
Seusai berganti pakaian, Yolla segera melangkah turun ke bawah, untuk sarapan pagi.
''Pagi Nyonya, ''Sapa pelayan yang sedang membawa bubur ayam ke atas meja. Bubur Ayam yang di pesan oleh tuan Arka semalam melalui Pak Lukman.
Sapaan dari pelayan membuat Yolla terkejut, ''Eh, Bibi masak apa . ?'' Tanya Yolla seraya duduk.
''Pagi ini, bibi membuat bubur ayam untuk Nyonya. ''
''Ih, jangan panggil Nyonya deh Bi, panggil aja Yolla lebih akrab.'' Tolak Yolla tersenyum.
''Jangan Nyonya, nanti tuan Arka bisa marah. '' Tolak Bibi.
''Kalau gitu, panggil aja Nona. '' Saran Yolla lagi
''Baiklah, Nona Yolla. ''
''Nah gitu kan, tidak terlalu gimana gitu.?''
''Iya Non, di cobain dulu bubur nya Non. '' Jawab Bibi.
Yolla mengangguk sambil menyendok bubur di depan nya saat ini.
Yolla memelan kunyahan nya sambil merasakan bubur buatan Bibi nya itu. ''Enak Bi, Bibi pintar memasak ternyata. '' Puji Yolla memakan bubur tersebut.
''Bibi tau aja, lidah Yolla yang kurang enak buat makan, kini di buatkan bubur ayam. '' Lanjut Yolla senang.
''Oh ini Non, semalam Tuan Arka berpesan pada Pak Lukman. Kalau besok pagi Non Yolla di buatkan bubur ayam, dan tuan bilang juga kalau Non Yolla kurang enak badan semalam. '' Jelas Bibi tersebut.
''Mas Arka, '' Batin Yolla tersenyum.
''Memang nya Non Yolla semalam sakit apa. ?'' Tanya Bibi terlihat sedikit khawatir.
Yolla berpikir sejenak, dan membayangkan kejadian semalam di balik kamar jenazah itu.
''Non, '' Panggil Bibi dengan menyentuh tangan nya.
''Eh, ya Bi. ''
''Memang nya Non Yolla semalam sakit apa. ?'' Ulang Bibi lagi.
Yolla tersenyum, ''Aku semalam hanya kecapekan Bi, jangan khawatir.''
''syukur lah, Non Yolla tak apa-apa? Kalau gitu aku permisi dulu ke dapur Non. '' Pamit Bibi, mulai pergi menjauh dari meja makan.
''Pagi Pa, Ma. '' Sapa Arka berlalu duduk di tempat semesti nya.
''Pagi, '' Jawab Mama Dania dengan Papa Bagio.
''Semalam pulang jam berapa, ?'' Kali ini Papa Bagio yang bertanya.
''Sangat larut Pa, soal nya semalam mampir dulu ke ruang jenazah. '' Sindir Arka seraya menatap ke arah Mama nya.
Uhuk
Uhuk
''Minum dulu Ma, '' Ucap Papa Bagio menyodorkan segelas air putih.
Dengan gerakan cepat, Mama Dania menerima segelas air putih itu dari sang suami. Dan meneguknya tanpa tersisa. ''Apa maksud omongan Arka tadi, kamar jenazah, jangan bilang. ?'' Pikir Mama Dania kalut.
Dan tak sengaja kedua mata Mama Dania dengan Arka saling bertemu. Saling menatap satu sama lain beberapa waktu.
Entah, di balik sorot mata kedua nya. Ada arti yang berbeda-beda dan hanya mereka berdua yang tau.
"Ma, " Panggil Arka.
"Oh iya Arka, tadi pagi kita berdua, habis menjenguk kakak mu loh. " Potong Papa Bagio dengan memberitahu. Dengan sesekali meminum kopi setelah bersarapan.
Begitu pun dengan Arka, karena hari ini hari weekend, kini keluarga Arka di isi dengan berkumpul dengan keluarga.
''Kemarin Arka juga dari sana. '' Jawab nya.
Papa Bagio mengangguk, "Hmmm kapan kamu menikah lagi Arka. ? Papa ini semakin hari semakin tua loh. " Ucap Papa Bagio sedikit mendesak. "Bahkan semua teman Papa sudah pada punya cucu, dan hanya Papa sendiri yang belom. " Lanjut Papa Bagio lagi.
"Sebentar lagi, " Ucap Arka tanpa sadar.
"Manikah nya, atau cucu nya." Canda Papa Bagio.
"Cucu nya, uups. " Arka menutup mulut nya cepat dengan telapak tangan nya. "Sialan, pakai keceplosan. . "
"Apa maksud mu, Arka. ?" Kini Mama Dania angkat bicara.
"Tidak apa-apa Ma, hanya asal ngomong aja. ?" Jawab Arka setenang mungkin, jangan sampai Mama nya curiga dengan nya nanti.
Mama Dania menatap Putra nya begitu intens, mencari sesuatu dari raut wajah putra nya. Dan sial nya dia tak menemukan sesuatu dari situ.