
Yolla bergerak pelan mencari kehangatan, menenggelamkan wajah nya ke dalam pelukan yang aroma sangat dia sukai dan juga menenangkan.
Memeluk erat sesuatu yang berada di samping nya. Dengan mata masih terpejam dengan sempurna.
Pagi sudah datang, hawa dingin terasa menyerang di kulit putih Yolla.
Jam dinding berkali-kali berdentang, sinar matahari mulai bersinar terang masuk kedalam kamar milik Yolla melalui celah-celah gorden yang tidak tertutup dengan sempurna.
Entah kenapa hari ini aku masih betah di atas tempat tidur ku. Pagi yang dingin membuat ku malas untuk keluar dari hangat nya selimut yang menggulung tubuh ku.
Pagi yang dingin membuatku engan pergi ke dapur, badahal hari ini dia tau kalau dia akan pergi ke Rumah Sakit rutintas setiap pagi ku.
''Kenapa pagi ini begitu nyaman tidur di atas empuk kasur nya. '' Pikir Yolla mulai merasa aneh.
Tunggu.
Kenapa berdetak.
Ini, ini bu bukan guling ku.
Aroma ini, aroma yang telah menghabiskan siang ini bersama nya.
''Arka, '' Lirih nya tanpa bersuara.
Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Untuk memastikan lagi penglihatan nya pagi ini.
Dengan lembut jemari Yolla mengabsen seluruh wajah tampan suami nya itu, yang hanya sejengkal dari wajah nya.
Dari mata, turun ke hidung dan berakhir pada bibir seksi milik suami nya.
Glek, Yolla menelan saliva nya sendiri. Ketika mengusap lembut bibir milik suami nya itu.
''Kenapa hanya memandangi dan menyentuh dengan jemari mu sayang. ? Apa kamu tidak ingin merasakan manis dan hangat nya bibir ku di pagi dingin ini. ?'' Menaik turunkan alis nya.
''Kapan kamu pulang. ?'' Tanya Yolla, mengalihkan tanya jawab yang berakhir berbagi keringat.
Bukan nya dia lagi kesal dengan Arka, suami nya itu. Yolla menyingkirkan tangan Arka yang berada pinggang nya.
''Hah, dia menghindar, '' Pikir Arka.
''Bisakah kita bicara dulu sebelum turun, sayang. '' Harap Arka. Dengan menggenggam erat pergelangan tangan istri nya itu.
Sikap istri nya kini mengingatkan dia pada masa lalu. Dan Arka tidak membiarkan hal itu terjadi kembali. Sudah cukup dia kehilangan arah selama empat tahun tanpa Yolla di sisi nya.
''Apa yang membuat mu berubah sikap. ?'' Tanya Arka, dengan memposisikan untuk ikut duduk.
''Sikap yang mana. ?'' Suara Yolla terasa dingin di indra pendengaran Arka.
''Sikap dingin mu, '' Gumam Arka, sedangkan Yolla masih bisa mendengar nya.
''Apa kamu marah, semalam aku tidak bisa tidur di sini. ?''
''Ya, '' Dengan kepala menggeleng.
''Jawaban mu berbeda. '' Tegur Arka dengan menahan senyum.
''Apa kamu marah, semalam aku tidak bisa tidur di sini. ?'' Ulang Arka lagi. ''Kalau memang iya, dengerin dulu alasan ku, sayang. Aku hanya tidak ingin ke salah pahaman ini terus berlanjut.''
''Apa alasan kamu. ?''
Arka berubah menjadi sendu. ''Mama semalam masuk ke ruang ICU.''
Seketika Yolla menoleh ke arah suami nya, yang terlihat mendung wajah nya.
''Kenapa kamu tidak memberitahu ku. ?'' Menggenggam erat tangan suami nya, menyalurkan rasa kuat sebagai bentuk dukungan.
''Aku belum sempat memberitahu mu, apa lagi kemarin kamu bertemu dengan Reno model sialan itu. ?'' Geram Arka, saat mengingat kemarin siang.
''Kita kebetulan bertemu, karena Rano salah satu dari Donatur aktif di Panti.'' Jelas Yolla,
''Sering-sering bertemu, masih bisa menimbulkan ke nyamanan, sayang.''
Yolla menggeleng pelan, ''Jangan berlebihan. ''
''Aku serius, awal dari perselingkuhan itu terjadi karena kenyamanan dan terus berlanjut. ''
''Iya terserah Mas Arka aja, lalu bagaimana dengan kondisi Mama sekarang ini. ?''
''Mama selalu mengigau nama mu, dan kemungkinan besar Mama kita perlu berbicara dengan mu. '' Memeluk pinggang Yolla dari belakang, dengan dagu berada di ceruk leher Yolla istri nya itu.
''Kamu yakin, ?''
''Yakin, ''
''Jam makan siang, aku akan menemui Mama kamu. ''
''Hmm" Jawab Arka yang masih asik mengendusi leher sang istri.
"Mau mandi?? Nanti aku siapin air hangat nya." Tawar Yolla sambil melepaskan pelukan suami nya.
''Nanti sayang, masih dingin. Kalau mandi berdua aku mau mandi sekarang.'' Tangan Arka mulai menjalar naik ke atas.
''Itu sih mau kamu, '' Sahut Yolla.
''Mas, ''
''Hmm, ''
''Geli, jangan aneh-aneh. '' Mencegah tangan Arka mulai merem@s.
''Apa semalam kamu menangis. ? Kalau iya, apa itu gara-gara aku, hmm.? '' Bisik Arka, dengan tangan mulai bergerak lagi.
''Stop, Mas. ''
''Milik ku sudah on, Yolla sayang ku '' Arka sedikit kesal, karena kegiatan nya di ganggu.
''Aku tidak membangunkan nya, Mas Arka '' Bela Yolla.
''Satu ronde deh, janji. ''Mohon Arka. Membuat Yolla tak tega dan langsung di jawab dari anggukan kepala nya.