Mantan Suami

Mantan Suami
# 69


SIANG HARI NYA.


''Akhir nya, sudah selesai juga tugas ku.'' Gumam Yolla, dengan menghembuskan nafas lega.


Profesor Herman terkekeh geli, ketika mendengar keluhan dari anak didik nya itu. ''Kenapa, ? Gak seperti biasa nya kamu mengeluh.'' Heran Prof Herman. Yang saat ini berada di lorong rawat inap pasien.


Yolla tersenyum kaku, ''Terlalu keras ya, Prof.''


Prof Herman tersenyum sebagai jawaban nya.


''Apa kamu sudah tau, ? Kalau Nyonya Dania semalam masuk ke ruang ICU.''


Yolla mengangguk, ''Baru tau tadi pagi, Prof. ''


''Setelah makan siang, aku berniat menjenguk nya. '' Ucap Yolla, dengan menghentikan langkah nya bersamaan dengan Prof Herman. Sebab, mereka berdua sudah tiba di ruang pribadi Profesor Herman.


''Itu harus, bagaimana pun dia Mama kamu juga?'' Balas Prof Herman.


''Aku masuk dulu, Dokter Yolla.'' Ucap Profesor Herman berlalu masuk ke dalam ruangan nya.


''Silahkan Prof, ''


...****************...


Langkah kaki Yolla menyusuri lorong Rumah Sakit ini, yang hendak menuju ruangan pribadi suami nya itu. Karena tadi pagi suami nya itu sudah berpesan untuk makan siang bersama.


Karena suami nya itu pemilik Rumah Sakit ini, wajar bukan kalau ruangan pribadi suami nya itu berbeda lorong dengan Profesor Herman tadi.


Ceklek


''Maaf mengganggu, kalau gitu saya keluar dulu.''


Brak


''Sialan,'' Geram Yolla, dengan sengaja menutup pintu nya sedikit bersuara.


''Apa dia berniat berselingkuh lagi. ?'' Gerutu nya, sambil berjalan menuju kantin.


''Aku tidak mau yang ini, aku mau minum jus itu.'' Rengek seorang anak kecil pada seorang kaki-laki dewasa.


''Kan baru sembuh, nanti Dio bisa sakit lagi.'' Beritahu laki-laki dewasa tersebut. ''Apa lagi ini masih dingin,? Nanti aja ya, minum nya.'' Bujuk nya lagi laki-laki tersebut.


Hua huaaa....


''Dio sayang, jangan menangis ok. '' Ucap laki-laki itu yang terlihat panik.


Ehem


''Bagaimana kalau ikut tante, kita beli nya di luar. ?'' Ajak Yolla, saat dia masih mengingat siapa anak kecil yang sedikit rewel itu.?


''Yolla, eh Dokter Yolla. Kamu kok ada di sini. ?''


Yolla tersenyum, ''Niat ku tadi mau makan siang, dan tak sengaja melihat Dio yang sedang mensngis.''


''Oh, '' Mengangguk paham.


''Bagaimana,.? Mau gak. ?'' Tanya Yolla lagi.


''Mau tante. ''


''Ok, '' Menggandeng tangan kecil itu keluar dari area Rumah Sakit.


''Kita cari rumah makan di dekat sini aja, gak apa-apa kan. ?'' Tanya Yolla pada Bian.


''Tidak masalah untuk ku, lalu, bagaimana dengan kamu. ? Apa kamu mau makan selain di Restoran atau Caffe. ?'' Tanya Bian ragu-ragu.


''Aku sering sekali, makan-makanan di pinggir jalan. Jadi kamu tidak perlu khawatir kalau aku tidak suka, karena paling enak menurut ku masakan pedagang kali lima, yang sangat berbeda dari yang lain.'' Puji Yolla.


Dret


Dret


Bian melirik sekilas sumber suara ponsel yang bergetar.''Angkat dulu telepon nya, biar Dio aku yang gendong.'' Usul Bian, karena ponsel milik mantan pacar nya itu selalu berbunyi dan bergetar.


...****************...


''Siapa tadi yang masuk. ?'' Tanya Maya, dengan menjauh dari Arka berdiri.


''Biar aku cek dulu, ''


''Tidak perlu Maya, biar aku saja yang mengejar nya.'' Cegah Arka.


''Baiklah, ''


Arka keluar dari ruangan nya sedikit berlari, berlari kecil menuju kantin. Karena Arka berpikir, kalau Yolla istri nya itu akan pergi ke kantin buat makan siang sebelum menjenguk Mama nya.


''Tidak ada,'' Lirih nya dan berlalu menghubungi istri nya melalui ponsel nya.


''Angkat Yolla, angkat. '' Gumam Arka mulai khawatir. ''Jangan sampai Yolla berpikir yang aneh-aneh, apa lagi tadi istri nya hanya melihat punggung Maya, dari arah belakang yang saat Maya sedang memeluk nya.'' Pikir Arka cemas.


Arka kembali menekan tombol hijau pada layar canggih nya.


''Iya hallo, '' Jawab Yolla dari seberang, membuat Arka bernafas lega saat mendengar suara istri nya dengan nada biasa.


Arka yang hendak bersuara, kini terhenti yang tiba-tiba mendengar.


''Kamu mau pesan apa, ?'' Tanya Bian.


''Samain aja, '' Jawab Yolla.


''Minum nya,?'' Tanya Bian lagi.


''Jeruk hangat aja, ''


''Tante, tante. ''


''Iya, ''


''Aku mau minum jus seperti tadi, '' Rengek Dio, yang kini baru berusia tiga tahun lebih beberapa bulan, mungkin.


''Sudah di pesankan sayang, tunggu sebentar lagi ya.'' Ucap Yolla.


''Kamu ada di mana. ?'' Tanya Arka dingin.


''Makan siang di luar, Mas. Sebentar lagi aku akan kembali menjenguk Mama Dania.''


''Aku tutup dulu ya, soal nya sudah datang makan siang nya.''


Tut


''Yolla, '' Geram Arka tertahan, rasa nya dia ingin sekali melempar ponsel nya jika tak mengingat harganya.