
PASAR MALAM
Aku teringat memori sewaktu kecil, merengek ingin naik bianglala, komedi putar. Berlalu Merengek hanya karena arum manis. Merengek meminta ini, itu dan akhir semua nya di turuti oleh Ayah dan Ibu.
Dan sepertinya, saat itu aku sedang berada di puncak tertinggi, dari atas kotak bianglala. Dari atas terdengar samar-samar suara hiruk pikuk pasar malam. Gemerlap lampu dan juga orang-orang yang merayap di tanah lapang.
Aku ingat betul, Malam itu, ayah, aku, dan ibu benar-benar merasa satu. Iya, waktu itu aku adalah segalanya. Aku pusat semesta ayah dan ibu,
Aku tak lain ialah putri semata wayangnya.
Menjadi satu-satunya, harta paling berharga milik keluarga.
Seperti yang aku ceritakan di muka,
Itu hanyalah kilasan ingatan aku waktu kecil.
''Eh, '' Pekik seorang wanita yang terkejut, yang tiba-tiba seorang anak kecil bersembunyi di belakang dia berdiri.
''Tante, Tante Papa nakal, Tante. Tolong Dio Tante.'' Teriak anak kecil sambil menangis, dengan bersembunyi di belakang nya. Kedua tangan nya memegang erat kaos oblong yang dia kenakan.
''Dio please, kita pulang, '' Mohon Bian, dengan membawa satu mainan robot milik ponakan nya itu.
''Enggak mau, Dio masih ingin di sini.'' Ucap Dio dengan khas suara anak kecil.
''Dio ingat gak, pesan Bu Dokter cantik. Gak boleh nakal dan harus nurut sama Papa.''
''Huaaaa aku tetap gak mau Pa, di sini sebentar lagi, huaaa a.'' Dio menangis histeris, membuat orang-orang di sekitar nya melihat ke arah nya dengan berbisik-bisik.
''Eh Mas, Mba, gak kasian sama putra nya yang sejak tadi menangis terus.'' Tanya salah satu ibu-ibu yang menggendong anak kecil juga.
Bian dengan gadis itu saling bersetatap muka beberapa waktu.
Gadis itu menghela nafas panjang, sebelum membuka suara nya. ''Maaf ya, semua nya, kalau aku ini bukan Mama nya anak kecil ini.'' Tunjuk gadis itu kepada Dio yang masih menangis di belakang nya saat ini.
Gadis itu menarik anak kecil itu keluar dari belakang nya, kemudian gadis itu berjongkok menjajarkan tinggi badan nya bersama dengan anak kecil itu.'' Hai tampan, kenapa menangis hmm.'' Tanya gadis itu dengan nada lembut. Satu tangan nya bergerak menghapus air mata di kedua pipi nya yang tembem.
''Papa nakal Tante, Papa nakal Tante.'' Adu nya yang masih menangis.
''Nakal nya Papa kenapa sayang, ?'' Bujuk gadis itu lagi.
''Nama mu Dio ya, ?''
Dio mengangguk, ''Iya tante. '' Jawab nya khas anak kecil sedikit cadel.
''Oh, gitu ya. Memang nya Dio mau main apa biar Tante temani.''
''Benaran Tante, Dio mau naik kuda Tante, naik kuda.'' Jawab Dio sangat antusias.
''Kuda, ''Bingung gadis itu.
''Iya Tante, kuda putar-putar itu loh Tante.'' Tunjuk Dio, dengan menarik tangan gadis itu.
''Baiklah, kita naik berdua.''
...****************...
MEJA MAKAN
''Mas, '' Bisik Yolla.
Hmmm, ''Ada apa, ?'' Balas Arka juga berbisik.
Yolla melihat satu persatu menu makan malam yang sudah tersaji di meja makan. Menu makan malam ini, yang Yolla tau menu ala restoran mewah. Seperti Ayam Saus Lada Hitam, Steak Daging, Capcay Seafood, dan masih ada masakan cumi-cumi, dan juga udang.
''Gak ada apa-apa.'' Jawab Yolla, yang tak enak bilang jika menu makan malam ini kurang dia sukai.
''Sayang, kamu mau makan apa, ?'' Tanya Mama Dania. Yang merasa heran melihat Yolla sedikit kebingungan memilih menu makan malam nya. ''Steak Daging, dulu kamu suka banget dengan masakan itu.'' Ucap Mama Dania yang ingin mengambilkan untuk Yolla.
''Tidak Ma, Aku, aku mau makan Capcay Seafood aja, Ma. '' Tolak Yolla.
Penolakan Yolla membuat Mama Dania sedikit murung, membuat Yolla sedikit tak enak hati. ''Bukan Yolla tak mau Ma, Yolla hanya sedang menghindari masakan dari daging aja, gak lebih.'' Jelas Yolla.
''Kalau gitu, masakan Capcay Seafood hanya untuk kamu aja, sayang.''
''Iya Ma, '' Jawab Yolla, Yolla bernafas lega ketika alasan nya tidak di pertanyakan lagi. Steak Daging, cara masakannya hanya setengah matang, dan itu tidak boleh di konsumsi oleh ibu hamil. Kalau ingin memakan Steak Daging, cara masakan nya harus matang dengan sempurna.