya Marisa maka itulah yang akan didengar semua orang di rumah, tidak ada yang mendengar Davino.


*


Sebulan,  sudah berlalu  sejak malam pertama dengan Aresya,  ia sangat merindukan wanita itu,  ia merindukan malam hangat bersama Aresya, malam pertama itu baru hanya sekedar ia resapi, belum ia nikmati sepenuhnya, sisa-sisa kehangatan malam panas itu,  masih terukir nyata dalam benaknya,  ia rindu Aresya, ingin melihat, walau hanya sekedar menyapa, semakin ia memikirkannya semakin besar keinginannya untuk bertemu.


‘Tapi kemana akan ku cari? Aku kehilangan arah, bahkan kehilangan jejakmu, aku ’ harap  kamu baik-baik saja, biar aku tunggu dirimu dengan rinduku, aku berharap kamu datang menyapaku Aresya’ ucap Davino dalam lamunannya.


Namun saat itu Aresya hilang bak di telan bumi, tidak ada kabar, tidak ada berita tentangnya, bahkan omanya ikut menghilang. Davino duduk melamun  di taman, di depan rumahnya, tidak biasanya ia duduk dalam kesendirian, matanya menatap nanar kearah kolam renang di mana seorang  laki-laki, asisten rumah tangga berjibaku membersihkan kolam renang itu.


Sepertinya,  Aresya mengubah dunianya. Dalam satu bulan ia menghabiskan  waktunya, hanya berkerja, ia bertekad pada dirinya kalau ia akan melindungi Aresya dan keluarganya.


Dalam satu bulan saat omahnya menghilang,  ia menggantikannya memimpin perusahaan.


Tetapi anehnya, Kirana terlupakan, sudah hampir dua bulan wanita itu pergi dari rumah , namun  ia tidak menjemput, jangankan menjemput meneleponnya juga tidak ia lakukan,  apa yang diberikan Lilis padanya saat itu … membuatnya terusik.


“Kenapa duduk di sini sendirian?” suara itu mengalihkan pandangannya.


“Papi,  kapan pulang?” tanya Davino, pada sosok lelaki yang menghampirinya, dia adalah Sutomo Erlangga papi dari Davino.


“Sudah dua hari, namun  Papi tidak pernah menemui mu karena kamu terlalu sibuk di kantor.” Ujar lelaki paruh baya itu menatap putranya.


“Iya, karena oma tidak  ada di kantor aku yang menggantikannya, Pi”


“Apa semua baik-baik saja, aku dengar Kirana meninggalkan rumah, sudah dua bulan apa yang terjadi?” tanya Sutomo menjatuhkan panggulnya di samping Davino.


“Biarkan saja Pi, dia mungkin merasa bosan,” jawab Davino dengan tatapan sinis.


“Apa kamu tidak akan menjemputnya  pulang?”


“Tidak usah, Pi  biarkan saja,  ntar juga kalau ia bosan di rumah orang tuanya,  ia pasti akan pulang sendiri,” ucap Davino dangan tatapan acuh seakan tidak peduli pada Kirana.


“Ok , baiklah, tapi … bagaimana dengan Aresya?” tanya Sutomo. Raut wajah Davino langsung berubah terlihat sangat sedih.


“Apa kamu baik-baik saja, Vin?” tanya Papinya dengan tatapan bingung, tadinya ia berpikir kalau Davino akan  mengejek atau menghina,  saat  ia menyinggung tentang Aresya, tetapi, Davino  malah terlihat sedih.


“Aku tidak dalam keadaan baik-baik Pi, aku  kacau,” ucap Davino meremas kepalan tangannya.


“Maksudnya?”


“Orang yang memiliki kelebihan atau Storbit”


Mata Sutoma menatap dengan tatapan serius, ia melihat kanan –kiri seraya berbisik kearah kuping Davino;


“Dari mana kamu tahu itu?”


“Hanya  tahu saja, Pi” jawab Davino tidak ingin menyebut nama Aresya sebagai pelakunya.


“Dengar,  Davino,  jangan sesekali kamu menyebut nama itu, tidak sembarangan  menyebut nama perkumpulan itu.”


“Apa itu sebuah perkumpulan?”


“Kita menyebutnya iya, namun  masyarakat jaman  opa menyebutnya mahluk terkutuk dan keturunan penyihir,  di buru dan  ingin dimusnahkan, karena  dianggap menyebar  ajaran palsu.” Ucap Sutomo seraya berbisik.


“Kenapa?” tanya Davino semakin  penasaran. “Papi,  aku berharap  mau menceritakannya semuanya padaku,  agar aku tahu kita seperti apa sebenarnya,  aku bukan anak kecil lagi seperti dulu,  yang dibohongin dan ditakut-takuti”


“Dengar Vin, kita melakukan itu semua untuk melindungi mu, aku tahu oma sangat menyangimu, itu sebabnya  beliau tidak menceritakan kebenaranya padamu, kami takut  kamu mencari tahu di luar sana, kami hanya ingin kamu hidup dengan normal, seperti orang-orang pada umumnya,” ucap Sutomo masih dengan suara pelan.


“Jadi Papi juga mengetahui semuanya? Papi juga memiliki kekuatan?”


“Davino, jadi begini…. Ok , baiklah kamu sudah dewasa, kamu sudah seharusnya mengetahui semua kebenaranya, Begini Nak,  kita keluarga Erlangga adalah  bagian dari Storbit, mungkin bagi kamu  atau sebagain orag di luar sana, menganggap  semuanya tidak masuk akal , namun, itulah kebenaranya, kita manusia-manusia yang  memiliki kelebihan memiliki kekuatan super, konon katanya nenek moyang kita pada zaman kerajaan  terdahulu.


Diyakini keturunan Dewa yang memili kekuatan supranatural,   ia juga seorang yang dekat dengan  Raja di zamannya.  Karena ia tidak ingin kekuatannya habis termakan usia.  Ia membagi-bagikan kekuatannya pada para murid dan semua penghuni rumahnya. Di beri nama Storbit. Siapa yang menerima kekuatannya akan menurunkan ke anak cucunya dan begitu seterusnya, Namun ia juga meminta pada para murid dan keluarganya,  agar menikah  dengan sesama orang storbit juga. Dengan begitu kekuatan itu akan tetap ada dan kokoh.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)