Mantan Suami

Mantan Suami
# 83


''Jangan kayak anak kecil deh kalian, merebutan tempat duduk.'' Sindiran Bian, menatap bergantian mereka berdua yang sedang berdebat.


Yang Yolla ingin duduk di kursi satu meja dengan nya. Sedangkan laki-laki yang berdiri di samping Yolla ingin duduk di mana meja awal mereka datang.


Arka mendengus kecil, ''Aku tidak seperti anak kecil, aku yang tak suka kalau istri ku duduk bersama dengan laki-laki lain.''


Yolla menoleh cepat ke arah Suami nya, dengan mata tajam nya.


''Kalau ngomong jangan_______''


''Jangan apa, memang itu kenyataan nya.'' Potong Arka cepat.


Yolla menggeleng lemah, gak habis pikir dengan cara berpikir suami nya itu.


Dia cemburu, ketika aku duduk bersama dengan laki-laki lain. Sedangkan dia duduk dengan wanita lain bersuap-suapan di depan mata ku langsung. Namun dia tidak merasa bersalah sedikit pun terhadap ku.


Satu kata untuk kamu Mas, kamu sungguh egois.


''Ayo duduk, Bu Dokter,'' Ajak Dio.


Sedangkan Bian, masih bingung dengan kalimat yang di lontarkan oleh laki-laki di samping Yolla itu.


''Kau mengabaikan putra ku, Dokter Yolla.'' Ucap Bian sedikit keras.


Yolla yang sedang sibuk dengan pikiran nya sendiri, membuat dia terkejut ketika mendengar suara Bian memanggil nya dengan sedikit keras.


''Hah, iya, ada apa.?'' Bingung Yolla, menatap lurus ke arah Bian.


''Dio menyuruh mu duduk.'' Beritahu Bian, apa yang di ucapkan oleh ponakan nya itu tadi.


Yolla bergerak ingin duduk, menarik kursi untuk dia tempati.


Namun, pergerakan nya terhenti, ketika ada satu tangan kembali mencegah nya.


Yolla memejamkan kedua mata nya beberapa waktu. Untuk meredam emosi nya yang kini mulai tersulut dengan tindakkan suami nya sendiri.


''Mengalah lah dengan anak kecil, Mas Arka.'' Ucap Yolla dengan suara rendah. Tanpa ingin menatap ke arah suami nya yang sangat terlihat menahan cemburu nya.


''Ini belum seberapa, setelah apa yang Mas Arka lakukan dengan Maya beberapa menit yang lalu.'' Batin Yolla.


''Aku tak suka, kalau kamu_____''


''Pergilah, Maya sedang menunggu mu.'' Sahut Yolla cepat.


''Maya, '' Ulang Arka.


''Iya, bukan nya kamu datang kesini ingin makan malam bersama sahabat lama mu yang tak lama berjumpa itu.'' Sinis Yolla.


''Kalian berdua ini sepasang kekasih atau sepasang suami istri. Kalau kalian ingin melanjutkan keributan ini, saya ingatkan. Jangan di tempat umum seperti,, yang akan mengganggu pengunjung lain nya atau menjadi tontonan gratis bagi pengunjung.''


Yolla dan Arka mengikuti arah pandang Bian, yang menuju anak kecil yang sibuk dengan makanan nya sendiri.


''Ok, aku ngalah kali ini.'' Balik badan dan pergi dari hadapan mereka berdua.


Dengan langkah lebar, Arka menuju meja yang masih ada Maya duduk di sana. Mengabaikan orang-orang yang berada di sekitar nya yang sedang bergosip tentang nya.


Emosi nya tengah meletup, di antara langkah kaki nya pergi menjauh. Dengan wajah memerah akibat menahan Amarah di dalam hati nya karena terbakar cemburu.


Meraih kunci mobil di atas meja, berlalu pergi begitu saja, tak menghiraukan panggilan dari Maya.


Yolla yang mengetahui pergi nya Arka dari Cafe tersebut hanya diam tak ingin ikut mengejar, seperti yang di lakukan oleh Maya.


''Kau tak ingin mengejar nya,?''


''.... ''


''Aku tau, kalian berdua memiliki hubungan yang lebih, selain hubungan kerja sebagai seorang Dokter.''


''Kejarlah, mungkin laki-laki itu kurang peka apa yang kamu rasakan. Karena tidak semua laki-laki bisa mengerti, bagaimana ke inginkan seorang wanita. Coba kamu berbicara dengan dia hati dari hati, apa yang kamu rasakan, ? Apa yang kamu mau, ?Utarakan secara pelan-pelan dengan hati yang dingin.''


''Ada hal yang tak bisa dipendam, yaitu rasa amarah yang teramat.''


''Amarah tetanam karena tak suka, milik nya diganggu oleh orang lain.''


''Semakin menjadi ketika berulang kembali.''


''Kumpulan marah sangat berbahaya, karena logika tak lagi akan bekerja.


Semua akan dilakukan, demi luapnya amarah di dada.'' Bian.


Yolla menjawab nya, ''Ada hal yang harus kita ingat, kita ini manusia.''


''Api itu mulai membara, seiring kayu yang semakin ditebar.


Panas atmosfer dan perasaan


berkecamuk hebat dalam dada ku.''


''Rasa panas itu kian menjadi, semakin besar dan besar lagi. Disirami garam dan minyak bumi meluluh lantahkan segala rasa ini.''


...****************...


...****************...


Kalau Mantan Suami belum up, mungkin di sebelah, Bukan Suami Pengganti sudah up.


Sebab, othor nulis nya bergantian. 💋💋💋