Mantan Suami

Mantan Suami
# 71


'Wajar dong, Yolla kan memang cantik.'' Sahut Om Herman yang baru datang.


''Siang Prof,'' Sapa Dokter yang baru keluar dari ruang ICU.


''Siang juga. '' Jawab Om Herman dengan tersenyum manis.


Arka dengan Papa Bagio menatap Om Herman dengan sorot mata berbeda-beda arti.


''Sok ganteng,'' Sinis Arka.


Om Herman terkekeh geli, mendengar pujian dari ponakan nya itu.


''Aku saja nih yah, seandainya usia ku masih muda. Aku pepet terus tuh dia biar gak di tikung di pertiga jalan menuju kesini.'' Lanjut Om Herman, melirik sekilas ke arah ponakan nya itu.


''Masih berani nongol di depan aku, hah.'' Seru Papa Bagio.


''Eh, kakak ku yang tampan nan kaya. Sebenar nya aku tidak berani nongol di depan kakak ku sih, setelah bikin kedua pipi ku ini lebam-lebam kemarin.''Adu Om Herman, dengan muka sedih yang di buat-buat. Di tambah satu tangan menyentuh salah satu pipi nya.


''Karena aku ini Profesor yang prefisional dalam bekerja. Mau tidak mau harus datang keruang ICU ada pasien ku di dalam sana. Meskipun harus melewati harimau yang ingin menerkam ku hidup-hidup. Apa lagi yang kecil,? Di tinggal sang istri makan berdua-duaan suap-suapan di antara mereka ada anak kecil.'' Ucap Om Herman dengan berlebih-lebihan sambil membayangkan apa yang tadi dia lihat.


''Keluarga kecil yang bahagia.'' Lanjut Om Herman lagi, dengan tersenyum manis.


Arka mendengar komporan dari Om Herman, kini hati nya berkobar ingin membakar Om Herman yang selalu bikin kacau hati nya dari mulut lemes nya itu.


''Kau_______'' Geram Arka.


''Sebentar, sebentar pasien ku saat ini sangat membutuhkan aku.'' Potong Om Herman berlalu pergi dari hadapan bapak dan anak yang menatap nya begitu tajam.


...****************...


Brak, suara bingkisan yang berisi buah-buahan terjatuh. Setelah di tabrak seorang wanita yang tiba-tiba berbalik badan.


''Hati-hati mbak kalau jalan, '' Tegur Yolla seraya mengambil bingkisan milik nya yang terjatuh di atas lantai.


''Maaf, maaf aku tak sengaja, biar aku ambil kan saja.'' Mencegah tangan Yolla yang hendak mengambil bingkisan yang berisi buah-buahan di atas lantai.


''Ini bingkisan mu, sekali lagi aku______''


DEG


''Yolla,'' Gumam Maya?,


Yolla menatap intens wanita yang sedang menabrak nya itu.


Yolla menoleh ke arah suami nya sebentar, dan beralih ke wanita di depan nya lagi.


''Sekali lagi maaf, kalau begitu aku permisi dulu.'' Menyerahkan bingkisan buah di tangan Yolla dan pergi begitu saja tanpa melihat ke arah belakang.


''Yah, gak apa-apa.'' Lirih Yolla terbata.


''Aneh, '' Ucap Yolla, melihat punggung wanita itu yang pergi menjauh sedikit terburu-buru.


''Siapa yang aneh, hmmm.'' Mengecup kening istri nya, membuat Yolla terkejut.


''Apaan sih, ?'' Ketus Yolla, berjalan menuju Papa Bagio duduk.


''Sayang,'' Panggil Arka, mengikuti langkah kaki istri nya itu.


''Siang Pa, eh Tuan.'' Sapa Yolla mencium punggung tangan Papa Bagio.


''Siang juga nak Yolla,'' Balas Papa Bagio. ''Jangan panggil Tuan, panggil saja Papa.'' Pinta nya.


''Tapi______''


''Gak ada tapi-tapian. '' Tersenyum hangat pada menantu nya itu.


''Bagaimana dengan kabar kamu. ?'' Tanya Papa Bagio.


''Kabar Yolla baik, Pa.'' Jawab Yolla jujur.


''Syukur lah, Nak Yolla sedikit gemukkan ya.?'' Tanya Papa Bagio lagi, dengan melihat penampilan menantu nya itu dari atas sampai bawah.


''Pa, '' Tegur Arka.


''Aku tidak suka Papa berbicara seperti itu.'' Kesal Arka. ''Ingat dia itu is______''


''Memang nya ada apa dengan ku.?'' menatap tajam pada suami nya itu.


''Tidak ada apa-apa,? Bukan nya kesini mau menjenguk Mama.?'' Mengalihkan pembicaraan.


Yolla mendengus kesal, sebelum tersenyum pada Papa mertua nya.


''Tentu, kalau begitu aku masuk dulu, Pa.'' Pamit Yolla dan di angguki oleh Papa Bagio.